Archive for the ‘serius(kah)?’ Category

Tidak ada yang kebetulan

October 21, 2014

Katanya, semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah tertulis sebelumnya. Dari hal yang besar sampai dengan detail. Sampai apa yang terjadi di tiap-tiap detik pun sudah sangat jelas.

Dari hal itu saya coba menerka, lalu memberanikan bertanya pada diri sendiri: apa ya yang akan terjadi pada kehidupan saya 5 atau 10 tahun mendatang?

Ini bukan pertanyaan iseng. Bukan. Ini pertanyaan serius. Bukan tanpa maksud apa-apa saya bertanya hal seperti ini pada diri sendiri. Karena orang-orang yang saya temui akhir-akhir ini luar biasa.

Supervisor saya, misalnya. Dia adalah menusia yang dermawannya luar biasa. Dia juga mengajari saya bagaimana mengelola anak buah. Dia benar-benar luar biasa di usia yang lebih muda dengan saya.

Yang selanjutnya, Pimpinan di kantor tempat saya bekerja. Beliau ini orangnya juga luar biasa. Ide-ide segar selalu beliau munculkan. Beliau memotivasi orang-orang yang didekatnya untuk berbuat lebih banyak bagi diri dan lingkungannya. Satu hal yang membuat saya kagum adalah jiwa visionernya. Unstoppable. Luar biasa!

Yang selanjutnya, ia adalah seorang perempuan. Yang darinya saya belajar banyak hal. Tentang cinta, kesabaran dan kesetiaan.

Bertemu mereka bukanlah kebetulan. Banyak hal yang bisa saya pelajari. Banyak hikmah yang bisa dipetik. Banyak cerita yang terjadi. Dan ini membuat banyak pertanyaan bermunculan di dada saya.

Apa ya yang akan terjadi pada kehidupan saya 5 atau 10 tahun mendatang?

Apa yang sebenarnya Tuhan inginkan dari saya, dengan mempertemukan saya dan mereka?

Sudah tua

March 15, 2013

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan kawan lama. Kawan kuliah. Kawan seperjuangan.

Obrolan itu seru meski berlangsung via handphone. Satu orang teman saya menyapa dengan sms. Sedangkan, kawan yang satu lagi menyapa lewat whatsapp.

Sebagaimana orang yang sudah lama tidak bertemu, kami saling bertanya kabar. Sekarang kerja dimana. Dan, anaknya berapa. Sungguh klise pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, entah mengapa pertanyaan itu selalu menjadi andalan ketika bertemu kawan lama. 🙂

Setelah beberapa saat mengobrol, saya baru menyadari, ada sesuatu yang berbeda. Dulu, mereka menyapa saya dengan nama panggilan. Men. Man. Bro. Atau, panggilan akrab yang lain. Sekarang, mereka memanggil saya: Mas. Entahlah, ini kemajuan atau apa? Di satu sisi saya merasa dihormati. Sangat. Tapi, disisi yang lain saya merasa kehilangan teman saya yang dulu.

Saya jadi kangen “Teman Saya Yang Dulu”. “Teman Saya Yang sekarang” tidak asik. Sesuatu telah merampas “Teman Saya Yang Dulu” dari dunia saya. Atau mungkin, karena mereka sekarang sudah jauh lebih dewasa (baca: tua). Sehingga, bahasa dan gaya mereka pun mulai tua. Mengikuti pakem yang selama ini dipakai oleh orang-orang tua. Dan, ini membuat mereka menjadi orang lain di mata saya. Entahlah…

Mungkinkah, saya yang lambat menyadari bahwa saya juga sudah mulai tua?

*i miss you friends.. i miss the old of you.

Menunggu Terbit

April 29, 2012

Dulu, awal bulan adalah waktu yang saya tunggu-tunggu. Awal bulan adalah waktu yang istimewa dalam hidup saya. Ini bukan tentang gajian lho.. Bukan. Tetapi tentang tulisan. Ya. Saat itu, tulisan saya -hasil comatcomot- masih “laku”. Sehingga tulisan saya dimuat di sebuah majalah.

Majalah itu oplahnya masih terbatas. Persebarannya pun belum merata di Indonesia. Maklum, majalah baru.

Meski belum banyak yang membaca majalah itu, saya selalu antusias jika majalah itu terbit. Alasannya, saya kepengen melihat tulisan saya setelah keluar dari meja editor jadi seperti apa. Ya. Sesederhana itu. Jujur, melihat tulisan saya menghiasi majalah itu membuat saya bahagia. Begitulah. Ternyata, ada hal-hal sepele yang bisa membuat kita bahagia.

Awal bulan ini, saya juga sedang menunggu terbitnya sebuah tulisan. Kali ini bukan di majalah. Tapi, berupa buku. Buku yang ditulis beramai-ramai dan diterbitkan oleh penerbit Gradien Mediatama.

Kalo dulu, saya menulis menggunakan data-data. Sekarang, saya mengandalkan imajinasi. Sungguh bertolak belakang. Meski begitu, keduanya punya kesamaan. Sama-sama membuat saya dag-dig-dug ketika menunggu terbit.

Ini bocoran covernya..

KKMlengkap

 

Info tentang harga dan lain-lain lihat aja di halaman ini.

Ah, saya jadi tidak sabar. Semoga, semuanya lancar sesuai jadwal. 🙂

Ap-Det..

December 16, 2011

Klik di sini !

Lucu itu..

November 26, 2011

Lucu itu mestinya tidak harus dengan menyakiti kawan. Meskipun, hanya -sekali lagi- hanya dengan menaburkan bedak/tepung ke wajah atau dengan menjatuhkan orang lain ke property lunak. Buat saya, ini nggak lucu. Tapi, sadis.

Jangan melihat benda lunaknya. Tapi lihatlah bentuk perbuatannya. Demi membuat sebagian penonton ketawa ada pelawak yang melakukan hal-hal yang sebenarnya membahayakan. Bagi lawan main, iya. Tentu! Tapi ada bahaya lain yang besar. Bagaimana jika perilaku mereka diingat lalu ditiru oleh anak-anak. Mereka ikut-ikutan menjatuhkan kawan mereka ketika sedang bermain. Saat kawan mereka terjatuh dan kesakitan (karena jatuh bukan di property yang lunak), mereka menertawakannya. Bukan menolongnya. Parah kan!

Belum lagi cacian, umpatan dan ejekan yang sering terlontar juga dianggap lelucon biasa. Sebab kekurangan orang lain adalah bahan tertawaan yang sempurna. Jika Anda menganggap ini adalah hal biasa saja, maka jangan marah jika suatu saat ada orang yang yang mencaci atau mengumpat Anda.

Mestinya, lucu itu kreatif. Bukan menyakiti orang lain…


%d bloggers like this: