Archive for the ‘senyum yuuk!’ Category

Suatu Hari Di Rumah Mertua

April 20, 2017

Tidak semua orang merasa nyaman ketika menginap di rumah mertuanya. Nyaman disini maksudnya bisa menjadi diri kita yang apa adanya. Tanpa pencitraan. Karena, bagaimanapun tentunya kita menyadari bahwa dalam diri kita terdapat kekurangan yang kita tidak ingin orang lain mengetahuinya. Ini manusiawi.

Saya adalah manusia normal. Sama seperti kebanyakan. Di depan mertua saya selalu berusaha tampil sempurna. Sesempurna yang saya bisa tentunya. Tapi, sesempurna apapun kamuflase yang kita lakukan yang namanya sifat asli itu tidak bisa ditutup-tutupi. Dan, saya pernah malu karena sifat saya yang cuek.

Saat itu belum terlalu malam. Karena merasa lelah setelah seharian bekerja saya pun pamit ke istri untuk rebahan sebentar di kamar. Istri saya masih nonton tivi sambil ngobrol dengan ibu mertua. Saya tidak menemani karena seringnya tidak nyambung dengan materi obrolan. Maklum, ibu dan anak itu kalo lagi ngobrol biasanya asik dan apa-apa dibahas. Dari ngobrolin kejadian-kejadian hari ini dan hubungannya dengan harga sayur mayur yang makin fluktuatif. Pokoknya seru. Dan selalu begitu. Kalo saja ada yang denger mungkin disangka obrolan dua orang pengamat ekonomi.

Saya akhirnya memutuskan keluar kamar karena ingat kalo ada siaran langsung bigmatch premier league. Istri yang tahu maksud saya langsung mengangsurkan remote. Dan, dengan satu kali klik berpindahlah acara ajang pencarian bakat menjadi acara sepakbola: Arsenal vs Manchester United.

Mungkin, karena terlalu asik nonton bola saya tidak menyadari kalo ibu mertua dan istri saya sudah pindah ke ruang makan yang ada di belakang. Paling ngelanjutin ngobrol sekalian makan malam, begitu pikir saya.

Beberapa saat berselang istri menyusul ikutan nonton sepakbola. Tapi, tak berapa lama tivi saya matikan. Karena acara sepakbola sudah selesai dan Arsenal –tim favorit saya- menang. Saya pun segera mengajak istri saya untuk tidur sebab besok pagi ada kegiatan.

Istri saya mendahului masuk kamar. Sedangkan saya, sebagai seorang suami yang baik, terlebih dahulu mengecek satu-per-satu pintu dan jendela sebelum tidur. Memastikan semuanya terkunci dengan rapat.

Saya berjalan ke ruang tamu. Mengecek pintu. Jendela. Gorden. Dan, terakhir mematikan lampu utama kemudian menyalakan lampu yang lebih redup.

Saat berjalan ke kamar, saya lihat pintu tengah yang menghubungkan ruang makan dengan ruang tengah masih terbuka. Maka dengan berjalan bergegas saya datangi pintu itu dan dengan segera menguncinya.

Ceklek!

“Nah. Sekarang saatnya tidur.” Pikir saya.

Baru saja merebahkan diri, saya dikagetkan oleh suata ketukan pintu yang kemudian diikuti suara panggilan.

Tok! Tok! Tok! Tok!

Wik..! Wik..! Dwik..!” begitu suara itu memanggil nama istri saya.

Istri yang kebetulan juga belum tidur ikutan bingung. Siapa malam-malam begini bertamu?

Suara ketukan pintu terdengar lagi. Juga suara panggilan itu.

Wik..! Wik..! Dwik..!

Tok! Tok! Tok!

Wik..! Wik..! Dwik……!

Istri saya bergegas keluar kamar. Lalu, berjalan ke arah ruang makan. Saya mengekor di belakang. Segera istri membuka pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang makan. Dan… ibu mertua saya muncul dari balik pintu. Ajaib kan?

Ternyata, saat saya mengunci pintu ruang tengah ibu mertua saya masih berada di ruang makan.

Duh… :p

Advertisements

Suatu Hari Di Sebuah Kelas (1C)

March 31, 2017

Guru killer selalu menghadirkan suasana yang kurang baik bagi kesehatan, terlebih saat ulangan.

Seperti pagi ini, kelas saya, kelas 1C ulangan matematika. Pelajaran ini jadi spesial karena guru pengampunya spesial. Lucu tapi galak. Galak tapi lucu. Ini semacam es manis pedas. Butuh kepekaan untuk bisa menikmati keduanya secara bersamaan.

Pak Pur, begitu guru itu biasa dipanggil, adalah pengampunya. Tubuhnya gempal. Tingginya tak sampai 160 sentimeter. Rambutnya klimis dan disisir menyamping ala Chow Yun Fat.

Sebelum ulangan saya beri waktu lima menit untuk bersih-bersih. Bagi siapa saja yang kedapatan sampah di sekitar mejanya maka akan saya kurangi nilai ulangannya. Mengerti?” kata pak Pur berapi-api di depan kelas.

Murid-murid kelas 1C  mendadak sibuk. Masing-masing membersihkan mejanya. Sebersih mungkin. Karena sampah secuil saja bisa berakibat fatal: pengurangan nilai ulangan. Ini sebenarnya tidak fair. Tapi melihat guru yang sangar itu nyali kami untuk protes mendadak menciut.

Yak. Waktu habis..!” teriak pak Pur sambil melihat jam tangannya.

Sedetik kemudian kelas hening. Murid-murid duduk dengan tangan berpangku rapi di atas meja. Nafas mereka tak beraturan. Semua tatapan seragam mengarah ke papan tulis.

Pak Pur berjalan mengitari ruangan dengan kedua tangan di belakang. Tatapan matanya tajam laksana elang yang sedang mencari mangsa. sesekali ia mengangguk-angguk kecil disertai senyuman kecil.

Nah. Kamu. Minus satu!” kata pak Pur sambil menunjuk ke arah Ardi.

Yang ditunjuk tampak kebingungan. Lalu, setelah melihat ke bawah ia tahu alasannya. Diambilnya sesobek kecil kertas di dekat kaki mejanya. Lalu dengan langkah buru-buru ia masukkan sobekan kertas itu di tong sampah yang ada di dekat pintu.

Kamu… Minus dua!” kali ini Edi yang jadi pesakitan.

Kamu, minus satu!” Nila celingukan mencari sampah.

Kamu juga, minus satu.” Husni kaget. Tapi, berusaha kalem.

Besarnya nilai minus berbanding lurus dengan sampah yang ditemukan. Semakin besar ukuran sampah yang ditemukan, semakin besar pula nilai minusnya. Ini sungguh teror yang luar biasa. Saya dan murid-murid yang lain serasa jadi papan target. Menunggu peluru mengoyak tubuh kami.

Suasana hening kembali.

Apakah teror sudah berakhir?

Kamu……” pak Pur mengarahkan telunjuknya ke arah Bambang. Tanpa di komando semua mata menatap ke arah Bambang. Teman yang tubuhnya kecil itu nampak tenang. Mungkin, karena ia bukan orang pertama yang nilainya bakal dikurangi karena sampah.

Minus sembilan.

Bambang kaget. Mulutnya mangap. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Dari mimik wajahnya saya yakin ia ingin berteriak: TIDAKKKKK…!

Selidik punya selidik, ternyata di bawah meja Bambang terdapat sampah kertas yang digulung. Besarnya hampir sekepalan tangan.

Hari ini bukan harinya Bambang. Kita sebut saja kejadian ini Tragedi Bambang.

 

***

 

Selepas Tragedi Bambang, ulangan Matematika berlangsung tertib. Maksud saya, hening. Ya. Hening. Jangankan berbisik, menoleh saja kami tidak berani. Salah-salah bisa dapat minus. Bahkan, seandainya  ada yang kepalanya gatal saya yakin tidak akan digaruk. Sebab, bisa dianggap memberikan kode jawaban yang akibatnya bisa dapat minus juga. Berat.

Sebuah kejadian luar biasa merusak keheningan. Entah dari mana tiba-tiba terdengar suara misterius. Nyaring. Tapi, seperti tertahan.

Pyuuutttttt…..!

Lalu, terdengar lagi.

Pyyyyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttt….!

Pak Pur kaget. Lalu, geleng-geleng kepala. Senyuman nampak tersungging dibibirnya. Lalu, dengan perlahan meninggalkan kelas yang sudah terkontaminasi oleh … olehhh… hmmm…  kita sebut saja  Gas Tak Tahu Diri.

Kelas sontak seluruh siswa yang sebelumnya menahan tawa, terkekeh-kekeh. Gaduh. Riuh. Bergemuruh. Siswa 1C mencetak sejarah.

Bagi saya, ini semacam pembalasan yang sempurna atas kesewenang-wenangan apa yang terjadi. Dan, hebatnya, sampai saat ini si pemilik suara misterius ini belum diketemukan…

😀

Suatu Hari Di Dekat Mesin Jahit

March 13, 2017

Mul dan Dar adalah kakak beradik yang sedang gusar karena pelajaran ketrampilan menjahit. Maklum, mereka berdua laki-laki. Sedangkan menjahit cocoknya untuk perempuan.

Pelajaran ketrampilan menjahit kali ini adalah belajar membuat celana pendek. Murid-murid mendapat pelajaran dari mulai mengukur, membuat pola, memotong bahan kemudian menjahit sampai jadi sebuah celana.

Mul dan Dar berada dalam kelas yang sama meskipun mereka berdua kakak-beradik. Sebabnya, tidak lain karena si Mul ini mempunyai kecerdasan lebih jika dibandingkan dengan anak seusianya. Maka, oleh orang tuanya ia disekolahkan lebih dini. Dan nyatanya, memang ia mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Bahkan, di beberapa mata pelajaran ia lebih baik dari teman-teman sekelasnya.

Si Mul terkenal piawai dalam hal yang berkaitan dengan ketrampilan. Pelajaran olah raga, misalnya. Ia selalu mendapat nilai 8 untuk ketrampilan koprol, headstand, handstand dan kayang yang untuk teman-temannya itu merupakan sebuah ketrampilan yang cukup sulit. Mul memang anak ajaib.

Beda olah raga beda menjahit. Keduanya memang nyambung dalam hal ketrampilan. Akan tetapi, skill yang diperlukan berbeda.

Bagian ini gimana ya cara njahitnya?” gumam, Dar pada suatu sore. Ia nampak membolak-balik celana pendeknya. Ia tidak tahu cara menjahit bagian bawah celana.

Mul yang kebetulan lewat berseloroh, “Serahkan padaku!

Dar memang selalu percaya pada kemampuan adiknya itu dalam hal olah raga. Tapi, ini beda kasus. Ini menjahit. Dar terpaksa mengiyakan walau sejatinya ia ragu.

Mul, lama nggak njahitnya? Soalnya, aku mau mandi dulu.

Halah.. Cepet itu. Nggak nyampe lima menit juga kelar.” Jawab Mul penuh percaya diri.

Wokeh! Celana saya taruh di kursi dekat mesin jahit ya.

 

*10 menit kemudian*

 

Dar yang sudah selesai mandi berjalan ke ruang tengah bermaksud melihat Mul menjahit. Sebenarnya, pengen mencuri ilmu menjahit, sekalian memastikan kalau celananya sudah dijahit. Tetapi, yang dicari kedapatan sedang asik di depan tivi.

Mul, celanaku gimana? Sudah selesai?” tanya Dar.

Udah lahTuh, di sana.” Jawab Mul sambil menunjuk ke arah mesin jahit.

Mendengar jawaban sang adik yang meyakinkan, Dar segera berjalan menuju ke mesin jahit. Benar saja, celana pendek itu sudah terlipat rapi di atas mesin jahit.

Dar mengambil celana itu kemudian menunjukkannya pada Mul.

Hebat kamu, Mul”. Kata Dar sambil menatap takjub ke arah celananya. “Aku coba ya.”

Mul yang lagi asik dengan acara tivi hanya mengangkat jempol tangan tanpa menoleh tanda setuju.

Loh! Mul, gimana ini?

Dar terlihat limbung. Kedua tangannya memegangi celana. Sementara kaki kanannya masuk ke dalam celana tapi ujung kakinya seperti tersangkut sesuatu.

Mul tercekat. Ia menatap kakaknya dengan heran.

Ini gimana ini, celananya? Wealah, kok nggak ada lubangnya gini? Kamu njahitnya salah atau gimana sih, Mul.” Protes Dar.

Mul beranjak mendekati kakaknya. Diamatinya celana pendek kakaknya itu baik-baik. Tidak ada yang aneh. Sekilas celana pendek itu nampak terjahit dengan rapi. Hanya saja… tidak ada lubang untuk lewat kaki.

Mul, nyengir. “Ya, maap. Wong aku juga belum pernah njahit bagian itu kok.” Katanya datar…

 

Sedikit sungkan

July 13, 2015

Bulan ramadhan adalah bulan yang spesial buat gue. Karena di bulan ini semangat gue untuk menjadi pribadi yang nyar’i benar-benar membara. Kalo sudah begini, gue bakalan habisan-habisan. Mulai dari mengubah mode pakaian, nge-update jadwal pengajian, setor hafalan, semuanya gue jalankan. Namanya juga bulan spesial.

Perubahan tampak pada diri gue. Jambang mulai gue panjangin. Jenggot? Sudah pasti itu. Baju gue ke mesjid jadi lebih sering memakai baju takwa. Lengkap dengan pasangannya: parfum yang harganya seratus ribu. Seratus ribu dapet sepuluh botol, maksudnya. Hehehe…

Sebagai orang yang sedang serius mengejar gelar orang yang bertakwa gue cukup terlihat bersemangat. Untuk urusan sholat misalnya, gue selalu berangkat awal agar mendapat shaf terdepan. Urusan baca Al-qur’an jangan ditanya, coy. Dan, selama bulan ramadhan ini gue nggak bosen mengulang-ulang hal yang sama. Terutama, saat menghafal surat-surat dalam Al-Qur’an. Ini ajaib.

Sudah menjadi resiko, saat tampil nyar’i orang akan berprasangka kalo kita ini punya pemahaman agama yang lebih baik dibanding orang-orang. Akibatnya, orang akan menghormati kita. Namun, tidak dipungkiri bahwa ada pula sebagaian orang yang justru jadi sedikit sungkan.

Mungkin, karena hal inilah ada sebagian orang rada sungkan ke gue. Jangankan untuk bertemu, mengirim suratpun sudah tak boleh. Eh, sebentar, sebentar, ini kok jadi lirik lagu sih..

Fokus, men, fokus!

Oke. Intinya ada sebagian orang jadi sungkan bertanya atau menegur saat mendapati gue berbeda dengan mereka. Kalo gue sih husnudzon saja. Mungkin, gue dianggap lebih berilmu. Padahal, ya gue sama kayak mereka. Bedanya gue lebih bersemangat.

Tibalah suatu saat, sedikit sungkan orang-orang ini membawa akibat buat gue.

Waktu itu, gue sholat di mushola dekat rumah mertua gue. Seperti biasa gue hadir di awal waktu demi mendapat shaf terdepan.

Tak berapa lama, muadzin mengumandangkan iqomah tanda segera dimulainya sholat.

Belum selesai sholat isya gue udah beberapa kali menguap. Mungkin, gue sebenarnya letih setelah beraktifitas seharian. Tapi semangat gue yang membara membuat semua itu tidak terasa.

Selepas sholat isya, lanjut sholat tarawih didirikan. Gue merasa makin lemes. Sesekali mata gue terpejam. Kaki terasa lunglai. Nafas menjadi pendek-pendek. Kesimpulannya gue ngantuk.

Dua kali empat rekaat sholat tarawih sudah terlalui. Giliran imam maju berdiri di mimbar untuk menyampaikan kultum. Kuliah tujuh menit. Normalnya sih segitu, tapi di indonesia bisa lebih dari tujuh menit. Malah, ada yang tiga kali tujuh menit.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….” Sapa imam.

Tanpa dikomando makmum serentak menjawab “Wa ‘alaikum salaam. Warahmatullahi wabarakatuhhh…” Termasuk gue. Meski, hanya dengan tenaga yang tersisa.

Setelah menjawab salam gue mendengar imam menyampaikan materi tentang husnudzon. Cukup menarik. Hanya saja, gue ngerasa ada yang aneh. Semakin lama suara imam terdengar semakin pelan. Semakin pelan. Semakin pelan dan gelap. Iya, gelap!

Setengah sadar setengah enggak gue bisikan ke diri gue sendiri: tetap tenang… jangan panik.

Lalu suasana makin hening. Tidak ada satu suara pun. Kondisi masih gelap. Hal ini berlangsung beberapa menit hingga tiba-tiba terdengar suara bergemuruh.

AAMIINNN…..!!!

Gue terperangah. Dalam kondisi setengah sadar gue edarkan pandangan. Dan, terjadilah apa yang terjadi. Jamaah lain sudah berdiri. Imam pun mulai membaca surat pendek.

Seketika gue berdiri. Lalu mengambil posisi dan mengikuti jamaah lain. Wajah gue terasa hangat. Lalu serasa mengecil. Jantung berdegup kencang, lalu berkata: Inikah rasanya jatuh cinta?

Lalu hati gue menjawab, “Bukan. Loe nggak sedang jatuh cinta. Tapi, barusan sedang jatuh harga diri loe.”

“Apa…?!” jawab jantung gue.

Malam itu sholat witir terasa sangat berbeda dengan biasanya. Beberapa pertanyaan berkelebatan dalam pikiran gue. Tadi gue kok nggak ngerasa dibangunin orang disebelah ya? Jangan-jangan gue yang nggak denger? Atau, mungkin mereka sedikit sungkan mau bangunin gue… Mungkin…

 

Dokter + menyuntik..

February 25, 2011

Jadi dokter itu enak. Duitnya banyak. Kerjanya sederhana dan nggak perlu tenaga ekstra: nyuntik. Semoga Anda setuju dengan pendapat saya itu.

Nyuntik memang mudah (iya nggak sich?). Tapi adakalanya hal yang mudah itu bisa jadi masalah. Khususnya, di Jawa. Yang mana pasien di jawa (biasanya mbah-mbah) merasa mendapat sugesti yang luar biasa ketika mereka mendapat suntikan dari dokter yang ia kunjungi. Ia akan merasa sudah ke dokter bilamana ia sudah mendapat suntikan. Sayangnya, si pasien tidak mau tahu zat apa yang disuntikkan ke dalamm tubuhnya. Intinya, kalo ke dokter harus di suntik.

Berikut ini ada kejadian yang bisa menggambarkan keadaan yang saya maksud. Ini kisah nyata!

Alkisah, suatu hari seorang dokter didatangi pasien. Ia datang beserta keluhannya: tidak enah badan. Di ruangan itu hanya ada dokter. Tempat praktek memang baru saja buka karena memang hari masih pagi.

“Ini, Bu dokter, saya nggak enak badan.” Kata si pasien dengan nada mengkhawatirkan.

“Kenapa, Mbah?” selidik dokter itu.

“Rasanya pegal-pegal. Panas dingin.”

Sejurus kemudian, dokter itu segera melingkarkan sphigmomanometer di lengan si pasien. Dokter mencari tahu berapa tekanan darah si pasien.

“Berbaring ke dipan ya, Mbah.” Perintah dokter.

“Nggih…”

Pasien berbaring. Kali ini dokter memeriksa menggunakan stetoskop.

“Gapapa, mbah. Cuma perlu istirahat saja. Nanti saya kasih obat biar lekas hilang pegal-pegalnya.”

“Mbok, saya disuntik tho bu dokter.”

“Nggih…!” Jawab bu dokter sambil tersenyum.

* Beberapa menit kemudian

“Ini obatnya mbah. Diminum 3 kali sehari. Sekali minum satu saja. Yang ini juga.” Kata dokter menerangkan.

“Bayarnya berapa, bu dokter?”

“Sepuluh ribu, mbah.”

Si pasien menyodorkan uang dua-puluh-ribuan.

“Maaf mbah, belum ada kembaliannya.”

“Oh.. gitu. Gapapa, bu dokter. Ga usah pake kembalian saja. Tapi, saya suntik lagi ya. Biar cepet ilang pegal-pegalnya.”

Bu dokter terkaget-kaget dengan jawaban pasiennya. Sebenarnya ia pengen ketawa. Tapi, melihat pasiennya yang lugu itu, ia tidak sampai hati..

Kini, ia menghadapi persoalan yang belum sempat ia tanyakan ketika kuliah dulu. Baiknya, disuntik lagi atau tidak?


%d bloggers like this: