Archive for the ‘iseng’ Category

Tentang Membuat Tulisan Panjang

June 12, 2018

Teringat sebuah nasehat: menulis itu ibarat orang berlari. Untuk bisa berlari jauh dibutuhkan beberapa kali lari pendek sebelumnya. Tiap orang punya ukuran sendiri-sendiri tentang berapa kali ia harus berlari pendek agar ia bisa berlari jauh dengan baik.

Orang yang sudah terbiasa lari akan ketahuan dari caranya mengambil nafas dan menghembuskannya ketika sedang berlari. Juga dari gerakan tubuhnya. Kebiasaanlah yang membentuknya menjadi seperti itu.

Menulis juga demikian. Untuk bisa membuat tulisan panjang yang baik perlu membuat tulisan-tulisan pendek sebelumnya. Lebih sering lebih baik. Tapi, untuk memperbaiki kualitas tulisan kita butuh membaca lebih banyak lagi. Ya, begitulah.

Advertisements

Entah Apa Maksudnya?

March 2, 2018

Hampir setiap hari saya melibas jalan Klaten-Solo karena saya ngantor di Solo. Selama perjalanan itu sering saya dapati gerakan atau isyarat dari pengendara lain yang “entah apa maksudnya”. Uniknya gerakan atau isyarat ini erat kaitannya dengan perempuan.

Yang pertama, saat berpapasan 1 lawan 1 dengan mbak-mbak pengendara sering terjadi gerakan yang “entah apa maksudnya” itu. Biasanya ketika jarak kami tinggal lima meter, dengan anggun tapi cekatan si Mbak ini menunduk lalu melihat ke arah (maaf) dadanya.

Entah apa maksudnya? Seolah-olah ia menyadari sesuatu. Lalu, secara reflek melihat ke bawah. Memastikan semuanya baik-baik saja dan pada tempatnya.

Entahlah, hanya si Mbak itu yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Yang kedua adalah saat ada mbak-mbak dibonceng oleh pasangannya. Dugaan saya sih, mereka bukan pasangan suami istri. Soalnya mesra banget. Kelewat mesra malah.

Isyarat yang “entah apa maksudnya” itu dilakukan si Mas saat mereka berkendara pelan-pelan atau di saat mereka berhenti di lampu merah. Jemari tangan kiri si mas menari lincah di betis si mbak yang dibonceng. Yang sering terlihat sih yang gerakannya standar. Elus-elus betis. Kadang, ada juga yang nyubit-nyubit kecil. Tapi ada yang sampai garuk-garuk gemes betis si mbaknya. Pernah juga ketemu mas-mas yang elus-elusnya membuat pola lingkaran di betis si mbak. Habis itu nyubit kecil dan diakhiri dengan garuk-garuk gemes. Lalu, si mbak dengan tak kalah kemayu menepuk si mas diikuti tawa kecil keduanya. Entah apa maksudnya? Tapi bagi saya Ini seperti kode rahasia yang ada di film-film detektif yang saya tonton. Dan dalam situasi seperti ini, saya yang tipikal orangnya kepoan selalu jadi korban: Penasaran.

Akhirnya, saya putuskan mengikuti mereka. Mereka pelan, saya pelan. Mereka berjalan ke sebelah kiri saya mengikuti di belakangnya. Tujuannya saya cuma satu: pengen tahu apa gerakan selanjutnya.

Drama jalan raya ini akan tiba-tiba tamat saat si mas meminggirkan motornya trus berhenti. Kalo sudah begini biasanya saya memilih untuk meninggalkan mereka. Trus, pasang mata. Siapa tahu, ada drama yang lain. Hahahaa.. 😀

Ditinggal Pemiliknya..

February 23, 2018

Ditinggal pemiliknya rapat, helm-helm ini memutuskan untuk mengadakan rapat sendiri: rapat helm.

Usul Saja

December 31, 2017

Tidak adakah kegiatan lain menunggu datangnya tahun baru selain bakar kemenyan kembang api, tiup terompet dan bergadang? Ini model kuno menurut saya. Sejak jaman saya sekolah sampai jaman anak saya udah mulai masuk sekolah masih dipakai. Tidak ada variasi. Monoton.

Sesekali mengawali tahun dengan membagi sedekah, gitu. Biar mereka yang menerima sedekah merasai bahagianya tahun baru. Kalo yang mengeluarkan sedekah orang sekampung kan lumayan jumlahnya. Ini sekadar usulan sih. Daripada uangnya dibeliin kembang api yang ujung-ujungnya ngagetin orang lain di tengah malam, kan lebih manfaat, ya nggak?

Kalo saja disuruh milih, mereka dikagetin dengan kembang api atau sedekah di tengah malam saya yakin mereka memilih yang kedua. Sama-sama kaget tapi beda rasanya. Kaget karena kembang api itu kaget jengkel. Sedangkan kaget karena sedekah itu kaget bahagia yang bisa mengalirkan air mata.

Belum lagi, kalo nanti yang menerima sedekah mendoakan kita yang baik-baik. Kan luar biasa tuh. Benar-benar cara mengawali tahun yang elegan. B-)

Cari Muka (?)

December 30, 2017

Saya senyum-senyum sendiri saat memulai tulisan ini. Gemes. Geregetan. Sekaligus, ngerasa nggak habis pikir. Kok bisa gitu lho…? Ada orang yang tulus membantu kesulitan orang lain justru dianggap macam-macam (baca: cari muka). Ini apa maksudnya? 🙂

Saya punya tetangga yang baik banget. Namanya pak Nono. Usianya sudah setengah baya. Selain ahli dalam kelistrikan beliau ini punya hobby yang terbilang unik: bersih-bersih. Jadi, ketika ada tetangga punya hajatan meminta tolong dalam hal kelistrikan, beliau selalu mengikutsertakan hobbynya ini. Selesai dengan urusan kabel dan listrik, beliau beralih ke sapu dan pengki. Tanpa diminta. Apalagi dibayar. No!

Pernah, suatu waktu saya meminta bantuan beliau dalam urusan sound system saat peringatan hari Kemerdekaan. Ketika saya tanyakan tentang besarnya rupiah balas jasa beliau menolak dengan halus. “Maaf, saya tidak menerima uang, dik. Nggak usah bingung. Pokoknya pas acara nanti saya stand by.” Begitu ujarnya mantap.

Saya juga punya seorang kawan yang baik banget. Sebut saja namanya Ihsan. Dia jago dalam hal yang berhubungan dengan komputer. Suatu hari saya mengeluh karena laptop saya bermasalah. Dia pun menawarkan bantuan untuk menginstall ulang laptop saya. Saat saya tanya ongkos, dengan santai dia bilang gratis. Lalu, diikuti senyuman yang tidak dibuat-buat. Malah, selepas itu dia membuatkan segelas kopi. Minuman favorit saya.

Dalam perjalanan pulang saya bertanya-tanya, kenapa ada orang yang mau repot-repot membantu orang lain tanpa mengharap imbalan?

Waktu berlalu, musim berganti. Tibalah giliran saya berada di posisi orang yang dimintai pertolongan. Seorang tetangga komputernya rusak. Layarnya gelap meski PC menyala normal. Sambil membenahi komputer, saya memantapkan diri untuk mengikuti jejak kawan saya itu. Free for all.

Selepas mengutak-atik RAM, komputer saya nyalakan kembali. Layar sudah menampilkan gambar seperti sebelumnya. Lalu saya pun pamitan pulang. Si tetangga berulang kali mengucapkan terima kasih saat saya sampaikan tidak ada biaya. Semuanya gratis. 

Saat beranjak pulang itulah saya merasa bernafas lebih lega dari sebelumnya. Tidak lain, karena melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah tetangga saya. Saya juga merasa bahagia. Bahkan, lebih bahagia dari tetangga saya itu.

Saya akhirnya faham bahwa rasa inilah yang dicari pak Nono dan Ihsan. Sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang. Sesuatu yang mampu menguatkan hati sehingga mampu menepis celaan yang kadang datang tanpa diduga.

Dan, saya yakin, orang yang berpikiran macam-macam itu belum pernah merasakan bahagia seperti yang saya rasakan. Atau, mungkin dia kebanyakan nonton sinetron. Entahlah!


%d bloggers like this: