Archive for the ‘fiksi’ Category

Rama & Hestiana (bag. 1)

January 2, 2018

Ini adalah tahun baru yang istimewa bagi Hestiana. Gadis kelas sebelas itu “ditembak” 3 orang sekaligus di waktu yang hampir bersamaan. Menjelang tahun baru.

Yang pertama, bernama Andika. Si Juara umum. Lalu, Riko si Valentino Rossi KW. Dan, Rama. Pengurus OSIS bidang Seni.

Hesti adalah gadis yang pintar. Sikapnya yang supel sering membuat beberapa orang jadi kegeeran. Makanya, ia tak heran dan santai dengan “pengeroyokan” ini.

2 orang penembak sudah mundur. Riko mundur dengan segera begitu Hesti memberinya sebuah pertanyaan. Andika juga demikian setelah sebelumnya berdebat. Tinggal Rama yang tersisa.

“Rama, aku mau ngomong sama kamu. Pulang sekolah nanti. Di kantin bu Ranti. Bisa?” Kata Hesti setengah berbisik.

Rama yang sedang membereskan alat praktikum di laboratorium mengangguk pelan seperti dalam adegan drama Korea. Padahal, hatinya bergemuruh.

Selepas Hesti berlalu ia melakukan selebrasi kecil. Ia mengepalkan jemari tangan kanannya lalu menariknya ke samping badannya. “Yes!”

“Jam dua persis. Jangan terlambat ya.” Sambung Hestiana yang tiba-tiba muncul kembali.

“Iya.” Jawa Rama dengan muka memerah.

***

Di Kantin

“Rama.” Hesti membuka obrolan. “Ini tahun baru. Aku bisa saja menerimamu jadi pacar kalo kamu bisa menjawab tantanganku”

“Oke. Apa itu?” Jawab Rama bersemangat.

“Aku ingin Presiden baru di tahun baru ini.”

“Siap…” Jawab Rama sambil tersenyum kecil.

Hestiana terkejut. Ia tak menyangka Rama mengiyakan tantangannya itu. Belum selesai kejutan itu Rama sudah mengejutkannya kembali dengan secarik kertas putih. Rama manulis sesuatu diatasnya. “3 Januari ’17”.

Rama berjalan menjauh keluar kantin karena menerima telpon. Wajahnya terlihat serius. Sejurus kemudian ia memberi kode ke Hestiana dengan tangannya bahwa ia harus segera beranjak dan akan menelponnya nanti.

Hestiana sendirian di kantin memikirkan ada apa dengan tanggal 3 Januari?

Bersambung…

Advertisements

Tantangan!

March 18, 2011

Anda hobi menulis?

Anda punya blog?

Anda bosen nulis yang biasa-biasa?

Ini, ada tantangan buat Anda. Klik di sini.

Hari masih pagi

December 1, 2008

Hari masih pagi. Matahari belum keluar dari sarangnya. Udara dingin. Suasana sepi senyap. Seolah tak ada kehidupan. Seorang laki-laki tua berjalan perlahan menuju kamar mandi setelah jam beker tuanya membangunkannya. Pertanda waktu shalat subuh menjelang.

Seperti biasa, setalah mengambil air wudhu laki-laki itu mengenakan sarung coklatnya yang sudah usang. Tak lupa kopiahnya yang putih kecoklat-coklatan ia pasangkan dikepalanya. Segera ia berjalan menyusuri jalan menuju ke mesjid. Laki-laki tua itulah yang setiap pagi mengumandangkan adzan subuh.

Belum jauh si laki-laki berjalan, dari arah yang berlawan ada sebuah sepeda motor melaju kencang. Mungkin, saking kencangnya si pengendara seperti tidak bisa mengontrol laju sepeda motor itu. ‘Gubrakk!’ Sepeda motor menyerempet laki-laki tua itu. Sepeda motor oleng akan tetapi tidak sampai terjatuh. Sesaat, si pengendara berhenti. Ia amati kondisi sepeda motornya. Lalu dengan perasaan was-was ia beranikan diri untuk menoleh ke arah si laki-laki yang diserempetnya tadi. Ia tak bergerak.

Bukannya menolong, si pengendara justru buru-buru menyalakan kembali mesin sepeda motornya. Lalu, ia putar gas motornya dan melaju. Ia tidak tahu kenapa ia harus melarikan diri. Hati kecilnya mengatakan ia harus kembali. Akan tetapi ia tidak pernah kembali. Ia bahkan tidak tahu, jika pagi ini di kampung si laki-laki tua itu tidak berkumandang adzan subuh.

Potongan cerpen

November 23, 2008

Pak Umar, sedang membaca surat kabar. Dahinya mengerut sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepala. “Aneh!” Ia berkomentar atas apa yang baru saja ia baca.

Tak jauh dari tempat pak Umar duduk, ada Habib, anak sulungnya. “Kenapa Yah?” Tanya Habib kepada ayahnya. “Apanya yang aneh? Korannya yang aneh?” Selidiknya.

“Enggak. Bukan korannya yang aneh. Ini lho, teroris-teroris ini yang aneh.” Kata pak Umar sambil menggeleng-gelengkan kembali kepalanya. “Lha wong hidup di Indonesia kok nggak mau hidup pake aturan Indonesia. Aneh!”

“Maksud Ayah?” Tanya Habib. Ia berdiri. Berjalan mendekat. Lalu duduk di samping ayahnya. Matanya mencari-cari bagian yang sedang dibaca oleh ayahnya.

“Mestinya, klo ia hidup di Indonesia ya harus pake aturan Indonesia dong.”

“Oh.. begitu ya.”

” Ya iya!” Jawab pak Umar mantap.

Emm… Kira-kira apa jawaban ayah, jika mereka balik bertanya kepada ayah, bumi Indonesia ini milik siapa?”

Pak Umar menatap anaknya. Didapatinya wajah anaknya yang polos itu sedang tersenyum menunggu jawaban. Sebagai guru agama Islam, Pak Umar faham betul siapa pemilik bumi ini. Yakni Alloh Subhanahu wa ta’ala. Tetapi, ia memilih diam. Tak menjawab pertanyaan anaknya.

Pagi ini…

November 3, 2008

Pagi ini aku hendak menulis sesuatu. Tetapi menemukan sesuatu itu aku tak mampu.

Ah, sudahlah tak perlu kupaksa. Biarlah aku tulis apa yang ada dalam pikiranku saja. Aku tidak perlu takut dengan komentar orang-orang terhadap tulisanku. Karena hanya aku yang tahu, mengapa sepagi ini aku menulis sesuatu.

Sebenarnya aku hanya pengen berbagi saja. Tentang keadaanku. Tentang pikiranku. Tentang apa-apa yang aku ketahui dan apa-apa ingin aku ketahui. Aku belum mendapati cara lain selain dengan menuliskannya. Menuliskannya sebisaku.


%d bloggers like this: