Archive for the ‘episode Ichank’ Category

Masih nulis…

July 27, 2011

Maaf, sudah membuat Anda kecewa. 😀 Beberapa hari blog ini tidak ada tulisan baru. Tapi yakinlah, saya masih tetep nulis kok. Masalahnya, kemarin itu netbuk saya “pilek”. Jadi harus diinstall ulang. Iya, nginstallnya cuma beberapa jam sich. Bukan empat hari. Tapi, dengan menginstall ulang sama artinya dengan menunda banyak hal yang mestinya bisa saya selesaikan.

Eh, ada yang lupa. Kemarin yang bikin lama itu karena saya udah terlanjur saya format drive C-nya sementara flashdisk yang mestinya format sekaligus install bermasalah. Doi cuma bisa mengerjakan tugas pertamanya: format. Keren ga tuh! Beuhhhh…. 😦

Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya, saya terpaksa pergi ke dokter netbuk terbaik di kota Klaten. (penasaran? klik di sini). Dia itu jago bangets! Saya aja yang sering ketemu sampe bingung mbedain, dia itu ayam jago apa orang?! OK. Di bagian ini saya bercanda. Dia emang expert deh. Setiap saya ada persoalan selalu ada solusi. Dari mulai nginstall, ga punya flashdisk yang ukurannya lebih dari 1 Gb, kehabisan kopi, dan kepengen punya majalah marketing M*X terbaru. Dan, masih banyak yang lain. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas semua kebaikannya, di dunia dan di akhirat.

Udah adzan, ceritanya udahan dulu yach…

Kubuntu 10.10.

February 18, 2011

Akhirnya, sore ini kesampaian juga nyobain Kubuntu 10.10. Saya sich ga begitu tahu apa keunggulan OS ini. Yang pasti, rasa penasaran saya terobati. Sebagaimana pengguna OS yang lain (sebagian aja sich), tampilan baru dari sebuah OS, membuat saya begitu penasaran.

Awal menjalankan Kubuntu 10.10 cukup membingungkan. Saya tidak bisa menggoneksikan dengan Wi-Fi yang ada di kantor. Saya tidak menemukan logo Wi-Fi. Tapi, feeling saya pasti ada. Masak OS terbaru kok ga da fasilitas Wi-fi.

Dan setelah menelusur bagian demi bagian akhirnya ketemu juga. Finnaly: connect! Saya bisa browsing.. Meski bukan dengan Firefox. Tapi dengan rekonq (atau, Safari saya tidak tahu persis). Karena ketika saya mencoba menjalankan firefox harus mengunduh dulu. So, nanti saja. Lain waktu. Mungkin.. Kalo sempat.. 😀

Buat Icank, thank’s a lot. Udah ngasih tutorial + file .iso + flash disk 4 Gb. Semoga Allah ta’ala membalas kebaikanmu dengan balasan kebaikan yang banyak. 😉

Oh iya, posting kali saya kali ini menggunakan Kubuntu 10.10. 🙂

* Bonus:

Penampilan itu penting

January 13, 2011

Ajining diri gumantung ono lathi, ajining rogo gumatung ono busono.” [pepatah jawa]

Penampilan itu penting. Sangat penting. Kali ini, Anda harus setuju dengan saya. Melalui penampilannya, seseorang mendeskripsikan dirinya. Contoh mudahnya, jika Anda melihat seseorang dengan pakaian seadanya. Celana ketat dan sepatu boot. Rambut bergaya mohawk. Telinganya di-piercing. Maka Anda akan mengatakan bahwa dia PUNK. Pun, jika Anda bertemu seseorang berjenggot lebat. Pakaiannya putih. Celananya cingkrang. Mengenakan kopiah. Mungkin, Anda akan mengira bahwa dia seorang ustadz. Ya, begitulah kira-kira. Sederhana bukan?!

Jagalah penampilan Anda atau masalah akan menimpa Anda. Hal ini patut direnungkan. Begini maksud saya, saat Anda tampil dengan pakaian yang tidak semestinya maka orang disekitar Anda akan menghakimi Anda sebagaimana mereka berjumpa dengan Anda. Kawan saya sudah membuktikannya.

Suatu hari, kawan saya itu, sebut saja Kumbang. Eh, jangan Kumbang ding! Nggak asik jadi temannya Kumbang. Kalo temannya kumbang kan kumbang juga berarti. 😀 Kita sebut Michael saja.

Suatu hari, Michael sedang mengecat rumahnya, berdua dengan kakaknya. Saat sedang sibuk mengecat Mama-nya minta tolong diantar ke pasar untuk membeli roti. Karena pakaiannya belepotan cat, Michael berinisiatif meminta tolong kepada kakaknya yang satu lagi yang kebetulan sedang sibuk di dalam rumah. Rupanya, ia sedang tak bisa diganggu. Percek-cokan ringan pun terjadi.

Michael mengalah. Ia keluar rumah dengan wajah menyiratkan sedang marah. Lalu, menghampiri mamanya.

Kakak, ngga bisa nganter, Mak. Nggak tahu tuh.. sudahlah, Michael anterin aja.”

Tanpa pikir panjang Michael pun meluncur. Berboncengan dengan mamanya. Dan, tanpa ganti baju terlebih dulu. Tak lama, sampailah mereka di pasar yang dimaksud.

Michael ikut masuk nggak?

Yang ditanya bingung. Sebenarnya kepingin ikut, tapi melihat pakaiannya yang amburadul ia mengurungkan niatnya.

Michael tunggu di luar aja ya, Mak.” Jawab Michael.

Si mama bergegas masuk. Michael menunggu. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Hingga menit ke 30 si mama belum keluar juga. Michael mulai tak tenang. Wajahnya mungkret [menyusut alias kusut].

Tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya.

Mas, minta gula jawanya 2 box. Gula pasirnya satu karung. Sekalian angkatin ke mobil ya!

Michael bengong. Masih belum faham. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang lain. Artinya, laki-laki tadi berbicara kepada Michael. Tidak terima dikira tukang angkut, Michael segera menyahut..

Pak, saya di sini juga pembeli. Enak aja maen perintah!

Oh, maaf mas. Saya kira…” Jawab si laki-laki dengan suara menggantung. Dia melengos setelah tersenyum kecil.

Sepulang dari pasar Michael menyempatkan diri untuk mengaca. Ia menatap dirinya. Hitam. Ia lihat bayangan rambutnya. Keriting. Ia mengamati pakaiannya. Amburadul. Ia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian di pasar.

Michael berkata lirih, “Pantes…

Pernah juga, suatu hari ketika ia sedang menjemput ayahnya di sebuah hotel, ia dikejutkan oleh seorang perempuan yang menghampirinya kemudian dengan serta merta menyodorkan selembar uang seribuan.

Michael menolaknya dengan diplomatis. “Maaf Mbak, saya sedang jemput ayah saya. Saya bukan tukang parkir. Maaf lho ya. Dibawa saja duit seribu-nya..

Maaf, ya Mas!” sahut perempuan itu.

Michael hanya tersenyum ketus. Lalu membiarkan si perempuan itu pergi. Ia tak menyalahkan si perempuan tadi. Ia sadar dengan penampilannya yang seadanya. Ia juga menyadari kalo salah posisi. Menunggu orang keluar hotel kok di parkiran.

Sepertinya Micael sudah bosan dengan kejadian yang sering menimpanya. Ia berniat memperbaiki diri. Pikiran itu terlintas begitu saja saat ia berada di kamar mandi.

Ya, saya harus mengubah penampilan.” Kata michael dalam hati.

Langkah pertama, Michael ingin mengurangi kehitaman di wajahnya. Ia menatap sekeliling. Gayung bersambut. Di dapatinya sebuah produk lulur: P*rbasari, Lulur Mandi Bengkoang: Whitening. Maka, segera saja ia buka tutupnya dan membalurkan produk lulur itu.

Tak berapa lama.. “Aduh!

Michael kaget merasakan panas di wajahnya. Ia berpikir betapa hebatnya produk ini. Luar biasa. Efeknya langsung terasa. Ia pun melanjutkannya dengan mengusap produk itu ke seluruh wajah. Rasa panas kian meningkat. Michael bertahan. Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Tak tahan dengan panasnya ia pun segera mengguyur wajahnya dengan air. Lalu, dari dalam kamar mandi ia bertanya kepada mama-nya.

Mak, kok lulur P*rbasari-nya kalo dipakai di wajah terasa panas ya?

Ha.. Apa?! Lulur P*rbasari yang di kamar mandi ya?

He em.

Ya pasti panas. Orang, lulur P*urbasari-nya udah habis, trus, Mak pake wadahnya buat nyimpen deterjen kok.

Apa…!!” Michael pun lemas..

* * *

Ini kisah nyata. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. 🙂

Icank: Boss

December 4, 2009

Icank pernah punya seorang Boss. Tapi itu dulu..

Sebagaimana Icank, sang Boss juga punya banyak cerita. Siapakah Boss Icank? Lalu, bagaimana cerita tentang Boss-nya? Tunggu posting berikutnya..

😀

Icank: Khatib shalat Jum’at

December 1, 2009

Alhamdulillah.. saya masih bisa nulis. Maap, bagi yang udah nyempatin berkunjung tapi tidak mendapati tulisan baru. 😀 (halah!)

Saya ada cerita baru. Masih tentang Icank. Begini ceritanya.. Suatu hari Icank mendapat tugas untuk menjadi khatib shalat jum’at di sekolahnya. Sebagai anggota sie konsumsi ROHIS SMA favorit di kota Klaten doi dengan bangga menerima amanah itu. Sungguh sebuah kesempatan yang istimewa. Tidak setiap saat datang. Dan, tidak datang kepada setiap orang. Saking istimewanya kesempatan itu, si Icank grogi dibuatnya. Mungkin, kalo boleh milih, dia lebih memilih diajak piknik ke kebun binatang. (Lho, piye tho iki?!)

Dengan segenap kemampuan Icank melakukan persiapan. Air putih, kembang tujuh rupa, iket kepala hitam dan 3 buah dupa sudah siap di atas meja. Sesaat kemudian matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit. Lalu… sebentar! Sebentar!.. kayaknya salah nich jalan ceritanya. Hmm.. iya, salah. Sampe mana tadi ya?! Oh iya: persiapan. Beberapa ayat ia kutip. Beberapa hadits ia lampirkan. Selesai. Materi yang akan disampaikan sudah siap. Tinggal persiapan mental. Sebenarnya ini nih yang paling sulit. Soalnya, si Icank jarang ngomong di depan umum. Jangankan di depan umum, ngomong dibelakang umum aja dia malu-maluin. 😀 (Piss, Bro..!)

Tanpa peduli berapa persen si Icank siap, hari Jumat tiba. Setelah mengikuti pelajaran 4 guru yang berbeda, tibalah waktu shalat Jumat. Siswa-siswa mulai berjalan menuju masjid sekolah. Sebagian yang lain tengah bersiap-siap. Sebagian masih santai di depan kelas. Suara murattal terdengar melalui pengeras suara.

Cuaca cukup terik siang itu. Icank yang bertugas sebagai khatib sudah bersiap. Tinggal hitungan menit khotbah Jumat dimulai. Bulir bulir keringat mulai nampak di wajahnya. Gerah. Atau, grogi? Ah, biar adil, gerah campur grogi saja.

Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh..” Icank membuka khutbahnya.

Kemudian, muadzin segera mengumandangkan adzan. Selesai adzan Icank melanjutkan khutbahnya:

Innal hamdalillah…” (dan seterusnya..).

Entah karena semangat, atau karena grogi, atau cuaca yang memang cukup panas waktu itu, keringat Icank semakin tak terbendung. Ia sudah berada di mimbar kurang lebih 15 menit. Tak berapa lama kemudian, sampailah ia di akhir khutbah yang pertama.

Lega. Sebentar lagi rasa grogi yang melanda akan segera sirna. Itulah kira2 yang terbesit dalam pikirannya. Kini, ia tengah duduk diantara dua khutbah. Mengambil nafas panjang lalu membaca surat Al-Ikhlas dengan perlahan. Jama’ah khusyuk berdoa.

Tiba-tiba, “Allahu Akbar.. Allahu Akbarr…”. Hah!! Deg..deg deg…deg deg…deg deg… Icank melongok ke depan. Didapatinya sang muadzin tengah berdiri dengan gagah dan mengumandangkan iqamat dengan serius. Grogi yang tadi sudah mereda kembali berkobar. Disusul keringat yang mengucur kembali. Icank jadi panik. Jama’ah bingung. Terlebih lagi, sang muadzin. Ia jadi salah tingkah. Ia berhenti mengumandangkan iqamat setelah mendapat kode bahwa khutbah belum selesai. Lalu ia duduk kembali. Nampak, wajahnya memerah.

Rupanya, sang muadzin tertidur saat berlangsung khutbah pertama. Sehingga, waktu khatib sedang duduk diantara dua khutbah ia mengira khutbah sudah selesai. Sebuah pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini adalah bahwa grogi bisa diatasi. Dan, grogi bukanlah penyakit menular, ini terbukti pada Icank teman saya. Ayo Cank, maen bola lagi! (lho kok?!) 😀


%d bloggers like this: