Suatu Hari Di Rumah Mertua

Tidak semua orang merasa nyaman ketika menginap di rumah mertuanya. Nyaman disini maksudnya bisa menjadi diri kita yang apa adanya. Tanpa pencitraan. Karena, bagaimanapun tentunya kita menyadari bahwa dalam diri kita terdapat kekurangan yang kita tidak ingin orang lain mengetahuinya. Ini manusiawi.

Saya adalah manusia normal. Sama seperti kebanyakan. Di depan mertua saya selalu berusaha tampil sempurna. Sesempurna yang saya bisa tentunya. Tapi, sesempurna apapun kamuflase yang kita lakukan yang namanya sifat asli itu tidak bisa ditutup-tutupi. Dan, saya pernah malu karena sifat saya yang cuek.

Saat itu belum terlalu malam. Karena merasa lelah setelah seharian bekerja saya pun pamit ke istri untuk rebahan sebentar di kamar. Istri saya masih nonton tivi sambil ngobrol dengan ibu mertua. Saya tidak menemani karena seringnya tidak nyambung dengan materi obrolan. Maklum, ibu dan anak itu kalo lagi ngobrol biasanya asik dan apa-apa dibahas. Dari ngobrolin kejadian-kejadian hari ini dan hubungannya dengan harga sayur mayur yang makin fluktuatif. Pokoknya seru. Dan selalu begitu. Kalo saja ada yang denger mungkin disangka obrolan dua orang pengamat ekonomi.

Saya akhirnya memutuskan keluar kamar karena ingat kalo ada siaran langsung bigmatch premier league. Istri yang tahu maksud saya langsung mengangsurkan remote. Dan, dengan satu kali klik berpindahlah acara ajang pencarian bakat menjadi acara sepakbola: Arsenal vs Manchester United.

Mungkin, karena terlalu asik nonton bola saya tidak menyadari kalo ibu mertua dan istri saya sudah pindah ke ruang makan yang ada di belakang. Paling ngelanjutin ngobrol sekalian makan malam, begitu pikir saya.

Beberapa saat berselang istri menyusul ikutan nonton sepakbola. Tapi, tak berapa lama tivi saya matikan. Karena acara sepakbola sudah selesai dan Arsenal –tim favorit saya- menang. Saya pun segera mengajak istri saya untuk tidur sebab besok pagi ada kegiatan.

Istri saya mendahului masuk kamar. Sedangkan saya, sebagai seorang suami yang baik, terlebih dahulu mengecek satu-per-satu pintu dan jendela sebelum tidur. Memastikan semuanya terkunci dengan rapat.

Saya berjalan ke ruang tamu. Mengecek pintu. Jendela. Gorden. Dan, terakhir mematikan lampu utama kemudian menyalakan lampu yang lebih redup.

Saat berjalan ke kamar, saya lihat pintu tengah yang menghubungkan ruang makan dengan ruang tengah masih terbuka. Maka dengan berjalan bergegas saya datangi pintu itu dan dengan segera menguncinya.

Ceklek!

“Nah. Sekarang saatnya tidur.” Pikir saya.

Baru saja merebahkan diri, saya dikagetkan oleh suata ketukan pintu yang kemudian diikuti suara panggilan.

Tok! Tok! Tok! Tok!

Wik..! Wik..! Dwik..!” begitu suara itu memanggil nama istri saya.

Istri yang kebetulan juga belum tidur ikutan bingung. Siapa malam-malam begini bertamu?

Suara ketukan pintu terdengar lagi. Juga suara panggilan itu.

Wik..! Wik..! Dwik..!

Tok! Tok! Tok!

Wik..! Wik..! Dwik……!

Istri saya bergegas keluar kamar. Lalu, berjalan ke arah ruang makan. Saya mengekor di belakang. Segera istri membuka pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang makan. Dan… ibu mertua saya muncul dari balik pintu. Ajaib kan?

Ternyata, saat saya mengunci pintu ruang tengah ibu mertua saya masih berada di ruang makan.

Duh… :p

Advertisements

2 Responses to “Suatu Hari Di Rumah Mertua”

  1. ermunadji Says:

    tak kirain ada yg mau ngajak ronda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: