Suatu Hari Di Sebuah Kelas (1C)

Guru killer selalu menghadirkan suasana yang kurang baik bagi kesehatan, terlebih saat ulangan.

Seperti pagi ini, kelas saya, kelas 1C ulangan matematika. Pelajaran ini jadi spesial karena guru pengampunya spesial. Lucu tapi galak. Galak tapi lucu. Ini semacam es manis pedas. Butuh kepekaan untuk bisa menikmati keduanya secara bersamaan.

Pak Pur, begitu guru itu biasa dipanggil, adalah pengampunya. Tubuhnya gempal. Tingginya tak sampai 160 sentimeter. Rambutnya klimis dan disisir menyamping ala Chow Yun Fat.

Sebelum ulangan saya beri waktu lima menit untuk bersih-bersih. Bagi siapa saja yang kedapatan sampah di sekitar mejanya maka akan saya kurangi nilai ulangannya. Mengerti?” kata pak Pur berapi-api di depan kelas.

Murid-murid kelas 1C  mendadak sibuk. Masing-masing membersihkan mejanya. Sebersih mungkin. Karena sampah secuil saja bisa berakibat fatal: pengurangan nilai ulangan. Ini sebenarnya tidak fair. Tapi melihat guru yang sangar itu nyali kami untuk protes mendadak menciut.

Yak. Waktu habis..!” teriak pak Pur sambil melihat jam tangannya.

Sedetik kemudian kelas hening. Murid-murid duduk dengan tangan berpangku rapi di atas meja. Nafas mereka tak beraturan. Semua tatapan seragam mengarah ke papan tulis.

Pak Pur berjalan mengitari ruangan dengan kedua tangan di belakang. Tatapan matanya tajam laksana elang yang sedang mencari mangsa. sesekali ia mengangguk-angguk kecil disertai senyuman kecil.

Nah. Kamu. Minus satu!” kata pak Pur sambil menunjuk ke arah Ardi.

Yang ditunjuk tampak kebingungan. Lalu, setelah melihat ke bawah ia tahu alasannya. Diambilnya sesobek kecil kertas di dekat kaki mejanya. Lalu dengan langkah buru-buru ia masukkan sobekan kertas itu di tong sampah yang ada di dekat pintu.

Kamu… Minus dua!” kali ini Edi yang jadi pesakitan.

Kamu, minus satu!” Nila celingukan mencari sampah.

Kamu juga, minus satu.” Husni kaget. Tapi, berusaha kalem.

Besarnya nilai minus berbanding lurus dengan sampah yang ditemukan. Semakin besar ukuran sampah yang ditemukan, semakin besar pula nilai minusnya. Ini sungguh teror yang luar biasa. Saya dan murid-murid yang lain serasa jadi papan target. Menunggu peluru mengoyak tubuh kami.

Suasana hening kembali.

Apakah teror sudah berakhir?

Kamu……” pak Pur mengarahkan telunjuknya ke arah Bambang. Tanpa di komando semua mata menatap ke arah Bambang. Teman yang tubuhnya kecil itu nampak tenang. Mungkin, karena ia bukan orang pertama yang nilainya bakal dikurangi karena sampah.

Minus sembilan.

Bambang kaget. Mulutnya mangap. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Dari mimik wajahnya saya yakin ia ingin berteriak: TIDAKKKKK…!

Selidik punya selidik, ternyata di bawah meja Bambang terdapat sampah kertas yang digulung. Besarnya hampir sekepalan tangan.

Hari ini bukan harinya Bambang. Kita sebut saja kejadian ini Tragedi Bambang.

 

***

 

Selepas Tragedi Bambang, ulangan Matematika berlangsung tertib. Maksud saya, hening. Ya. Hening. Jangankan berbisik, menoleh saja kami tidak berani. Salah-salah bisa dapat minus. Bahkan, seandainya  ada yang kepalanya gatal saya yakin tidak akan digaruk. Sebab, bisa dianggap memberikan kode jawaban yang akibatnya bisa dapat minus juga. Berat.

Sebuah kejadian luar biasa merusak keheningan. Entah dari mana tiba-tiba terdengar suara misterius. Nyaring. Tapi, seperti tertahan.

Pyuuutttttt…..!

Lalu, terdengar lagi.

Pyyyyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttt….!

Pak Pur kaget. Lalu, geleng-geleng kepala. Senyuman nampak tersungging dibibirnya. Lalu, dengan perlahan meninggalkan kelas yang sudah terkontaminasi oleh … olehhh… hmmm…  kita sebut saja  Gas Tak Tahu Diri.

Kelas sontak seluruh siswa yang sebelumnya menahan tawa, terkekeh-kekeh. Gaduh. Riuh. Bergemuruh. Siswa 1C mencetak sejarah.

Bagi saya, ini semacam pembalasan yang sempurna atas kesewenang-wenangan apa yang terjadi. Dan, hebatnya, sampai saat ini si pemilik suara misterius ini belum diketemukan…

😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: