Suatu Hari Di Dekat Mesin Jahit

Mul dan Dar adalah kakak beradik yang sedang gusar karena pelajaran ketrampilan menjahit. Maklum, mereka berdua laki-laki. Sedangkan menjahit cocoknya untuk perempuan.

Pelajaran ketrampilan menjahit kali ini adalah belajar membuat celana pendek. Murid-murid mendapat pelajaran dari mulai mengukur, membuat pola, memotong bahan kemudian menjahit sampai jadi sebuah celana.

Mul dan Dar berada dalam kelas yang sama meskipun mereka berdua kakak-beradik. Sebabnya, tidak lain karena si Mul ini mempunyai kecerdasan lebih jika dibandingkan dengan anak seusianya. Maka, oleh orang tuanya ia disekolahkan lebih dini. Dan nyatanya, memang ia mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Bahkan, di beberapa mata pelajaran ia lebih baik dari teman-teman sekelasnya.

Si Mul terkenal piawai dalam hal yang berkaitan dengan ketrampilan. Pelajaran olah raga, misalnya. Ia selalu mendapat nilai 8 untuk ketrampilan koprol, headstand, handstand dan kayang yang untuk teman-temannya itu merupakan sebuah ketrampilan yang cukup sulit. Mul memang anak ajaib.

Beda olah raga beda menjahit. Keduanya memang nyambung dalam hal ketrampilan. Akan tetapi, skill yang diperlukan berbeda.

Bagian ini gimana ya cara njahitnya?” gumam, Dar pada suatu sore. Ia nampak membolak-balik celana pendeknya. Ia tidak tahu cara menjahit bagian bawah celana.

Mul yang kebetulan lewat berseloroh, “Serahkan padaku!

Dar memang selalu percaya pada kemampuan adiknya itu dalam hal olah raga. Tapi, ini beda kasus. Ini menjahit. Dar terpaksa mengiyakan walau sejatinya ia ragu.

Mul, lama nggak njahitnya? Soalnya, aku mau mandi dulu.

Halah.. Cepet itu. Nggak nyampe lima menit juga kelar.” Jawab Mul penuh percaya diri.

Wokeh! Celana saya taruh di kursi dekat mesin jahit ya.

 

*10 menit kemudian*

 

Dar yang sudah selesai mandi berjalan ke ruang tengah bermaksud melihat Mul menjahit. Sebenarnya, pengen mencuri ilmu menjahit, sekalian memastikan kalau celananya sudah dijahit. Tetapi, yang dicari kedapatan sedang asik di depan tivi.

Mul, celanaku gimana? Sudah selesai?” tanya Dar.

Udah lahTuh, di sana.” Jawab Mul sambil menunjuk ke arah mesin jahit.

Mendengar jawaban sang adik yang meyakinkan, Dar segera berjalan menuju ke mesin jahit. Benar saja, celana pendek itu sudah terlipat rapi di atas mesin jahit.

Dar mengambil celana itu kemudian menunjukkannya pada Mul.

Hebat kamu, Mul”. Kata Dar sambil menatap takjub ke arah celananya. “Aku coba ya.”

Mul yang lagi asik dengan acara tivi hanya mengangkat jempol tangan tanpa menoleh tanda setuju.

Loh! Mul, gimana ini?

Dar terlihat limbung. Kedua tangannya memegangi celana. Sementara kaki kanannya masuk ke dalam celana tapi ujung kakinya seperti tersangkut sesuatu.

Mul tercekat. Ia menatap kakaknya dengan heran.

Ini gimana ini, celananya? Wealah, kok nggak ada lubangnya gini? Kamu njahitnya salah atau gimana sih, Mul.” Protes Dar.

Mul beranjak mendekati kakaknya. Diamatinya celana pendek kakaknya itu baik-baik. Tidak ada yang aneh. Sekilas celana pendek itu nampak terjahit dengan rapi. Hanya saja… tidak ada lubang untuk lewat kaki.

Mul, nyengir. “Ya, maap. Wong aku juga belum pernah njahit bagian itu kok.” Katanya datar…

 

Advertisements

2 Responses to “Suatu Hari Di Dekat Mesin Jahit”

  1. Nusantara Adhiyaksa Says:

    saya bayangin ekspresi saat kakinya gak bisa masuk karena gak ada lobang pasti Gokil Abisssss, wkwkwkkw
    kalau aku sih cowok gak bisa tuh menjahit, heee kalau nambal/nutup lobang bisa juga meski gak rapi … wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: