Gondrong itu …

“Gondrong itu …”

Menurut Anda, apa kata terbaik untuk melengkapi kalimat di atas?

Ini sebenarnya pertanyaan mudah. Tapi, bisa jadi menyulitkan. Setidaknya, untuk menjawabnya kita perlu berpikir sejenak-dua-jenak.

Pertanyaan seperti ini sebenarnya biasa saya gunakan untuk mencari tahu bagaimana persepsi seseorang terhadap sesuatu hal. Dan, dalam hal ini saya memilih gondrong.

Kenapa gondrong? Karena saya pernah gondrong. Ini penting. Saya kepengen tahu, sebenarnya bagaimana tanggapan orang-orang berambut gondrong.

Mengapa kepengen tahu? Karena saya dan seorang temen saya pernah mengalami hal yang sulit dilupakan.

Dan, inilah pendapat orang mengenai gondrong.

Gondrong itu nakal. Pendapat ini disampaikan oleh ibunda tercinta ketika mendapati anaknya yang cakep ini sedang tersesat ke dalam badai trend anak kuliah: gondrong + celana panjang bolong di dengkul.

Sebagai anak kuliahan, waktu itu saya kepengen melakukan banyak perubahan. Karena mahasiswa kan agent of change kan ya?! Saya inget kata Aa’ Gym, “Mulailah dari hal kecil. Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari sekarang.” Jadi, Aa’ putuskan, yang pertama kali harus Aa’ ubah, adalah diri Aa’ sendiri. Bukankah ini sudah sesuai? Betul tidak…?! *Aa’ Gym mode on*

Dan, saya berhasil. Saya berubah jadi nakal. Yeahh…!!!😉 *mengacungkan jempol, telunjuk & jari kelingking*

Gondrong itu cantik. Ini adalah pendapat yang masih belum saya terima hingga saat ini. Pendapat ini disampaikan secara tidak langsung oleh seorang pelayan toko ketika saya menemani belanja perlengkapan dekorasi di sebuah toko buku di Klaten.

Jadi gini ceritanya, waktu itu saya memakai jaket yang ada penutup kepala (jumper?) warna putih. Dan, rambut saya waktu itu lumayan panjang. Sebahu lebih dikit lah.. Saya ini orangnya pendiem (sebenarnya lebih tepatnya cool).🙂 Nah, saat itu saya tidak banyak ekspresi. Diam adalah emas. Tetapi, tahukah apa yang terjadi sodara-sodara? Ternyata peribahasa itu salah. Yang benar: Diam adalah embak.

Hal ini saya ketahui dari pelayan-pelayan yang sejak saya dan kawan saya datang nampak berbisik-bisik. Tatapan mata mereka pun aneh. Penuh kecurigaan. Pas mau bayar belanjaan, temen saya nanya sesuatu, “Udah lengkap kan?!” Begitu saya ngomong, “Udah kayaknya.” Eh, mbak-mbak pelayan itu cengar-cengir. Lalu, nyeletuk ke teman saya, “Kirain sama istrinya, Mas..?!” Hah…!! Astaghfirullahal’adzim. Sumpah, mendengar itu saya kaget. Ternyata keputusan mengubah gaya ini adalah kesalahan fatal. Sebab, tidak cuma sekali saya disangka cewek. Kapok!😦

Gondrong itu boros. Bener. Tiap pagi samphoo-an. Sore samphoo-an. Pengeluaran membengkak, Bos!

Gondrong itu seniman. Nah, ini kayaknya yang agak bikin adem. Dan, rasa-rasanya waktu gondrong dulu saya berasa seperti musisi kelas dunia. Macam Michael Portnoy-nya DreamTheater-lah.😀

Nah, saya ada tips buat Anda yang saat ini sedang berambut gondrong atau lagi kepengen gondrong. Mantepin hati. Dan, jawablah dengan baik: mengapa saya harus gondrong?

Terakhir, gondrong is not crime…😀

6 Responses to “Gondrong itu …”

  1. n Says:

    grondong itu jagung yang dibawa ketika nonton

  2. n Says:

    itu bronjong

  3. n Says:

    oh kalau itu saya..haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: