Komplain..

Sebenarnya, saya sudah menyiapkan cerita. Tetapi, tiba-tiba saya kehilangan selera untuk menuliskannya. Gara-garanya sepele. Rekening bank yang biasa saya pake buat transaksi disedot dengan sadis dan tanpa ampun oleh pihak ketiga. Saya kecewa. Mengapa harus ada pihak ketiga diantara kami. Padahal, butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa mempercayainya. Jujur, ini membuat hubungan saya dengan bank itu jadi tidak seindah dulu. Hhuuufff…..

Saya kecewa..! šŸ˜¦

Saya menyesal. Mestinya, tadi saya tidak perlu emosi ke mbak Dinda (karyawan di bank itu.). Lha mau gimana lagi. Wong, namanya komplain kok. Ya harus disertai ’emosi’ dong. Biar nanti bisa njawab kalo ada yang nanya: Ekspresinya mana..!?? šŸ˜€ Dan, saya tahu si mbak itu profesional. Ini terlihat dari cara dia menutup pembicaraan.

Mbak, saya minta maaf ya atas sikap saya tadi..

Advertisements

22 Responses to “Komplain..”

  1. asa kehidupan Says:

    maksudnya bagaimana? tabungan tiba-tiba ilang gitu?
    wah pantas lah marah.. siapapun juga akan marah untuk sesaat..

    memang lebih bagusnya simpanan itu dalam wujud emas.. bukan dengan disimpan dibank.. šŸ™‚

    • sulaimann Says:

      Jadi gini kronologisnya:

      Saat sedang takziah, ada telpon masuk. Dari perusahaan sebuah jasa asuransi yang katanya sudah bekerjasama dengan bank itu. Tujuan menelpon adalah untuk menawarkan jasa asuransi.

      Dalam proses penawaran itu, si penelpon biasanya akan menjelaskan dengan panjang lebar tentang keuntungan mengikuti asuransi yang ditawarkannya. BLa.. bla… blaaaa…… Penjelasannya puanjangggg…. Dan, lammmaaaa…… Dan, biasa ngomongnya cepat (mbak Dinda menyebutnya: telemarketing).

      Rata-rata orang yang mendengarkan penjelasan ini biasanya cepet bosen. Jadi, biar cepet kelar itu promosi dijawab aja dengan iya.. iya.. iya... Disinilah letak kekecewaan saya. Ternyata, ketika mengucapkan “iya.. iya.. iya…”, tadi direkam. Dan, rekaman itu dijadikan alat untuk verifikasi bahwa si pelanggan setuju. Padahal, belum tentu.

      Saya tidak mengerti mengapa dengan gampangnya bank mengeluarkan uang yang ada di rekening. Ketika saya cek ke customer service yang menangangi hal ini (mbak Dinda, lagi) katanya, orang asuransi itu punya bukti rekaman dimana ada pernyataan setuju.

      Begini kira-kira dialog kemarin siang. To the point saja yach… bagian basa-basi saya lewati…

      Mbak Dinda = MD
      Saya = S

      . . .

      S : “Lho mbak, gimana sih kok B** bisa ngeluarkan duit saya?”
      MD : “Jadi gini, Pak. Bapak pernah ditelpon oleh pihak asuransi kan?!”
      S : “Benar”
      MD : “Nah, mereka punya rekaman bahwa bapak mengatakan ‘iya’ atas penawaran yang mereka sampaikan, pak. Yang artinya bapak setuju. Jadi, ya kami bisa meng-acc permintaan mereka untuk menarik uang dari rekening, Bapak.”
      S : “Ohh begitu ya. Asal tahu saja mbak, pas orang asuransi nelpon waktu pas lagi takziah (melayat). Suaranya tidak kedengaran dengan jelas. Jadi telpon saya tutup.”
      MD : “Tapi Bapak mengatakan ‘iya’ kan?!”
      S : “Saya tidak ingat kalo yang itu.”
      MD : “Mereka punya rekaman kok, Pak.”
      S : “Jadi gitu ya..?! Gampang banget ya ambil duit orang. Tolong direkam mbak, siang ini saya mau ngomong ‘tidak’. Saya mau berhenti berlangganan asuransi yang tidak jelas itu.”
      MD : “Maaf, pak, kami tidak punya alat rekam. Silakan bapak ke kantor untuk mengisi formulir terlebih dahulu baru permintaan bapak kami proses ke pihak asuransi.”
      S : “Lho!!! Gimana ini. Giliran mau ambil duit cukup dengan rekaman. Eh, giliran mau putus malah dipersulit. Suruh ke bank isi formulir. Enak aja.”
      MD: “Mohon maaf, Pak. Memang begitu mekanismenya, Pak.”
      S : “Mbak, jujur saja saya kecewa dengan hal ini! Jangan kayak gitulah… Kalo pengen maju ya ayo maju bersama. Tapi caranya jangan seperti itu dong. Ini dzalim namanya!”
      MD : “Maaf, Pak. Nanti akan saya sampaikan ke asuransinya, Pak.”
      S : “Saya pengennya omongan saya ini direkam juga mbak. Trus, sampaikan ke orang asuransi itu biar didengar! Biar dia tahu kalo hari ini saya ngomong ‘tidak’.”
      MD : “Iya, Pak! Tapi kami tidak punya perekam, Pak. Yang pasti, nanti keluhan bapak akan saya sampaikan ke pihak asuransi, Pak.”
      S : Terserah. Saya tidak punya urusan dengan asuransi. Urusan saya dengan B**! Dan, saya minta uang saya dikembalikan.”
      MD : “Akan kami usahakan, Pak. Tapi biasanya tidak bisa 100%. Cuma 80%. Kan ini artinya bapak memutus sepihak.”
      S : “Apa-apaan lagi ini!”
      MD : “Maaf, Pak. Memang begitu, Pak.”
      S : “Ya, sudah! Pokoknya saya tidak mau tahu. Saya minta B** menahan uang saya agar tidak diambil pihak asuransi itu.”
      MD : “Kalo untuk yang itu saya harus konfirmasi dengan pihak asuransi dulu, Pak.”
      S : “Mbak, saya tidak mau tahu. Saya tidak punya urusan dengan asuransi. Urusan saya dengan B**.”
      MD : “Baik, Pak. Kami akan bantu. Hari ini juga akan saya blokir dari sini.”
      S : “Baik.”
      MD : “Ada yang lain, Pak?”
      S : “Mbak Dinda, saya minta maaf. Terima kasih anda bersedia mendengarkan dan membantu saya.
      MD : Iya, Pak. Saya mengerti kok, Pak. Kami minta maaf juga sudah membuat bapak kecewa. Maaf, Pak apakah bapak punya nomor telepon lain yang bisa dihubungi selain nomor ini? Nomor handphone mungkin?
      S : Ada. Tapi, kalo menghubungi saya ke nomor ini saja. (saya pake nomer kantor.)

      Satu hal lagi, ternyata yang komplain tentang hal ini bukan cuma saya. So, waspadalah.. Waspadalah…!!!

      • asa kehidupan Says:

        mengerikan sekali….. semua hil sekecil apapun bisa dijadikan sebagai kata setuju..
        ya bisnis di era kapitalisme.. cari korban seenakknya saja… tanpa ada yang ditakuti bahwa perbuatannya merugikan orang lain…
        -the world is flat-

      • sulaimann Says:

        Ada yang kapitalis kelas teri juga lho.. Perhatikan SMS-SMS yang masuk ke Hape-mu.. šŸ˜€

      • Derby Romero Says:

        “SMS ini aku kirim langsung dari hape aku.”

        Beberapa hari lalu, isi ulang pulsa IM3. Paginya tiba-tiba menyublim. Hilang. Ternyata dapat kiriman SMS Tau-Sial dari 9133. Ternyata menyunat pulsa. Huh!

      • sulaimann Says:

        Sepertinya, setiap bagian dalam kehidupan ini sudah ada yang mengorupsi.. Duh! šŸ˜¦

      • anonim Says:

        saya dapat sms dari 91xx (xx nya lupa, coz langsung dhpus), tapi alhamdulillah, pulsa tidak menguap

  2. Derby Romero Says:

    Dinda Kanya Dewi sekarang jadi CS sebuah bank, Oom?

  3. Dinda Kanya Dewi Says:

    kan udah putus hubungan ma derby romero

  4. Derby Romero Says:

    @Dinda Kanya Dewi
    Jadian lagi yuk..
    *sava.tau.davat.hadiah.BNI.rejeki.durian.runtuh

  5. hanif khoiruddin Says:

    wew,,,

    • sulaimann Says:

      *nge-rap*

      Ono opo, Bro..?!
      Neng kene opo-opo ono.
      Ono sing ra ono, ning akeh sing ono
      Wujude neko-neko barang indo utowo sing soko londo

      Bro, kepiye kabarmu?
      Isih kuru opo wis tambah lemu
      Pit montormu opo isih supra-x werno biru?
      Sing mbiyen kanggo nderekke neng solo Ibu..

      Bro, yok opo kabare Ihsan?
      Jarene saiki saben isuk-isuk dek-e pit-pitan
      ngidul, ngulon, ngalor sok-sok yo ngetan
      Mugo-mugo ae kepengenane ketekan

      Wis yo, wis yo ndak kakean pertanyaan
      Ngono yo, wis yo aku ngenteni jawaban..

      *nggaya saykoji*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: