Memancing Katak..

Seperti ikan, katak bisa dipancing. Bahkan, kita tidak perlu memakai kail. Dan, kegiatan memancing ini sama menyenangkan. Menurut saya, lebih menyenangkan memancing katak daripada memancing ikan. Ya, benar. Saya pernah memancing katak. Dulu… Sewaktu saya masih remaja. Heheehe…

Masa remaja saya adalah masa yang penuh hal baru. Masa dimana saya merasa bermain menjadi sebuah kebutuhan pokok. Rasanya, saya diciptakan hanya untuk bermain.. Waktu itu seorang kawan adalah inspirasi bagi kawan yang lain. Jika ada satu anak yang bisa membuat sesuatu, maka yang lain pun akan berusaha untuk bisa. Meski akhirnya, tidak setiap anak bisa. Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala membagi bakat kepada remaja-remaja di kampungku.

Tentang memancing katak, saya punya cerita menarik. Masih tentang Yanto.😀

Di suatu sore yang cerah, di utara desa. Yanto dan beberapa orang terlihat sibuk memancing katak. Mereka tidak bergerombol. Tidak pula bercakap-cakap. Ini dilakukan agar katak tidak takut. Sehingga, umpan yang diikat di ujung tali dan dinaikturunkan di makan katak. Sekadar ngasih tahu saja, bahwa memancing katak tidak seperti memancing ikan. Umpan, biasa katak yang berukuran kecil, diikat diujung tali. Kemudian, umpan itu kita usahakan agar bisa mencapai tanah dengan cara melewatkannya di sela-sela di antara batang pohon padi. Nah, yang dilakukan selanjutnya adalah, menarik ke atas kemudian menjatuhkannya kembali. Dan, jika tarikan terasa berat itu tandanya umpan kita dimakan katak. Biasanya, diikuti suara gaduh. Tarik umpan dengan cermat dan jangan terlalu cepat. Lalu, tangkap kataknya.😉 Kelihatannya sederhana. Tapi, untuk bisa melakukannya dengan baik Anda perlu lebih dari 5 kali mencoba.

Sedang asik memancing katak, sambil menarik-narik umpan Yanto menyapukan pandangan ke sekeliling. Pandangannya berhenti pada sesosok lelaki yang sepertinya ia kenali. “Gue godain ah!” Kata Yanto dalam hati.

Yanto berjalan mendekat. Bak detektif, ia berjalan menyamping dengan pandangan menghadap ke depan. Jarak antara dirinya dan laki-laki itu semakin dekat. Ia menatap kembali ke arah laki-laki itu. Hatinya makin mantap, bahwa laki-laki itu adalah kawannya yang sudah lama tidak berjumpa. Senang campur deg-degan.

Yanto mengatur strategi. Ia ingin laki-laki itu tidak menyadari kedatangannya. Dan, ketika nanti laki-laki itu sadar bahwa yang ada di dekatnya adalah kawan lama, maka pertemuan itu pasti akan mengharukan. Hiks.. hiks… hiks..!!! Begitulah, Yanto menyusun rencana. Senyuman tersungging di wajahnya.

Yanto kembali berjalan menyamping. Kali ini sedikit menundukkan wajah. Dan, ketika jarak tinggal 3 meter, Yanto melompat ke depan laki-laki itu sambil bersorak…

“Jreng.. jrenggg…!!”

Tiba-tiba tubuh Yanto kaku. Senyuman yang sudah sedari tadi ia siapkan berangsur menghilang. Laki-laki itu diam tak bergeming. Ia menatap wajah Yanto. Dingin.

“Saya kira, Mat Precil… Heheeheee…!!!” Yanto memaksa untuk tersenyum, meski yang terlihat adalah wajah yang aneh. Ternyata salah orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: