Bis DAMRI + Surabaya..

Pernah ke Surabaya? Apa yang paling Anda ingat tentang Surabaya? Panasnya?! Bahasanya?! Pecelnya?!

Masing-masing dari Anda pasti punya rekaman yang berbeda-beda, sesuai dengan keadaan hati Anda. Harus diakui, saat tiba di Surabaya kita akan disambut hawa panas saat turun dari Bis di terminal Bungurasih. Ketika kita memutuskan untuk masuk lebih jauh ke bagian yang lain, kita akan mendapati orang-orang dengan bahasa yang lucu. Setidaknya menurut saya.😀

Hal yang masih membekas di hati saya, tentang Surabaya adalah bis DAMRI-nya. Bukan tentang keistimewaan si Damri, kisah ini menyoroti Damri dari sisi yang lain.

Hari itu, saya bersama seorang kawan yang lain menjelajah kota Surabaya. Menerobos jalan-jalan tengah kota yang padat. Rasanya, suhu udara waktu itu lebih panas dari biasanya. Benar saja, saat saya melongok ke luar jendela saya dapati awan-awan bersicepat memenuhi langit Surabaya kota. Serupa kain abu-abu besar yang dibentangkan begitu saja. Entah oleh siapa.

Berdua, di dalam bis kami berdiskusi. Menentukan siapa yang sebaiknya lebih dahulu dikunjungi. Hal ini kami lakukan karena waktu yang kami miliki terbatas. Tidak ada tujuan lain kecuali efisiensi.

Saking asiknya bercakap-cakap, kami tak menyadari jikalau titik-titik air mulai berjatuhan dan menimbulkan suara saat membentur badan bis. Kami seperti sedang ditembaki dari atas.

Hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya adalah para penumpang berdiri dan berpindah tempat duduk setelah terlebih dahulu mendongak ke atas. Kami pun demikian, karena terpercik air hujan. Entah dari mana datangnya? Dan pertanyaan itu terjawab saat saya mendongakkan kepala: rupanya atap bis bocor. Haduh!

Tanpa perlu berdebat, kami memutuskan pindah tempat duduk. Bergeser ke kursi yang berada di seberang tempat duduk kami sebelumnya.

Lega. Itulah yang kami rasakan. Lalu, kami pun tertawa kecil dan saling menatap. Seperti ada yang mengkomando. Begitulah!

Bis tua itu terus berjalan. Dari suara mesinnya, bisa saya rasakan betapa ia telah menempuh perjalanan yang teramat jauh. Perjalanan yang ia sendiri tak tahu sampai kapan. Mungkin sampai ia benar-benar tak bisa berjalan, baru akan berakhir. Perancang bis ini tentunya bukanlah orang sembarangan.

Saya kembali mendongak, memastikan tak ada lubang di atap bis tempat saya duduk. Alhamdulillah, masih tertutup rapat. Saya yang cukup lelah memilih untuk menyandarkan punggung. Kantuk pun menyergap. Saya setengah sadar…

Raga ini semakin lemas saja. Tidur adalah pilihan yang bijaksana. Karena untuk sampai ke tempat tujuan masih setengah jam lagi.. Saat niat sudah bulat, tiba-tiba air kembali memercik mengenai kaki saya. Buru-buru saya mendongak. Mengamati lebih teliti bagian atap. Nihil. Tapi, saya dapati percikan air itu semakin sering. Selidik punya selidik ternyata kursi yang saya duduki berada tepat di atas ban belakang bis. Dan, di bagian yang menjorok ke dalam badan bis sudah menganga… walah! DAMRI. DAMRI…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: