Survival

Survival. Apa yang terbayang dalam benak Anda saat mendengar atau membac kata tersebut? Anda bisa jadi membayangkan tentang sebuah usaha untuk mempertahankan hidup. Ya, boleh lah.. tapi kalau saya tidak selalunya demikian. Survival saya artikan lebih luas. Yakni sebuah usaha untuk mengeluarkan diri dari sebuah permasalahan.

Menurut saya, setiap orang mempunyai kemampuan survival. Hanya saja sejauh mana tingkatannya masing-masing orang berbeda-beda. Tentang hal ini, saya punya sebuah cerita. Tentang seorang kawan yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota seorang diri. Dengan “perbelakan perbekalan” terbatas. Bisa dibilang modal nekat.

Kita sebut saja tokoh kita kali ini, mbah Godong,. Dia masih kerabat jauh sama mbah Google. Tepatnya sepupu. Nggak, nggak… saya sedang bercanda… : )

Suatu hari, mbah Godong mendapat undangan sebuah acara ke kota Solo. Teman-temannya juga mendapat undangan itu. Rencananya mereka akan berangkat bareng. Naik motor berbonceng-boncengan.

Pada hari H, semuanya sudah berkumpul. Setiap orang mencari pasangan boncenger (sebutan untuk orang yang membonceng). Hanya mbah Godong yang tidak punya boncenger. Ia sendirian.

Setelah berjalan kira-kira 40 menit sampailah rombongan ke tempat tujuan. Acara berlangsung meriah. Lalu, tibalah waktu pulang. Bersama boncengan masing-masing semuanya melaju. Hanya saja, kali ini tidak beraturan. Ada yang kenceng ada yang jalannya nyantai. Dan, yang paling nyantai pada malam itu adalah mbah Godong. Bukan karena doi ga berani ngebut. Tapi karena emang motor yang sudah uzur dan tidak bisa ngebut.

Yang lain sudah berada jauh di depan meninggalkan mbah Godong seorang diri. Ia tak punya pilihan lain kecuali menikmati perjalannnya malam ini. Bergaya bak lonely ranger ia memacu motornya dengan kecepatan sedang. Ia pun tak lupa menoleh ke kiri dan ke kanan sebagai bukti bahwa ia sedang menikmati perjalanan ini. Sebenarnya sich, dia sedang berusaha mengibur diri.

Tanpa diduga, tanpa disangka motor melaju dengan aneh. Serasa ban belakang tak mencengkeram aspal dengan baik. Melenggak-lenggok ke kanan ke kiri. Mbah Godong pun sekonyong-konyong menghentikan laju motornya. Ia melihat ke arah ban belakang. “Mati aku!” umpatnya dalam hati.

Sendirian. Ban motor bocor. Dan tanpa perbekalan (duit, gitu…). Sungguh paduan yang sempurna untuk menguji daya survival mbah Godong. Ia pun memutar otak. Sambil mendorong motor tentunya.

Setelah berjalan, kira-kira 5 menit, sampailah ia di bengkel tambal ban pinggir jalan. Ia memarkirkan motornya lalu menghampiri si pemilik tambal ban itu.

“Maaf, Pak. Motor saya, bannya kempes. Bisa pinjem pompa ban, Pak?” kata mbah Godong membuka percakapan.

“Silakan, Mas.” Jawab si bapak.

Lalu, mbah Godong pun memompa ban motornya. Sebenarnya ia tahu kalo ban motornya kempes karena bocor. Tapi ini adalah survival maka harus mengikuti prosedur. Ingat survival..

“Wah, kok bannya kempes lagi ya, Pak?! Maaf Pak, bisa pinjem besi pengungkitnya? Saya mau pastikan kondisi bannya.” Kata mbah Godong sambil pasang senyum manis.

“Ya. Silakan dipake mas..”

Bersicepat mbah Godong mengeluarkan ban dalamnya. Kemudian ia memeriksa bagian demi bagian bannya.

“Pak, saya boleh pake airnya ya?”

“Ya, Mas..” Jawab si bapak.

Mbah Godong memompa bannya. Lalu memasukkan ban ke dalam air. Dengan teliti ia perhatikan ban yang tercelup ke dalam air. Blurrpppp…. Blluurrpppp… blurrrppppp…. Mbah Godong tersenyum. Ia berhasil mendapati penyebab kempes ban motornya malam itu. Ia pun menghampiri si bapak pemilik tambal ban lagi.

“Pak, saya pinjam pengasah ban bisa?

“Oh ya. Monggo, Mas…”

Beberapa menit kemudian…

“Maaf, Pak. Boleh minta lem sama penambal ban-nya? Sedikit saja, Pak.” Pinta mbah Godong sembari memasang wajah memelas.

“Ini Mas.” Jawab si pemilik bengkel sambil menyodorkan apa yang diminta mbah Godong. Dan, ga pake lama. Sepertinya, si bapak sudah faham kalau mbah Godong sedang ritual ngemis survival. Alias dalam keadaan yang memprihatinkan.

Sebenarnya mbah Godong pengen pinjem pemanas sekalian. Tapi, mengurungkan niatnya. Ia khawatir, kalau-kalau nanti disarankan sama si bapak untuk meminta bengkelnya sekalian.. 😀

Ban sudah tertambal. Tidak kempes lagi. Ia pun pamit ke bapak yang punya bengkel tambal ban. Tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu ia pun pulang.. “I’m home..!!” katanya dalam hati.

Sodara-sodara, ini bisa dijadikan tips. Tips survive dari ban bocor saat tidak membawa perbekalan (baca: duit).

Advertisements

4 Responses to “Survival”

  1. arifromdhoni Says:

    Wew 😉

  2. arifromdhoni Says:

    Ada. Malah dengan tanda kutip 😎

    Dengan “perbelakan” terbatas.

    Keren 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: