Penampilan itu penting

Ajining diri gumantung ono lathi, ajining rogo gumatung ono busono.” [pepatah jawa]

Penampilan itu penting. Sangat penting. Kali ini, Anda harus setuju dengan saya. Melalui penampilannya, seseorang mendeskripsikan dirinya. Contoh mudahnya, jika Anda melihat seseorang dengan pakaian seadanya. Celana ketat dan sepatu boot. Rambut bergaya mohawk. Telinganya di-piercing. Maka Anda akan mengatakan bahwa dia PUNK. Pun, jika Anda bertemu seseorang berjenggot lebat. Pakaiannya putih. Celananya cingkrang. Mengenakan kopiah. Mungkin, Anda akan mengira bahwa dia seorang ustadz. Ya, begitulah kira-kira. Sederhana bukan?!

Jagalah penampilan Anda atau masalah akan menimpa Anda. Hal ini patut direnungkan. Begini maksud saya, saat Anda tampil dengan pakaian yang tidak semestinya maka orang disekitar Anda akan menghakimi Anda sebagaimana mereka berjumpa dengan Anda. Kawan saya sudah membuktikannya.

Suatu hari, kawan saya itu, sebut saja Kumbang. Eh, jangan Kumbang ding! Nggak asik jadi temannya Kumbang. Kalo temannya kumbang kan kumbang juga berarti. 😀 Kita sebut Michael saja.

Suatu hari, Michael sedang mengecat rumahnya, berdua dengan kakaknya. Saat sedang sibuk mengecat Mama-nya minta tolong diantar ke pasar untuk membeli roti. Karena pakaiannya belepotan cat, Michael berinisiatif meminta tolong kepada kakaknya yang satu lagi yang kebetulan sedang sibuk di dalam rumah. Rupanya, ia sedang tak bisa diganggu. Percek-cokan ringan pun terjadi.

Michael mengalah. Ia keluar rumah dengan wajah menyiratkan sedang marah. Lalu, menghampiri mamanya.

Kakak, ngga bisa nganter, Mak. Nggak tahu tuh.. sudahlah, Michael anterin aja.”

Tanpa pikir panjang Michael pun meluncur. Berboncengan dengan mamanya. Dan, tanpa ganti baju terlebih dulu. Tak lama, sampailah mereka di pasar yang dimaksud.

Michael ikut masuk nggak?

Yang ditanya bingung. Sebenarnya kepingin ikut, tapi melihat pakaiannya yang amburadul ia mengurungkan niatnya.

Michael tunggu di luar aja ya, Mak.” Jawab Michael.

Si mama bergegas masuk. Michael menunggu. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Hingga menit ke 30 si mama belum keluar juga. Michael mulai tak tenang. Wajahnya mungkret [menyusut alias kusut].

Tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya.

Mas, minta gula jawanya 2 box. Gula pasirnya satu karung. Sekalian angkatin ke mobil ya!

Michael bengong. Masih belum faham. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang lain. Artinya, laki-laki tadi berbicara kepada Michael. Tidak terima dikira tukang angkut, Michael segera menyahut..

Pak, saya di sini juga pembeli. Enak aja maen perintah!

Oh, maaf mas. Saya kira…” Jawab si laki-laki dengan suara menggantung. Dia melengos setelah tersenyum kecil.

Sepulang dari pasar Michael menyempatkan diri untuk mengaca. Ia menatap dirinya. Hitam. Ia lihat bayangan rambutnya. Keriting. Ia mengamati pakaiannya. Amburadul. Ia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian di pasar.

Michael berkata lirih, “Pantes…

Pernah juga, suatu hari ketika ia sedang menjemput ayahnya di sebuah hotel, ia dikejutkan oleh seorang perempuan yang menghampirinya kemudian dengan serta merta menyodorkan selembar uang seribuan.

Michael menolaknya dengan diplomatis. “Maaf Mbak, saya sedang jemput ayah saya. Saya bukan tukang parkir. Maaf lho ya. Dibawa saja duit seribu-nya..

Maaf, ya Mas!” sahut perempuan itu.

Michael hanya tersenyum ketus. Lalu membiarkan si perempuan itu pergi. Ia tak menyalahkan si perempuan tadi. Ia sadar dengan penampilannya yang seadanya. Ia juga menyadari kalo salah posisi. Menunggu orang keluar hotel kok di parkiran.

Sepertinya Micael sudah bosan dengan kejadian yang sering menimpanya. Ia berniat memperbaiki diri. Pikiran itu terlintas begitu saja saat ia berada di kamar mandi.

Ya, saya harus mengubah penampilan.” Kata michael dalam hati.

Langkah pertama, Michael ingin mengurangi kehitaman di wajahnya. Ia menatap sekeliling. Gayung bersambut. Di dapatinya sebuah produk lulur: P*rbasari, Lulur Mandi Bengkoang: Whitening. Maka, segera saja ia buka tutupnya dan membalurkan produk lulur itu.

Tak berapa lama.. “Aduh!

Michael kaget merasakan panas di wajahnya. Ia berpikir betapa hebatnya produk ini. Luar biasa. Efeknya langsung terasa. Ia pun melanjutkannya dengan mengusap produk itu ke seluruh wajah. Rasa panas kian meningkat. Michael bertahan. Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Tak tahan dengan panasnya ia pun segera mengguyur wajahnya dengan air. Lalu, dari dalam kamar mandi ia bertanya kepada mama-nya.

Mak, kok lulur P*rbasari-nya kalo dipakai di wajah terasa panas ya?

Ha.. Apa?! Lulur P*rbasari yang di kamar mandi ya?

He em.

Ya pasti panas. Orang, lulur P*urbasari-nya udah habis, trus, Mak pake wadahnya buat nyimpen deterjen kok.

Apa…!!” Michael pun lemas..

* * *

Ini kisah nyata. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. 🙂

Advertisements

5 Responses to “Penampilan itu penting”

  1. arifromdhoni Says:

    Hm, mengubah penampilan tanpa modal 😀

  2. arifromdhoni Says:

    Tapi penampilan tidak harus wajah putih kok mas 🙂

    Yang penting baju rapi dan sesuai dengan kondisi 😀

  3. salam Says:

    mohawk server mana, mas?

  4. Sulaimann Says:

    @ arif: setuju..
    @ salam: no comment!

  5. salam Says:

    macam teh desy sajah:-p~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: