Aba-Aba

Kita tentunya pernah berlatih baris-berbaris. Sejak SD, kegiatan latihan baris-berbaris sudah diajarkan oleh bapak guru. Kita menyebutnya pebebe [PBB = Praktek Baris Berbaris. Bener ga?! :)] Sebuah kegiatan luar ruangan yang berkaitan erat dengan kegiatan upacara itu memang cukup menguras energi.

Konsentrasi mutlak diperlukan saat baris berbaris dipraktekkan dalam kegiatan upacara. Salah sedikit saja maka akan menimbulkan akibat yang luar biasa.

Tubuh yang sudah letih dan tatapan mata kawan-kawan lain ikut andil dalam membuyarkan konsentrasi. Hasilnya: grogi!

Hal ini pernah dialami oleh kawan saya. Begini ceritanya..

Suatu pagi yang cerah, dimulailah kegiatan upacara pagi. Kawan saya, pagi itu mendapat tugas menjadi pembaca doa. Dia berdiri bersebelahan dengan kawannya yang lain yang bertugas menjadi pembaca UUD ’45, pembawa acara dan pengibar bendera.

Setelah melewati beberapa urutan acara, tibalah waktunya pengibaran bendera.

Tiga orang siswa nampak tegang. Mereka menjadi sasaran puluhan pasang mata pagi itu.

Kemudian, terdengar pembawa acara membacakan susunan acara.

Pengibaran Sang Saka Merah Putih, oleh petugas.

Ketiganya bersigap. Lalu, seorang gadis pembawa bendera yang berdiri di tengah memberi aba-aba kepada kedua kawan yang lain.

Siap, grak!

Lencang kanan-kiri, grak!

Luruskan!

Kedua laki-laki yang berdiri di samping gadis tadi menengok ke kanan dan kiri sesuai aba-aba.

Lurus!” Jawab keduanya nyaris bersamaan. Setelah kembali pada posisi semula.

Melihat persiapan dirasa cukup, si gadis pun, memberi aba-aba untuk berjalan,

Maju jalan, GRAKK..!!

Mendengar aba-aba yang sedikit asing, sontak para siswa sebuah SMU di Ngawi itu tertawa cekikikan.😀

– – –

Sedikit berbeda dengan kejadian di atas. Seorang kawan saya yang lain menjadi saksi kejadian janggal pada upacara pagi si SMP-nya.

Saat itu, seorang kawan dari kawan saya [ga bingung kan?!] bertugas menjadi komandan upacara.

Tibalah saatnya komandan upacara maju memberikan laporan kepada pembina upacara,

Lapur..! Upacara bendera siap dimulai.” Kata komandan upacara dengan logat jawanya yang kental.

Jangan ‘lapur’ dong. Mestinya ‘lapor’. Ulangi!” Kata pembina upacara.

Entah karena alasan apa, bukannya mengulangi sesuai permintaan pembina upacara, sang komandan upacara justru berteriak lantang:

LAPAAAR..!

Pagi itu, seisi lapangan tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Pesan saya, hiburlah kawan Anda tapi jangan lakukan itu ketika sedang upacara di lapangan.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: