Bahasa lokal

Menguasai bahasa adalah keahlian penting. Dengannya kita bisa berkomunikasi dengan baik.

Mampu menguasainya bahasa lokal suatu daerah adalah sebuah kelebihan. Gagal menguasainya akan menimbulkan persoalan tersendiri. Seperti kejadian yang dialami seorang kawan.

Dia adalah seorang guru muda yang berasal dari Jawa Barat yang mencari nafkah di daerah dekat tempat saya tinggal.

Suatu hari ia hendak membeli sesuatu di pasar. Ia memilih untuk berangkat sendirian karena letak pasar tidak begitu jauh dari tempatnya tinggal. Sekalian re-freshing, pikirnya.

Setelah berjalan selama 1 menit, sampailah ia di pasar. Kemudian, ia bergegas mendatangi seorang penjual. Sejenak ia terdiam. Bingung. Mau ngomong apa? Bahasa apa yang akan dia gunakan. Jawa atau bahasa Indonesia.

Akhirnya, bahasa jawa jadi pilihan. Meski belum begitu faham betul tapi keinginan untuk bisa menggunakan bahasa ini menggoda hatinya. Kalo tidak dicoba maka tidak akan pernah tahu, begitu kira-kira, alasannya. Bermodal vocabulary yang seadanya ia memberanikan diri membuka percakapan.

Kawan: “Niki harganya pinten, Bu?”

Penjual: “Karo tengah, Mas.”

Kawan: “Mboten kurang, Bu?”

Penjual: “Mboten saged, Mas. Pun pas.

Karena merasa belum cocok kawan saya memutuskan untuk mencari penjual ke tempat lain Siapa tahu, ada yang menjual lebih murah. Ia pun berjalan lagi ke arah yang lain.

Sejurus kemudian, bertemulah ia dengan penjual yang lain. Hal yang sama segera ia tanyakan ke penjual yang baru saja ia temui itu.

Kawan: “Niki harganya pinten, Bu?”

Penjual: “Dua ribu, Mas.”

Kawan: “Saya minta satu, Bu.”

Saat mendengar cerita ini, saya pun senyum-senyum. Hihiihi..🙂

Tahukah Anda dimana letak kelucuan kisah kawan saya tadi? Bagi yang sudah faham bahasa jawa mungkin langsung bisa mengetahui.

Nah, bagi yang belum memahami bahasa jawa saya akan menerangkan sedikit. Penjual pertama memberi harga karo tengah. Ini senilai dengan Rp. 1.500,- Sedangkan penjual kedua memberi harga Rp. 2.000,-. Ternyata kawan saya salah memahami. Yang dia ingat, karo tengah itu Rp. 2.500,-😀

Bila Anda saat ini sedang berada di daerah dan ingin menggunakan bahasa lokal baiknya juga berhati-hati. Jangan ragu untuk bertanya. Karena, tidak faham bahasa lokal bisa mengakibatkan kerugian mendadak.😀

– – –

Sedikit berbeda dengan cerita dari seorang kawan yang lain. Saat itu ia sedang membeli baju batik di pasar Klewer Solo.

Kawan: “Yang ini harganya berapa, Bu?” [sambil menunjuk sepotong baju batik]

Penjual: “Selangkung, Pak.”

Kawan: “Selangkung?! Slawe ewu mawon, nggih?” tawar kawan saya dengan percaya diri yang luar biasa.

Penjual: “Oh, nggih!” jawab penjual sembari tersenyum manis.

Tahukah Anda dimana letak kelucuannya?

Sekali lagi, bagi Anda yang belum faham bahasa jawa saya akan menerangkannya. Selangkung dan slawe ewu itu nilainya sama: Rp. 25.000,-

Ternyata, tidak faham bahasa lokal juga berpotensi menyebabkan masalah yang lain: malu-maluin!

😀

2 Responses to “Bahasa lokal”

  1. arifromdhoni Says:

    Hm, lucu😀

    Setahuku, bahasa Sunda memiliki kosakata yang sama dengan bahasa Jawa tetapi berbeda arti, misal: gedhang (di Jawa artinya pisang, Sunda artinya pepaya).🙂

    • sulaimann Says:

      Oh ya?! Banyak ragam ternyata negeri ini. Semoga saja keragaman itu melahirkan banyak kisah yang bisa membuat kita tersenyum.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: