Suatu hari di sebuah bengkel

Hari itu seorang guru TPA, sebut saja si Fulan (kita tahu ini nama samaran), harus mengajar TPA di masjid yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Kegiatan yang sudah rutin ini tidak menjadi beban baginya. Justru mengajar TPA adalah hal yang menyenangkan menurutnya. Hanya saja, kali ini situasinya sedikit berbeda. Ia tak punya cukup waktu untuk sampai ke TKP (tempat kejadian pengajian).

Berbekal sepeda federal si Fulan pun berangkat. Menaiki gunung. Lewati lembah. Dan menyeberangi sungai besar. Eh, ngga ding! Ia berangkat seorang diri menyusuri jalan-jalan kampung.

Di bahunya tergantung sebuah tas hitam kecil. Di kepalanya ia kenakan kopiah yang sudah beberapa tahun setia menemaninya. Tubuhnya kecil. Kulitnya agak hitam. Dari wajahnya terpancar semangat yang luar biasa.

Si fulan mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Ia tidak berani tancap pedal (soalnya sepeda ngga ada gas-nya. Harap maklum) karena jalan yang ia lalui memang tidak semulus jalan tol. Yang ada dalam pikirannya waktu itu adalah sampai ke masjid sesegera mungkin. Karena, anak-anak sudah menunggu.

Akhirnya, terjadilah apa yang terjadi. Ban belakang sepedanya terbentur batu. Lumayan keras. Ia berhenti sejenak. Melihat ke arah ban belakang dan berharap bannya tidak bocor karena letak masjid masih lumayan. Namun, rupanya benturan itu membuat angin di dalam bannya berebut keluar dengan perlahan dan teratur seperti semilirnya angin malam. Si fulan tetap nekad menggenjot sepedanya.

Kini masjid sudah nampak. Hatinya tenang, sekaligus sedih. Ia sampai masjid dan sepedanya bocor. Dengan perlahan ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban yang kebetulan berada tak jauh dari masjid.

Si Fulan: “Pak, ban saya bocor tolong ditambal. Tapi, saya mau mengajar TPA dulu. Di masjid situ. Nanti setelah selesai mengajar saya ambil, Pak.”

Si Bapak: “Iya mas. Ngga apa-apa.”

Si Fulan: “Makasih, Pak.”

Matahari terasa bersinar lebih terang. Udara pun seperti lebih segar di banding beberapa menit sebelumnya. Dengan tenang si fulan melangkah menuju masjid.

**satu jam kemudian**

Baik anak-anak, pelajaran untuk sore ini cukup. Kita lanjutkan minggu depan.” Kata si Fulan. “Mari kita tutup pengajian pada sore hari ini dengan do’a kafaratul majlis..” lanjutnya. Murid-murid berdoa serentak, “Subhanakallahumma wabihamdika asyhadualla ilahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik.” Kemudian si fulan mengucapkan salam. Murid-murid pun menjawab salam dengan serentak. Sejurus kemudian mereka berhamburan keluar.

Si fulan bersiap-siap untuk pulang. Dia menarik nafas panjang. Lega. Tugas hari ini tertunaikan sudah. Kini tinggal menggambil sepeda lalu meluncur pulang.

Langit sudah terlihat kian berwarna jingga. Si fulan pun berbegas.

Sesampainya di bengkel si fulan sedikit bingung. Bapak pemilik bengkel tambal ban ternyata masih sibuk dengan sepedanya.

Si fulan: “Maaf, Pak. Sepeda saya sudah selesai ditambal, Pak?”

Si Bapak: “Maaf mas, belum.”

Si fulan: “Kok lama ya, Pak.”

Si bapak: “Iya mas. Hmm.. begini mas.”

Si fulan: (diam memperhatikan)

Si fulan: “Ini tadi saya cek. Bocor di ban sepeda mas, baru ketemu tujuh titik, Mas!” ( sambil menunjukkan ban yang bocor.) Lha saya mau tanya dulu, ganti ban atau ditambal, mas?”

Si fulan langsung tertawa nyengir. Ditambah lagi, tujuh titik bocor pada ban yang disumpal dengan batang korek api itu terlihat lucu baginya. Ia mencoba mengingat sesuatu. Sesaat kemudian, ia pun kembali tersenyum. Dalam hati ia berkata: Sepedaku kayak PUNK!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: