Suatu hari di sebuah kampung……

Berkunjung ke rumah kawan adalah hal yang menyenangkan. Kegiatan yang penuh dengan berkah, insyaAllah. Ada kegembiraan. Ada banyak cerita. Dan, ada banyak makanan tentunya. (Halah!)

Ceritanya, suatu hari saya dan beberapa kawan berkunjung ke rumah seorang kawan. Kami mengunjunginya karena memang sudah diagendakan sebelumnya. Dan, letak rumahnya agak jauh dari perkotaan. Mungkin, tidak masuk ke dalam range sub-urban.

Hari itu dipenuhi dengan canda tan tawa. Cerita lucu datang silih berganti dari kawan-kawan. Begitu pula makanan yang masuk ke mulut kami. Silih berganti. Yang jauh didekatkan. Yang dekat segera disikat. Lahap. Heheehe.. (namanya juga anak muda!)

Singkat cerita, tiba waktu shalat maghrib. Kami pun bergegas untuk pergi ke masjid. Tapi sebelumnya tuan rumah memberikan sedikit arahan,

“Tes.. tes! Satu, dua, tiga di coba.. Tes! Tes!
Mohon perhatian.. Kepada para tamu dimohon untuk berdiri sejenak.”

Ngga’lah.. bercanda! : ) Kira-kira begini,

“Di mushalla tidak ada tempat wudhu. Jadi wudhunya di sini saja. Itu di pojok ada kran.” Kata tuan rumah. ” Yang lain bisa wudhu di kamar mandi di luar. Itu di sebelah sana. Oh iya, di sini waktu dari adzan ke iqamat cepet. Jadi wudhunya jangan lama-lama. Letak mushalla-nya ngga’ jauh kok. Dari perempatan yang tadi lurus saja. Jalannya leter L. Nah, posisinya ada di kanan jalan.” Imbuhnya.

Kami mengangguk kecil sebagai tanda bahwa kami faham. Meski belum yakin betul. Kemudian, kami pun berbaris di tempat wudhu seperti semut. Menunggu giliran. Mirip antri sembako. Bedanya kami tidak membawa nomor antrian..

Baru 5 orang yang selesai wudhu terdengar iqamat. Maka kawan yang sudah selesai wudhu lebih dulu berangkat ke mesjid bersama tuan rumah.

Jumlah yang belum wudhu ada 6 orang (kalo tidak salah..) Karena waktu itu tidak ada yang membawa GPS, maka kami putuskan untuk berangkat ke mushalla bersamaan. Menunggu semua selesai wudhu baru berangkat. Berbekal pengarahan dari tuan rumah kami segera meluncur ke TKP.

Semenit kemudian sampailah kami di perempatan yang dimaksud. Tinggal lurus ikut jalan. Mestinya, demikian. Namun, kami berrbeda pendapat. Ada yang mengatakan belok kanan. Ada pula yang berpendapat belok kiri. Sebagian memilih diam karena memang tidak faham. Salah seorang mengusulkan agar bertanya saja. Tapi, bertanya kepada siapa? Sepi. Bener-bener daerah yang masih alami. (baca: ndeso.)

Di saat kami bingung dan berselisih pendapat, lewat di hadapan kami seorang bapak berpakaian rapi dan mengenakan sarung. Dia berjalan ke agak cepat.

“Nah, bapak itu sepertinya hendak ke Mushalla. Kita ikuti saja. Gimana?!” usul salah seorang diantara kami.

Tanpa menunggu komando kami pun berjalan mengikuti si bapak. Maklum, kami khawatir jika ketinggalan shalat berjamaah.
Si bapak berjalan tambah cepat. Kami semakin tambah yakin. Tak lama, kemudian terjadilah kejadian yang sampai saat ini masih saya kenang. Si bapak tiba-tiba berbelok ke kiri menuju sebuah rumah. Dan tanpa ragu ia memasukinya. Waduhh.. Kirain.. Kami yang mengikutinya pun terkekeh.

Ada hikmah yang bisa kami ambil. Kesimpulan yang mengatakan bahwa, “Berpakaian rapi + sarung + berjalan cepat = menuju mushalla / mesjid”, adalah keliru.

“Fas aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun”. Maka, bertanyalah kepada kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An Nahl: 43)

3 Responses to “Suatu hari di sebuah kampung……”

  1. d2 Says:

    di tmpt pak boz ya, mas?

  2. arifromdhoni Says:

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: