Icank: Khatib shalat Jum’at

Alhamdulillah.. saya masih bisa nulis. Maap, bagi yang udah nyempatin berkunjung tapi tidak mendapati tulisan baru. 😀 (halah!)

Saya ada cerita baru. Masih tentang Icank. Begini ceritanya.. Suatu hari Icank mendapat tugas untuk menjadi khatib shalat jum’at di sekolahnya. Sebagai anggota sie konsumsi ROHIS SMA favorit di kota Klaten doi dengan bangga menerima amanah itu. Sungguh sebuah kesempatan yang istimewa. Tidak setiap saat datang. Dan, tidak datang kepada setiap orang. Saking istimewanya kesempatan itu, si Icank grogi dibuatnya. Mungkin, kalo boleh milih, dia lebih memilih diajak piknik ke kebun binatang. (Lho, piye tho iki?!)

Dengan segenap kemampuan Icank melakukan persiapan. Air putih, kembang tujuh rupa, iket kepala hitam dan 3 buah dupa sudah siap di atas meja. Sesaat kemudian matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit. Lalu… sebentar! Sebentar!.. kayaknya salah nich jalan ceritanya. Hmm.. iya, salah. Sampe mana tadi ya?! Oh iya: persiapan. Beberapa ayat ia kutip. Beberapa hadits ia lampirkan. Selesai. Materi yang akan disampaikan sudah siap. Tinggal persiapan mental. Sebenarnya ini nih yang paling sulit. Soalnya, si Icank jarang ngomong di depan umum. Jangankan di depan umum, ngomong dibelakang umum aja dia malu-maluin. 😀 (Piss, Bro..!)

Tanpa peduli berapa persen si Icank siap, hari Jumat tiba. Setelah mengikuti pelajaran 4 guru yang berbeda, tibalah waktu shalat Jumat. Siswa-siswa mulai berjalan menuju masjid sekolah. Sebagian yang lain tengah bersiap-siap. Sebagian masih santai di depan kelas. Suara murattal terdengar melalui pengeras suara.

Cuaca cukup terik siang itu. Icank yang bertugas sebagai khatib sudah bersiap. Tinggal hitungan menit khotbah Jumat dimulai. Bulir bulir keringat mulai nampak di wajahnya. Gerah. Atau, grogi? Ah, biar adil, gerah campur grogi saja.

Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh..” Icank membuka khutbahnya.

Kemudian, muadzin segera mengumandangkan adzan. Selesai adzan Icank melanjutkan khutbahnya:

Innal hamdalillah…” (dan seterusnya..).

Entah karena semangat, atau karena grogi, atau cuaca yang memang cukup panas waktu itu, keringat Icank semakin tak terbendung. Ia sudah berada di mimbar kurang lebih 15 menit. Tak berapa lama kemudian, sampailah ia di akhir khutbah yang pertama.

Lega. Sebentar lagi rasa grogi yang melanda akan segera sirna. Itulah kira2 yang terbesit dalam pikirannya. Kini, ia tengah duduk diantara dua khutbah. Mengambil nafas panjang lalu membaca surat Al-Ikhlas dengan perlahan. Jama’ah khusyuk berdoa.

Tiba-tiba, “Allahu Akbar.. Allahu Akbarr…”. Hah!! Deg..deg deg…deg deg…deg deg… Icank melongok ke depan. Didapatinya sang muadzin tengah berdiri dengan gagah dan mengumandangkan iqamat dengan serius. Grogi yang tadi sudah mereda kembali berkobar. Disusul keringat yang mengucur kembali. Icank jadi panik. Jama’ah bingung. Terlebih lagi, sang muadzin. Ia jadi salah tingkah. Ia berhenti mengumandangkan iqamat setelah mendapat kode bahwa khutbah belum selesai. Lalu ia duduk kembali. Nampak, wajahnya memerah.

Rupanya, sang muadzin tertidur saat berlangsung khutbah pertama. Sehingga, waktu khatib sedang duduk diantara dua khutbah ia mengira khutbah sudah selesai. Sebuah pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini adalah bahwa grogi bisa diatasi. Dan, grogi bukanlah penyakit menular, ini terbukti pada Icank teman saya. Ayo Cank, maen bola lagi! (lho kok?!) 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: