the story of sandal

Penampilan itu penting. Terlebih klo kita hadir ditengah-tengah orang banyak. Salah memakai kostum bisa berakibat kita jadi pusat perhatian. Salah memilih aksesoris juga bisa berakibat fatal. Karena hal inilah saya jadi sering malu klo ketemu dengan kawan2 lama. Karena saya dulu suka tampil seadanya.

Suatu saat saya menghadiri undangan pernikahan dari seorang kawan. Waktu itu, karena kemungkinan saya akan bertemu dengan kawan-kawan lama, maka saya sempatkan untuk memperbaiki penampilan. Ya.. biar kelihatan sedikit dewasa gitu (kata seorang kawan). Sret..sret..srett….cling! Tiba-tiba saya jadi tambah ganteng (halah!). Setelah merasa yakin saya pun bergegas.

Sampai ditempat, saya segera bergabung dengan kawan-kawan yang lain. Salam-salaman. Trus duduk. Saya memilih duduk di tempat yang tidak banyak dilihat orang. Ya bagaimana lagi, saya kan pemalu orangnya. Tak lama kemudian berbagai hidangan datang silih berganti. Mulai dari yang kecil-kecil sampe yang kenyil-kenyil (kenyal). Hindangan jadi terasa makin lezat karena saya menyantap makanan sembari mendengarkan tausiyah dari mubaligh yang kebetulan tetangga saya.

Akhirnya, setelah kenyang dan karena acaranya juga ga kunjung selesai -meski udah masuk jadual shalat dhuhur- saya memutuskan untuk pulang duluan. Tetapi, memutuskan pulang duluan berarti saya harus berjalan melewati banyak orang. Kemudian say hello sama kedua mempelai dan kembali lagi melewati banyak orang. Grogi men!

Setelah melihat dan menimbang akhirnya saya putuskan untuk tetap pulang duluan. Sebelum berjalan, saya komat-kamit baca mantra biar ga grogi. Satu, dua, tiga. Saya berdiri. Seketika itu pula pandangan orang-orang tertuju kepada saya. Deg. Deg. Deg! Bismillah.. akhirnya saya melangkah diikuti 2 orang kawan. Saya berjalan dengan berusaha setenang mungkin. Jarak tempat duduk pengantin tinggal 10 meter lagi. Tatapan hadirin saya rasakan kian tajam. Dan, akhirnya sampe juga.

โ€œSelamat ya mas!โ€

Saya pun bergegas membalikkan badan. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi. Saya merasakan sesuatu telah terjadi dengan sandal saya. Saya pun melirik ke bawah. Hah..! Saya lihat sandal yang saya pake sudah sakaratul maut. Tinggal beberapa senti saja. Waduh. Saya panik. Saya ambil nafas dalam-dalam kemudian kembali melangkah. Jarak pintu keluar kira2 15 meter. Dan saya waktu itu sedang jadi pusat perhatian. Keringat dingin mengucur. Cless…

Saya berusaha tetap tenang. Berjalan lebih pelan dari semula. Hingga tanpa saya sadari tinggal saya seorang yang berjalan. Pintu saya lihat masih jauh.. duh!
Saya pun berdoa. Mudah2an sandal saya mati dengan tenang. Pintu keluar tinggal 3 meter. Kemudian srekk!! Dan terjadilah apa yang terjadi, saya lihat ke bawah. What’s?! Sandal tercinta yang saya beli di Bandung menghembuskan nafas terakhirnya. Pengen waktu itu saya berhenti berjalan. Ah, kepalang tanggung. Kemudian dengan malu-malu(in) saya pungut sandal saya lalu saya berjalan dengan cuek.

Ternyata saya masih sama. Cuek.

6 Responses to “the story of sandal”

  1. arifromdhoni Says:

    Malu tapi cuek?๐Ÿ™‚

  2. sulaimann Says:

    ๐Ÿ˜€

  3. ihsan Says:

    …ditengah-tengah orang banyak.

    Orang atau banyak?๐Ÿ™‚

  4. sulaimann Says:

    ๐Ÿ˜€

    Mutant?!

  5. lukman hakim Says:

    lucu, tapi jadi pelajaran lah…..diambilibrahnya aza๐Ÿ™‚

  6. sulaimann Says:

    @ lukman hakim
    Syukur deh klo bermanfaat. Semoga yang lain juga bisa mengambil ibrah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: