Biaya Nikah Hanya Rp. 30.000

Tuntutan transparansi biaya nikah yang terus menguat belakangan ini tidak perlu disikapi berlebihan, utamanya oleh petugas KUA yang merupakan ujung tombak sekaligus ujung tombok Departemen Agama. Cita-cita terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa patut didukung oleh semua pihak. Karenanya partisipasi dan kontrol publik terhadap penyelenggaraan pemerintahan tak terhindarkan.

Pemungutan biaya nikah yang jamak melebihi ketentuan IJLT/PP tak ada salahnya bila diklarifikasi sehingga publik mafhum, sejatinya prosesi akah nikah dan beban kerja yang selama ini dipikul KUA. Tanpa klarifikasi tentu akan terus terjadi kecurigaan dan kesalahpahaman yang pada penghujungnya publik akan memvonis KUA sebagai sarang pungli dan korupsi.

Berdasarkan PP Nomor 51/2000 disebutkan biaya pencatatan nikah Rp. 30.000 (tiga puluh ribu rupiah). Bila PP ini diberlakukan secara murni dan konsekuen, kiranya perlu sosialisasi intensif agar publik memahami seluk beluk, problem dan tantangan yang melingkupi KUA, sekaligus siap berdisiplin dan menjauhkan kebiasaan menempuh jalan pintas.

Pertama, minimnya ketenagaan. Idealnya, KUA memiliki 7 (tujuh) personel. Namun kenyataannya rata-rata hanya mempunyai 2 (dua) petugas, sementara beban kerja makin berat. Karenanya demi pelayanan prima sebagian besar KUA mengangkat tenaga wiyata yang honornya diupayakan secara mandiri. Ke depan perlu penambahan tenaga definitif atau honorer yang dianggarkan melalui APBN/APBD untuk menhindari terjadinya praktek pungli.

Kedua, prosesi akad nikah perlu diluruskan. Sebenarnya yang paling berkompeten menikahkan calon pengantin putri adalah wali nikah, sementara PPN (Pegawai Pencatat Nikah) hanya berwenang mendaftar, memeriksa, mengawasi dan mencatat pelaksanaan nikah. Pemberlakuan PP Nomor 51/2000 sesungguhnya justru berdampak mencerdaskan masyarakat. Pasalnya wali nikah tertantang dan terkondisi untuk mempelajari tatacara khutbah nikah, sighat ijab kabul dan doa untuk mempelai sehingga kebiasaan pasrah bongkokan kepada PPN sebagaimana yang terjadi selama ini secara berangsur dapat dihilangkan.

Ketiga, pemberlakuan PP Nomor 51/2000 dipastikan berdampak positif dalam upaya mendisiplinkan dan menertibkan masyarakat tatkala mengurus pendaftaran nikah. Petugas KUA berhak menolak dan mengembalikan berkas nikah yang persyaratan administrasinya tidak lengkap. Dalam kaitan ini, oknum KUA yang main mata dengan setiap upaya menempuh jalan pintas perlu ditindak tegas.

Keempat, pemberlakuan PP Nomor 51/2000 tentu memperingan beban kerja PPN. Pasalnya dengan biaya Rp. 30.000 akad nikah cukup dilangsungkan di Balai Nikah yang tersedia di KUA pada jam kerja. Bagi masyarakat yang menghendaki nikah di luar KUA (bedhol, lumadi, ngundang, dsb) tela diatur dalam PMA N0. 11 Tahun 2007 Pasal 21 Ayat 2 yang menyebutkan biaya nikah didasarkan persetujuan dengan PPN (tidak ada batas nominal).

Demikian penjelasan ringkas mengenai pemungutan dan penggunaan biaya nikah yang jamak terjadi di KUA dengan harapan publik memahami problem KUA dan sejatinya seluk beluk prosesi akad nikah. Adalah hak publik mengetahui besaran biaya pelayanan publik sekaligus pemanfaatannya secara transparan sehingga buruk sangka, kecurigaan dan kesalahpahaman dapat diminimalisasi.

Ditulis oleh M Anshori Rahmat; staf KUA Kec Kranggan Temanggung.
Dikutip dari Surat Pembaca, SUARA MERDEKA edisi 29 Maret 2009 hal 7.

16 Responses to “Biaya Nikah Hanya Rp. 30.000”

  1. arifromdhoni Says:

    Jadi … kapan menikah?

  2. sulaimann Says:

    @ arifromdhoni
    Segera! InsyaAlloh…😀

  3. asa Says:

    makasih infonya.. hemmm novel ya? ga pede nih…tapi pingin nyoba juga..🙂 antum ikutan aja

  4. ensiklomedi Says:

    @ sulaimann
    segera? pakai ANGKA dong, biar lebih jelas:-)

  5. sulaimann Says:

    @ asa
    Pengen juga. Mudah2an tulisannya bisa selesai..😉

    @ ensiklomedi
    Segera itu angka. Hanya saja untuk memahaminya perlu keahlian khusus. Perlu teknik tingkat tinggi!😀

  6. lembucinta Says:

    iki po suliaman wapa’ press itu ya…
    yang belum juga rabi hingga kini itu ya..
    blognya keren juga..

    nitip posting kala gitu (halah..)
    http://lembucinta.wordpress.com/2009/04/01/khitanan-bocah-semprul/

  7. ensiklomedi Says:

    Akhir bulan ya?
    Selamat ya!
    BarakaLlah feek..

  8. sulaimann Says:

    @ lembucinta
    Na’am. Na’am. Na’am…
    Maturnuwun udah mampir.😀

    @ ensiklomedi
    Ga salah tuh..?!
    Akhir bulan…????😦

  9. ensiklomedi Says:

    Apapun,
    awal, tengah, atau akhir..
    ane tetap ngucapin
    ..baarakaLlaahu feek..

  10. Rekan Pembelajar Says:

    Blog yang sangat bermanfaat.

  11. sulaimann Says:

    @ Rekan Pembelajar
    Semoga.

    Terima kasih udah mampir.

  12. Prosedur… « sulaimann Says:

    […] mengetahui biaya nikah silakan di sini. Semoga bermanfaat. Possibly related posts: (automatically generated)Aku pulang…Semoga..No […]

  13. ronal Says:

    cewe saya hamil, boleh gak saya menikah (syah ngga ?)
    hamilnya baru 2bulan

    • sulaimann Says:

      Hukum Menikah Dengan Perempuan Yang Hamil Dari Perzinaan,

      Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini :

      Pendapat Pertama : Haram hukumnya menikah dengan perempuan yang hamil karena perzinaan, baik yang menikahi adalah orang yang berzina dengannya, maupun orang yang tidak berzina dengannya Ini adalah pendapat madzhab Maliki dan madzhab Hambali. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni : 6/601-604, Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa : 32 / 109-110 )

      Mereka berdalil dengan hadist Abu Sa’id Al Khudri ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “ Perempuan hamil tidak boleh disetubuhi sampai dia melahirkan, sedangkan perempuan yang tidak hamil tidak boleh disetubuhi sampai dia berhaidh satu kali. “ ( HR Abu Daud no : 2159, Ahmad no : 11911, Darimi, no : 2350 , Hakim no : 2790, Baihaqi, no : 11105 , Hadist ini dihasankan oleh Ibnu Abdul Barr di dalam At-Tamhid : 3/143, dan Ibnu Hajar di dalam Talkhis al Habir : 1/ 275 , dan dihasankan oleh Syekh AlBani di dalam Shahih Al Jami no : 7479 )

      Hal ini dikuatkan dengan hadist Hadits Abu Ad-Darda` ra, bahwasanya
      Rasulullah saw pernah mendatangi seorang budak perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda : Barangkali pemiliknya ingin menggaulinya ?. (ParaSungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. sahabat) menjawab : Benar. Maka Rasulullah saw bersabda : ( HR Muslim )

      Begitu juga, mereka berdalil dengan hadist yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyib : “ Bahwasanya seseorang menikah dengan perempuan, ketika digaulinya ternyata perempuan tersebut sudah hamil, kemudian hal itu dilaporkan kepada Rasulullah saw, dan beliau langsung menceraikan keduanya. “

      Pendapat Kedua : Menikah dengan perempuan yang hamil dari perzinaan hukumnya boleh, baik yang menikahi adalah orang yang berzina dengannya, maupun orang yang tidak berzina dengannya. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi, yaitu pendapat Abu Hanifah dan Muhammad al Hasan ( Al Marghinani, Al Hidayah : 1/ 194, Al Kasani, Bada’I As Shonai’: 2/269) dan pendapat madzhab Syafi’I. (Yahya al Imrani, Al- Bayan : 9/270-271, Al-Khatib As Syarbini, Mughni al-Muhtaj : 3/ 187, Mujib Muthi’I, Takmilah Al Majmu’ : 16/ 220, 221 )

      Mereka beralasan bahwa air mani hasil perzinaan itu tidak ada harganya dalam pandangan Islam, buktinya bahwa nasabnya tidak diakui. Ini sesuai dengan hadist Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “ Anak ( hasil perzinaan itu ) untuk perempuan yang mempunyai ikatan pernikahan dan bagi laki-laki pezina adalah tidak mendapatkan apa-apa “( HR Bukhari no : 2533 )

      Oleh karenanya, berdasarkan hadist di atas menurut madzhab Syafi’I, orang yang berzina itu tidak mempunyai ‘iddah sama sekali, sehingga seorang laki-laki boleh menikah dengannya dan menggaulinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut melahirkan.

      Adapun menurut Abu Hanifah dan Muhammad al Hasan, jika yang menikahi adalah laki-laki yang tidak berzina dengan perempuan tersebut, maka dia tidak boleh menggauli perempuan tersebut sampai dia melahirkan. Alasan mereka adalah hadist Abu Sa’id Al Khudri ra di atas bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “ Perempuan hamil tidak boleh disetubuhi sampai dia melahirkan, sedangkan perempuan yang tidak hamil tidak boleh disetubuhi sampai dia berhaidh satu kali. “

      Begitu juga hadist Ruwaifi’ bin Ats Tsabit Al Anshari di atas bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “ Tidak dihalalkan bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menuangkan airnya di dalam tanaman orang lain dan tidak dibolehkan bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menggauli seorang tawanan perempuan sampai dia membersihkan rahimnya “

      Namun jika yang menikahi perempuan tersebut adalah laki-laki yang berzina dengannya ( yaitu yang menghamilinya ), maka suaminya boleh menggauli istrinya tersebut walaupun dalam keadaan hamil. Ini juga pendapat Abu Yusuf dari madzhab Hanafi. Alasannya bahwa yang ada di dalam rahim perempuan tersebut adalah air maninya sendiri dan merupakan tanamannya sendiri sehingga dia boleh menggaulinya walaupun dalam keadaan hamil, dan hal ini tidak bertentangan dengan hadist yang melarang untuk menuangkan air mani dalam tanaman orang lain, sebagaimana yang disebut di atas.

      Ringkasnya : bahwa jika ada seorang laki-laki dan perempuan berzina kemudian mereka berdua sepakat untuk menikah ketika diketahui bahwa perempuan tersebut hamil dari perzinaan tersebut, maka status pernikahannya tidak sah menurut madzhab Maliki dan Hambali, dan sah menurut madzhab Hanafi dan Syafi’i. Wallahu A’lam.

      sumber: http://ahmadzain.com/content/view/161/9/

  14. Hanan Says:

    Membaca tulisan ini saya jdi tahu klo biaya pencatatan nikah itu murah, cukup Rp 30 Ribu sesuai PP No. 51 Tahun 2000.

    Tapi saya heran, kenapa di lapangan yg terjadi biaya tersebut bisa mencapai Rp 300 Ribu?
    Bahkan setahu saya, awam kurang informasi soal biaya nikah yg sesuai PP itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: