Potongan cerpen

Pak Umar, sedang membaca surat kabar. Dahinya mengerut sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepala. “Aneh!” Ia berkomentar atas apa yang baru saja ia baca.

Tak jauh dari tempat pak Umar duduk, ada Habib, anak sulungnya. “Kenapa Yah?” Tanya Habib kepada ayahnya. “Apanya yang aneh? Korannya yang aneh?” Selidiknya.

“Enggak. Bukan korannya yang aneh. Ini lho, teroris-teroris ini yang aneh.” Kata pak Umar sambil menggeleng-gelengkan kembali kepalanya. “Lha wong hidup di Indonesia kok nggak mau hidup pake aturan Indonesia. Aneh!”

“Maksud Ayah?” Tanya Habib. Ia berdiri. Berjalan mendekat. Lalu duduk di samping ayahnya. Matanya mencari-cari bagian yang sedang dibaca oleh ayahnya.

“Mestinya, klo ia hidup di Indonesia ya harus pake aturan Indonesia dong.”

“Oh.. begitu ya.”

” Ya iya!” Jawab pak Umar mantap.

Emm… Kira-kira apa jawaban ayah, jika mereka balik bertanya kepada ayah, bumi Indonesia ini milik siapa?”

Pak Umar menatap anaknya. Didapatinya wajah anaknya yang polos itu sedang tersenyum menunggu jawaban. Sebagai guru agama Islam, Pak Umar faham betul siapa pemilik bumi ini. Yakni Alloh Subhanahu wa ta’ala. Tetapi, ia memilih diam. Tak menjawab pertanyaan anaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: