Ini dia ‘cerita kambing’-nya

(Suatu siang di sebuah pulau)

Alkisah, hiduplah 3 ekor kambing jantan. Ketiganya terkenal sebagai kambing yang makannya cepat. Saking cepatnya mereka makan, sampai-sampai ketika bertemu kambing lain, maka kambing yang lain memilih menjauh. Karena ketiga kambing itu selain makannya cepat juga banyak. Jika tetap ada kambing yang bersikeras berada di dekat ketiga kambing itu, maka hampir bisa dipastikan, kambing itu akan mendapat sedikit rumput untuk dimakan.

Suatu siang, ketiga kambing itu berkumpul di atas bebatuan di puncak bukit. Lalu, ketiganya mulai bercerita tentang kehebatan dan kecepatan masing-masing dalam hal makan. Karena merasa hebat, maka cerita dari ketiganya hampir sama. Masing-masing mengaku dirinyalah yang paling hebat. Hingga, akhirnya ketiganya sepakat untuk mengadakan perlombaan untuk menentukan siapa sebenarnya kambing yang tercepat.

Kambing pertama berkata, “Giliran pertama aku. Kalian tunggu di sini dan lihat baik2.” Sejurus kemudian, kambing pertama berlari. Didatanginya sebuah bukit yang terdapat banyak rumput segar tumbuh di sana. 5 menit berselang, kambing itu kembali. Ia datang dengan napas yang tak beraturan. Lalu ia berkata, “Lihat, seluruh rumput segar di bukit itu sudah aku makan. Hebat bukan?! Ha ha haha…” Kambing yang lain bertanya, “Kok mulutmu berdarah?” Kambing pertama menjawab, “Ah, ini sedikit kesalahan teknis! Gimana, aku yang paling cepat bukan? Ha ha haha…!”

Melihat kejadian, itu kambing kedua merasa tertantang. Lalu ia berkata dengan lantang, “Lihat aku!” kemudian, kambing kedua berlari. Didatanginya bukit lain yang juga terdapat banyak rumput segar tumbuh di sana. 3 menit kemudian kambing kedua kembali. Ia pun datang dengan keadaan yang tak jauh beda dengan kambing yang pertama. Napasnya yang tak beraturan. Lalu ia berkata, “Lihat, seluruh rumput segar di bukit itu sudah aku makan. Bukit itu lebih luas dari yang itu.” Kata kambing kedua sembari menunjuk bukit yang didatangi oleh kambing pertama. “Hebat bukan?! He he hehe…” Kambing pertama bertanya, “Itu mulutmu berdarah?” Kambing kedua menjawab, “Ah, sama. Kesalahan teknis!”

Kambing ketiga tidak ingin kalah. Dengan segera ia melompat dari tempatnya. Lalu berlari mendatangi bukit lain. Belum genap satu menit kambing ketiga kembali. Darah segar mengucur dari mulut dan ubun-ubunnya. Melihat hal itu kedua kambing yang lain terperanjat. Keduanya merasa kalah cepat. Tiba-tiba, dalam keadaan payah si kambing ketiga bertanya, “Kali..an berdua lihatt.. pohon be..sarr di balik bukit itu?” “Ya.” Jawab keduanya hampir bersamaan. Kambing ketiga berkata, “Ah, dasar sial. Aku tidak melihatnya.”

4 Responses to “Ini dia ‘cerita kambing’-nya”

  1. arifromdhoni Says:

    fiksi ato nyata nih?

  2. sulaimann Says:

    100% fiksi. Maka dari itu saya masukkan ke kategori ‘lagi belajar’ & ‘serius(kah)?’. Sapa tau ada yang berminat sama tulisan saya t’rus minta saya menulis. πŸ˜€

  3. ensiklomedi Says:

    menulislah..
    at least untuk kata-kata di undangan, agar berwarna.

    atau..

    menulislah..
    seperti keluarga serasa surga yang konon katanya bisa mendamaikan. Semoga barakah bagi penulisnya, pencetaknya, pemasarnya, dan yang terlibat di dalamnya, termasuk pembacanya. Amiin.

  4. sulaimann Says:

    @ensiklomedi
    Amin! Syukran atas motivasinya. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: