Menipu diri

Kadang-kadang kita dihadapkan pada situasi yang menuntut kita untuk tersenyum. Misalnya, saat kita harus menghadap pimpinan. Atau, saat kita diminta untuk mempresentasikan sesuatu di hadapan orang banyak. Padahal, kita tak selalunya berada dalam keadaan yang bahagia. Sehingga untuk tersenyum memerlukan energi yang tak sedikit daripada biasanya. Dan, klo dipaksakan kita akan mengalami keletihan yang luar biasa. Kita akan merasa apa-apa yang kita lakukan adalah beban. Karena kita tidak enjoy saat itu. Lalu, bagaimana cara keluar dari situasi ini?

Mari belajar menipu diri. (Lho! Emang bisa?!) Dicontohkan oleh pak Tung Desem Waringin. Ketika itu pak Tung sedang ingin membuktikan, bahwa otak kita bisa ‘ditipu’. (Klo lidah kita bisa ditipu, orang sudah banyak yang tau.) Suatu ketika pak Tung bersama seorang temannya (Anto) mengerjai seorang temannya yang lain (Budi). Mereka berdua sepakat ingin mengatakan bahwa Budi sakit. Padahal sejatinya ia sehat-sehat saja. Pak Tung dan Anto akan mengatakan hal itu di tempat dan beda waktu. Tetapi perbedaannya tidak terlalu jauh.

Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Pak Tung berpapasan dengan Budi, ia berkata, “Teman kau ini kenapa? Sakit ya, kok pucat?” Budi menjawab, “Ah tidak, biasa-biasa saja.” “Tetapi kamu benar-benar pucat.” Kata pak Tung menyakinkan. (Ia sebenarnya berbohong.) “Ah yang benar, saya tidak merasa sakit.” Jawab teman Budi. Keduanya kemudian berjalan memasuki ruang kuliah sembari ngobrol. Pada saat itu mereka bertemu dengan Anto. Ia berkata pada Budi, “Teman kamu sakit ya, kok pucat?” “Tidak.” Jawab Budi. “Tapi, kok pucat begitu” kata Anto lagi. Kali ini Budi terlihat agak ragu. “Ah, masak sih?” katanya. “Iya.” jawab pak Tung dan Anto hampir bersamaan.

Budi terlihat bingung. Ia mulai merasa yakin bahwa dirinya pucat. Ia mulai yakin bahwa dirinya sedang sakit. Benar saja, sepulang kuliah Budi menghubungi Pak Tung dan Anto. Kali ini ia benar-benar sakit. Badannya demam. Tubuhnya menggigil. Pak Tung dan Anto kemudian mendatangi Budi. Mereka minta maaf atas kejadian ini. Pak Tung menjelaskan bahwa sebenarnya sejak awal Budi memang tidak sakit. Tetapi pak Tung dan Anto sedang bereksperimen. Mengubah keyakinan Budi, yang sebenarnya sehat diyakinkan bahwa ia sakit dan terlihat pucat. Dan ternyata mereka berhasil. Kesimpulannya, keyakinan yang kuat menimbulkan efek yang luar biasa.

Kembali ke masalah semula. Dengan cara yang sama kita bisa mencoba menipu diri kita. Caranya? Katakan pada diri kita keadaan yang kita inginkan. Misalnya, kita ingin saat ketemu bos atau saat presentasi, kita sedang dalam keadaan yang bahagia. Katakan “Aku lagi bahagia…” tak perlu keras-keras. Dalam hati pun cukup. Ulangi sampai kita benar-benar merasa yakin bahwa kita lagi bahagia. Klo belum berhasil? Ada cara lain. Ambil kertas, kemudian tuliskan di kertas itu “Aku lagi bahagia…” letakkan di tempat dimana kita sering melihatnya. Tujuannya agar sering terbaca. Kita juga bisa mengkombinasikan keduanya. Inti dari hal ini adalah meyakinkan diri kita. Ingat, keyakinan yang kuat menimbulkan efek yang luar biasa. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: