Suatu Hari Di Dekat Mesin Jahit

March 13, 2017

Mul dan Dar adalah kakak beradik yang sedang gusar karena pelajaran ketrampilan menjahit. Maklum, mereka berdua laki-laki. Sedangkan menjahit cocoknya untuk perempuan.

Pelajaran ketrampilan menjahit kali ini adalah belajar membuat celana pendek. Murid-murid mendapat pelajaran dari mulai mengukur, membuat pola, memotong bahan kemudian menjahit sampai jadi sebuah celana.

Mul dan Dar berada dalam kelas yang sama meskipun mereka berdua kakak-beradik. Sebabnya, tidak lain karena si Mul ini mempunyai kecerdasan lebih jika dibandingkan dengan anak seusianya. Maka, oleh orang tuanya ia disekolahkan lebih dini. Dan nyatanya, memang ia mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Bahkan, di beberapa mata pelajaran ia lebih baik dari teman-teman sekelasnya.

Si Mul terkenal piawai dalam hal yang berkaitan dengan ketrampilan. Pelajaran olah raga, misalnya. Ia selalu mendapat nilai 8 untuk ketrampilan koprol, headstand, handstand dan kayang yang untuk teman-temannya itu merupakan sebuah ketrampilan yang cukup sulit. Mul memang anak ajaib.

Beda olah raga beda menjahit. Keduanya memang nyambung dalam hal ketrampilan. Akan tetapi, skill yang diperlukan berbeda.

Bagian ini gimana ya cara njahitnya?” gumam, Dar pada suatu sore. Ia nampak membolak-balik celana pendeknya. Ia tidak tahu cara menjahit bagian bawah celana.

Mul yang kebetulan lewat berseloroh, “Serahkan padaku!

Dar memang selalu percaya pada kemampuan adiknya itu dalam hal olah raga. Tapi, ini beda kasus. Ini menjahit. Dar terpaksa mengiyakan walau sejatinya ia ragu.

Mul, lama nggak njahitnya? Soalnya, aku mau mandi dulu.

Halah.. Cepet itu. Nggak nyampe lima menit juga kelar.” Jawab Mul penuh percaya diri.

Wokeh! Celana saya taruh di kursi dekat mesin jahit ya.

 

*10 menit kemudian*

 

Dar yang sudah selesai mandi berjalan ke ruang tengah bermaksud melihat Mul menjahit. Sebenarnya, pengen mencuri ilmu menjahit, sekalian memastikan kalau celananya sudah dijahit. Tetapi, yang dicari kedapatan sedang asik di depan tivi.

Mul, celanaku gimana? Sudah selesai?” tanya Dar.

Udah lahTuh, di sana.” Jawab Mul sambil menunjuk ke arah mesin jahit.

Mendengar jawaban sang adik yang meyakinkan, Dar segera berjalan menuju ke mesin jahit. Benar saja, celana pendek itu sudah terlipat rapi di atas mesin jahit.

Dar mengambil celana itu kemudian menunjukkannya pada Mul.

Hebat kamu, Mul”. Kata Dar sambil menatap takjub ke arah celananya. “Aku coba ya.”

Mul yang lagi asik dengan acara tivi hanya mengangkat jempol tangan tanpa menoleh tanda setuju.

Loh! Mul, gimana ini?

Dar terlihat limbung. Kedua tangannya memegangi celana. Sementara kaki kanannya masuk ke dalam celana tapi ujung kakinya seperti tersangkut sesuatu.

Mul tercekat. Ia menatap kakaknya dengan heran.

Ini gimana ini, celananya? Wealah, kok nggak ada lubangnya gini? Kamu njahitnya salah atau gimana sih, Mul.” Protes Dar.

Mul beranjak mendekati kakaknya. Diamatinya celana pendek kakaknya itu baik-baik. Tidak ada yang aneh. Sekilas celana pendek itu nampak terjahit dengan rapi. Hanya saja… tidak ada lubang untuk lewat kaki.

Mul, nyengir. “Ya, maap. Wong aku juga belum pernah njahit bagian itu kok.” Katanya datar…

 

Seperti Sedang Bermimpi

March 8, 2017

Seperti sedang bermimpi. Iya, kalimat itu tepat sekali menggambarkan perasaan saya saat ini. 

Saat ini saya berada di kantor pusat Godrej Indonesia  sebagai finalis program Godrej Indonesia LOUD (GI.LOUD). Hal yang sangat prestisius bagi saya. Sebelumnya, jangankan jadi finalis, kebayang ikut GI.LOUD saja tidak. Saya sadar saya hanyalah seorang karyawan biasa dengan mimpi sederhana.

Dorongan dari pimpinan dan kawan-kawan di kantorlah yang membuat saya berani menuliskan mimpi saya: Belajar Menulis Kreatif Kepada Agus Mulyadi. Iya, GusMul. Si pemilik blog www.agusmulyadi.web.id.

Diluar dugaan, mimpi saya lolos seleksi. Dan, hari ini saya diundang untuk mempresentasikan mimpi saya kepada Managing Committe dan tim GI.LOUD. Sungguh, ini kesempatan langka. Mungkin, satu-satunya kesempatan buat saya. 

Saya harus tampil sebaik mungkin. Sebab, selain saya ada tiga finalis lain yang turut diundang. Pak Alam, pak Chairul Ayat dan pak Ridwanudin.

Sungguh, saya masih merasa sedang bermimpi. Semoga, nanti saya dibangunkan dengan bisikan merdu: kamu menang, mas Sule.

Semoga. 🙂

Tempat cukur

February 19, 2017

Memilih tempat cukur rambut itu urusan hati. Nyaman adalah alasan utama. Mirip orang pacaran memang. Tapi, ya begitulah..

Karena mencukur rambut itu sejatinya bukan sekadar urusan potong memotong. Ini tentang bagaimana seseorang ingin diperlakukan. Tentang kepekaan si tukang cukur untuk memahami keinginan pelanggannya.

Di tempat saya biasa cukur sudah tidak ada lagi pertanyaan: “Mau dicukur model gimana, Mas?” Mungkin, ia sudah hafal dengan semua pelanggannya. Sebuah kemampuan yang tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya.

Alat cukurnya juga terawat dengan baik. Tajam. Sehingga tidak ada rambut yang ketarik selama proses pencukuran.

Hal lain yang saya rasakan sebagai added value adalah si mas ini nyukurnya cepet. Penuh percaya diri. Dan, saya pun merasa nyaman meski harus mengantri untuk mendapatkan jasanya.

Kalo hati sudah nyaman rasanya sulit untuk pindah ke lain tempat cukur. 🙂

Wisata Jeglongan Sewu

February 17, 2017

Jeglongan itu artinya lubang di jalan. Sewu maknanya seribu. Atau, karena saking banyaknya jumlah atau ukuran maka dinamai sewu. Contohnya, grojogan sewu yang ada di Karanganyar ketinggian air terjunnya juga nggak sampai seribu meter.

Judul itu sebenarnya curhatan seorang kawan mengenai kondisi jalan Klaten-Solo melalui jalur Baki. Keadannya sungguh memprihatinkan. Lubang ada di sana sini. Ada yang kecil. Ada yang cukup lebar hingga truk harus berjalan ekstra hati-hati kalo tidak mau as rodanya patah. Ngeri.

Bukan hanya truk saja yang harus hati-hati. Pemotor juga. Kalo tidak hafal jalan alias tidak hafal letak lubang saya sarankan ngegasnya kalem saja. Apalagi saat hujan turun. Tantangan semakin tinggi levelnya. Seperti maem game. Memacu adrenalin, gitu…

😀

Saya selaku pengguna berdoa semoga pemerintah segera membenahi kondisi jalan ini. Agar tidak menimbulkan korban. Juga, kecurigaan. 

Semoga hanya kawan saya seorang yang “mempromosikan” kondisi ini dalam celetuknya: Wisata Jeglongan Sewu.

Hoahemm…

January 30, 2017

Sudah lewat jam 9 malam. Saya masih di kantor. “Menemani” departemen sebelah yang masih sibuk menghitung.

Keadaan selalu begini setiap mendekati akhir bulan: stock opname.

Segelas kopi instan sudah saya teguk habis. Tapi, proses menghitung belum juga paripurna. 

Hoahemmm… 


%d bloggers like this: