Feeds:
Posts
Comments

Pengangguran & gensi

Di negeri yang katanya penganggurannya ada 9.43 juta jiwa, saya nyari 3 orang karyawan aja kok susahnya bukan maen.

Demikian kira-kira keluhan seorang kawan kemarin sore. Memang, ia bukanlah seorang direktur sebuah perusahaan besar. Ia adalah seorang enterpreneur yang hendak memulai bisnis di bidang desain grafis dan usaha rumah makan.

Ia menawarkan sebuah kesempatan yang luar biasa. Di saat banyak perusahaan merumahkan karyawan, ia menawarkan pekerjaan.

Ah, kenapa ya bisa begitu? Apa pengangguran di daerah saya, pengangguran yang punya gengsi tinggi ya? Mereka memilih menganggur daripada bekerja di tempat yang menurut mereka tidak prestisius.

Ternyata…

Ternyata Blog yang sudah pernah jadi pemenang lomba (kontes) blog itu juga tidak setiap hari di-update. Tadinya saya kepengen tahu kira-kira seperti apa dia menuangkan ide dan gagasannya. Sudah lebih dari 5 hari saya kunjungi blog itu ternyata masih sama. Tulisannya belum nambah. Apa karena sibuk dengan kemenangannya yach?! :)

Blog saya ini sama, jarang nambah tulisan. Dan selalunya kesibukan sayalah yang menjadi kambing hitam. (Tega sekali ya saya ini. :D Biarin!). Pengen sebenarnya setiap hari saya menulis dan menuangkan apa yang ada di kepala. Hanya saja, saya masih mendapati otak ini merekam sesuatu yang sama. Monoton. Sabtu kemarin saya sudah cuti sehari. Mengistirahatkan otak ini dari pekerjaan yang sudah terlanjur rutin. Berharap mendapat pandangan baru tentang sesuatu di sekitar saya. Ada banyak hal yang saya temui tapi tidak semuanya pantas ditampilkan.  Masih harus dipilah dan pilih. Biar ga malu-maluin. Dan, ini bukanlah sesuatu yang sederhana.

Ternyata, saya masih harus banyak belajar…

Nunggu basi

booksIni sungguh-sungguh terjadi. Kejadian nyata. Saya lebih semangat membaca sebuah buku ketika buku itu sudah basi. Maksudnya buku itu sudah agak lama saya miliki. Klo masih baru kok rasanya malas. Tidak ada semangat. Entah, ini terjadi pada saya saja atau kepada yang lain juga. Anehnya, saya lebih bersemangat ketika membaca buku pinjaman.

Apa sebaiknya saya tidak usah membeli buku saja ya? Mencukupkan diri dengan meminjam. Hehehee.. :D

Contoh itu penting..

inspirasi

Memberi contoh kebiasaan baik itu penting. Ia bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Hal itu sangat baik bagi kita.

Sudahkah Anda memberi contoh kebiasaan yang baik hari ini?

Perlu solusi juga

Ada pro dan kontra seputar penanganan terorisme. Beberapa pihak tidak setuju jika teroris langsung ditembak mati. Namun, ada juga yang setuju. Mereka yang setuju berdalih bahwa, penjara tidak efektif untuk pemberantasan terorisme. Hanya menghabiskan (baca: boros) uang dan waktu. Makanya mereka (teroris) dihabisi sekalian. Ini adalah solusi dari persoalan tidak efektifnya penjara dalam penanganan terorisme. Tentang setuju atau tidak terkait hal ini adalah pendapat masing-masing pribadi.

Kalau kita cermati, sebenarnya, penjara juga tidak efektif untuk penanganan tindak kejahatan yang lain. Misalnya perampokan, curanmor, dan narkoba. Pertanyaannya adalah apa solusi dari tidak efektifnya penjara bagi pelaku kejahatan-kejahatan itu? Tentunya, harus ada alternatif hukuman selain penjara. Kalau diperkenankan, saya mengusulkan kriteria. Yakni hukuman yang eksekusinya cepat, biaya murah, dan bisa memberikan efek jera.

Tadi sore saya ketemu teman lama. Kami berdiskusi banyak hal. Salah satunya tentang raket listrik. Awalnya saya bercerita kalau di rumah saya banyak nyamuk. Karena itu saya kepengen beli raket lisrik. Saya bertanya dimana kira-kira bisa mendapatkan raket listrik yang pake charger. Biar hemat.

Teman saya bilang, “Jangan pake raket listrik Man. Ngga efektif.

Setengah tidak percaya saya bertanya kepadanya, “Masak sih?!

Continue Reading »

Makin langka…

Orang sopan, supel, murah senyum, berpakaian rapi, dan rajin shalat berjamaah ke masjid akan semakin langka. Secara jumlah mereka tidak berkurang, mungkin malah cenderung bertambah. Hanya saja mereka akan semakin susah ditemui. Karena hari ini orang yang sopan, supel, murah senyum, berpakaian rapi tapi juga rajin shalat berjamaah ke masjid akan dicurigai. Dituduh macam-macam. Apalagi jika ia pendatang. Celananya cengkrang (menggantung). Istrinya memakai jilbab. Wahh… makin tanpa perhitungan orang mencurigai. Ini bukan rekayasa saya lho. Tadi malam saya menyempatkan diri nonton acara dialog di tipi. Kata pembicaranya, ciri-ciri “teroris” itu ya seperti yang tadi saya tulis di depan. Orangnya sopan, supel, murah senyum, berpakaian rapi dan rajin shalat berjamaah ke masjid.

Saya sangat menyayangkan pernyataan si pembicara. Ada kekhawatiran dalam diri saya, orang yang ingin mengamalkan ajaran agama (Islam)nya akan takut menunjukkan akhlak ketimuran (sikap sopo-aruh, grapyak, murah senyum). Dan lagi, orang akan mudah mencurigai satu sama lain. Ngga’ nJawa-ni blas.

Saya tidak faham mengapa dia mengeluarkan pernyataan demikian. Padahal dia ditonton orang se-Indonesia lho.. Wahh.. piye jal?! Yahh.. mudah-mudahan saja dia sedang khilaf trus setelah selesai acara berkata: Astaghfirullah!! Semoga. Andaikata demikian, itu tidak mengubah apa yang sudah ia sampaikan. Duh!

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam tulisan ini. Maap!

Tak bermaksud mungkir dari mengelola blog. Tak pula ada niatan untuk tak menulis. Tapi, saya kehilangan ide. Yang aneh, hal ini terjadi setelah saya membaca beberapa buku yang isinya tentang Ide & Kreatifitas. Aneh ya?! Tapi begitulah adanya. Saya jadi kurang percaya diri menampilkan tulisan-tulisan saya yang asal tulis.

Saya cobakan konsultasi perihal ini dengan orang yang biasa tulis menulis. Jawabannya sangatlah sederhana: Tetaplah menulis. Tetaplah meng-update tulisan. Baik buruknya tulisan akan bergerak lurus sebanding dengan semakin seringnya kita menulis..

Setuju ga?!

Klo blog ini saya isi dengan cerita-cerita lucu gimana yach?!

Kalau Jin ikut i’tikaf

Di 10 hari terakhir bulan ramadhan umat muslim melakukan amalan sunnah yang disebut i’tikaf. Selama 10 hari penuh mereka melakukan aktifitas ibadah di masjid dalam rangka bertaqarrub kepada Alloh. Meski terlihat berat tetapi sebenarnya peserta i’tikaf bahagia melakukannya. Ini terlihat dari wajah mereka yang senantiara berseri-seri. Kebahagiaan itu semakin terlihat saat mereka berbagi pengalaman mengikuti i’tikaf. Dan, terasa sangat seru dan antusias ketika mereka mulai bercerita tentang pengalaman digoda jin saat ber-i’tikaf. Jin-nya rupa-rupa penampakan dan godaannya. Ada yang nampak sebagai gadis yang molek. Ada pula yang nampak sebagai kakek-kakek bertongkat. Godaan yang mereka lakukan sesuai dengan penampakannya (wallahu a’lam bishawab). Maka tak jarang ketika sedang beristirahat dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain mereka berbagi pengalaman yang menggelikan.

Bagaimana dengan Anda? Anda punya pengalaman digoda jin ketika sedang i’tikaf?

« Newer Posts - Older Posts »