Menunggu Terbit

Dulu, awal bulan adalah waktu yang saya tunggu-tunggu. Awal bulan adalah waktu yang istimewa dalam hidup saya. Ini bukan tentang gajian lho.. Bukan. Tetapi tentang tulisan. Ya. Saat itu, tulisan saya -hasil comatcomot- masih “laku”. Sehingga tulisan saya dimuat di sebuah majalah.

Majalah itu oplahnya masih terbatas. Persebarannya pun belum merata di Indonesia. Maklum, majalah baru.

Meski belum banyak yang membaca majalah itu, saya selalu antusias jika majalah itu terbit. Alasannya, saya kepengen melihat tulisan saya setelah keluar dari meja editor jadi seperti apa. Ya. Sesederhana itu. Jujur, melihat tulisan saya menghiasi majalah itu membuat saya bahagia. Begitulah. Ternyata, ada hal-hal sepele yang bisa membuat kita bahagia.

Awal bulan ini, saya juga sedang menunggu terbitnya sebuah tulisan. Kali ini bukan di majalah. Tapi, berupa buku. Buku yang ditulis beramai-ramai dan diterbitkan oleh penerbit Gradien Mediatama.

Kalo dulu, saya menulis menggunakan data-data. Sekarang, saya mengandalkan imajinasi. Sungguh bertolak belakang. Meski begitu, keduanya punya kesamaan. Sama-sama membuat saya dag-dig-dug ketika menunggu terbit.

Ini bocoran covernya..

KKMlengkap

 

Info tentang harga dan lain-lain lihat aja di halaman ini.

Ah, saya jadi tidak sabar. Semoga, semuanya lancar sesuai jadwal. :-)

Lucu itu..

Lucu itu mestinya tidak harus dengan menyakiti kawan. Meskipun, hanya -sekali lagi- hanya dengan menaburkan bedak/tepung ke wajah atau dengan menjatuhkan orang lain ke property lunak. Buat saya, ini nggak lucu. Tapi, sadis.

Jangan melihat benda lunaknya. Tapi lihatlah bentuk perbuatannya. Demi membuat sebagian penonton ketawa ada pelawak yang melakukan hal-hal yang sebenarnya membahayakan. Bagi lawan main, iya. Tentu! Tapi ada bahaya lain yang besar. Bagaimana jika perilaku mereka diingat lalu ditiru oleh anak-anak. Mereka ikut-ikutan menjatuhkan kawan mereka ketika sedang bermain. Saat kawan mereka terjatuh dan kesakitan (karena jatuh bukan di property yang lunak), mereka menertawakannya. Bukan menolongnya. Parah kan!

Belum lagi cacian, umpatan dan ejekan yang sering terlontar juga dianggap lelucon biasa. Sebab kekurangan orang lain adalah bahan tertawaan yang sempurna. Jika Anda menganggap ini adalah hal biasa saja, maka jangan marah jika suatu saat ada orang yang yang mencaci atau mengumpat Anda.

Mestinya, lucu itu kreatif. Bukan menyakiti orang lain…