Sanjay ‘Dut’

Tetangga yang baik adalah rizqi tersendiri. Karena tetangga adalah saudara, yang jikalau kita memerlukan bantuan ia akan membantu. Saat kita bersedih ia akan menghibur. Dan, di saat kita bahagia ia akan mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang kita terima. Sungguh, tetangga adalah aset yang luar biasa.

Manusia itu punya karakter yang berbeda satu dengan yang lain. Ada yang pemarah. Pendiam. Penjilat. “Penyambung lidah”. Ada juga yang grapyak (baik hati dan suka menyapa). Namun, ada juga tetangga yang sering bikin gemes dengan polah tingkahnya. Kelebihan dan kekurangan menyertai mereka dalam berinteraksi.

Adalah Yanto, tetangga kawan saya. Orangnya sedikit cuek dan pede abis.. Pria yang usianya hampir 30 itu termasuk salah satu manusia istimewa di Indonesia (halah!). Iya. Saya serius. Hal yang membuatnya istimewa adalah kejenakaan sikapnya.

Suatu sore, kawan saya baru saja bangun dari tidurnya. Separuh sadar, ia memaksakan diri berjalan ke teras rumah. Melihat langit, mempraktekkan ilmu yang ia pelajari semasa sekolah. Ia mencari tahu apakah sore ini akan hujan. Maka dari itu ia melihat ke langit.

“Hoaaaheemmmmm…..mm!!”

Betapa terkejut ia manakala mendapati Yanto sedang berjalan santai di depan rumahnya. Tanpa ekspresi. Kaku. Dan, seperti biasa cuek.

Merasa dicuekin teman saya pun membalas: cuek juga. Lalu, menggaruk kepala. Padahal tidak gatal.

Tak berapa lama berselang suara nyaring terdengar. “Dut…!” (kentut)

Mendengar suara yang tidak asing itu kawan saya menoleh. Mencari tahu sumber bunyi. Dan, ia mendapati Yanto sebagai satu-satunya terduga teror sore itu. Sebab tidak ada makhluk lain yang mempunyai keahlian bersuara seperti itu kecuali mereka berdua.

Eh… bukannya mengakui, si Yanto justru melakukan kamuflase.

“Ngapain kamu menoleh? Memangnya nama kamu ‘Dut’?! “

Kawan saya yang semula berniat untuk menegur akhirnya memilih untuk mengalah. Ditampakannya senyum kecut. Seolah ingin berkata, “jika saya menyahut berarti saya adalah ‘Dut’. Ah, dasar Yanto! Gile loe…”

Imaginer

Imaginer. Begitu komentar seorang ustadz kepada saya.

Memang benar apa yang dikatakan ustadz itu tentang saya. Imajinasi saya ini, kalo boleh dikategorikan, termasuk ke dalam aliran sesat. Maksudnya, aneh. Tidak wajar. Nyempal. Pokoknya nyeleneh.

Entah dari mana saya mendapatkan kebiasaan ini. Mungkin, karena saya senang menonton film kartun. Tom & Jerry. Donald Duck. Goofy. Atau, mungkin film animasi lain yang mengundang tawa karena memang ceritanya aneh. Saya tidak tahu..

Yang saya tahu kebiasaan saya ini adalah hal yang tidak baik. Menyesatkan. Dan, yang lebih parah, ternyata sifat ini bisa menular. Bener. Ini terbukti pada kawan-kawan yang sering berada di dekat saya ikut-ikutan [berimajinasi nyeleneh]. Atau, jangan-jangan saya yang ketularan ya?! Efek domino kah?!

Kembali ke imaginer. Komentar ustadz tadi sebenarnya bukan tanpa sebab. Beliau berkata demikian karena mendapati saya senyum-senyum seorang diri, ketika dalam pengajian. [Waktu itu beliau menceritakan bagaimana seorang ulama memanfaatkan waktunya.] Padahal jama’ah yang diam. Entah, mereka ngantuk atau karena mereka masih “normal”.

Jadi begini, dikisahkan oleh ustadz, “Bahwa para ulama terdahulu itu sangat berhati-hati dalam memanfaatkan waktunya. Sampai-sampai ketika dalam perjalanan pun mereka memanfaatkan waktunya dengan baik. Imam Tirmidzi, contohnya. Beliau memanfaatkan waktunya untuk menulis. Jadi, beliau ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika safar [bepergian].”

*saya mulai senyum-senyum*

Ustadz itu memandang ke arah saya. Lalu, saya pun menunduk karena malu.

Lalu dimana nyelenehnya???

Nah, begini.. Saat ustadz itu berkata, “Jadi, beliau ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika safar”, oleh otak saya informasi ini diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sesuatu di luar dugaan.

Otak kiri saya mengatakan, menulis di atas kertas berarti menulisi kertas. Menulis di atas kendaraan berarti menulisi kendaraan.

Bayangan saya, kendaraan para ulama dulu kan onta. Terbayang dalam imajinasi saya bagaimana kondisi onta beliau ini. Pasti tubuhnya penuh dengan tulisan. Di badannya ada tulisannya. Dikuping ada tulisannya.Di kakinya ada tulisannya. Di kepalanya ada tulisannya. Di ekornya juga. Semacam tatto-lah. Wong, beliau [Imam Tirmidzi] ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika bepergian. Dan, beliau ini sering bepergian. Ulama gitu loh..!

Otak saya melengkapi imajinasi yang aneh itu dengan pertanyaan: Trus, kira-kira bagaimana ya caranya menulis di atas kendaraan [onta] itu? Sambil berjalan pula.

Ah, sudahlah, tidak perlu dibahas.. nanti malah Anda semua ikut-ikutan tersesat dalam imajinasi saya. :D

Dan, ketika imajinasi ini saya ceritakan ke ustadz tadi, sebagai pertanggungjawaban saya karena senyum-senyum sendiri di majelis beliau, hasilnya: Ente itu imaginer.

Aba-Aba

Kita tentunya pernah berlatih baris-berbaris. Sejak SD, kegiatan latihan baris-berbaris sudah diajarkan oleh bapak guru. Kita menyebutnya pebebe [PBB = Praktek Baris Berbaris. Bener ga?! :) ] Sebuah kegiatan luar ruangan yang berkaitan erat dengan kegiatan upacara itu memang cukup menguras energi.

Konsentrasi mutlak diperlukan saat baris berbaris dipraktekkan dalam kegiatan upacara. Salah sedikit saja maka akan menimbulkan akibat yang luar biasa.

Tubuh yang sudah letih dan tatapan mata kawan-kawan lain ikut andil dalam membuyarkan konsentrasi. Hasilnya: grogi!

Hal ini pernah dialami oleh kawan saya. Begini ceritanya..

Suatu pagi yang cerah, dimulailah kegiatan upacara pagi. Kawan saya, pagi itu mendapat tugas menjadi pembaca doa. Dia berdiri bersebelahan dengan kawannya yang lain yang bertugas menjadi pembaca UUD ’45, pembawa acara dan pengibar bendera.

Setelah melewati beberapa urutan acara, tibalah waktunya pengibaran bendera.

Tiga orang siswa nampak tegang. Mereka menjadi sasaran puluhan pasang mata pagi itu.

Kemudian, terdengar pembawa acara membacakan susunan acara.

Pengibaran Sang Saka Merah Putih, oleh petugas.

Ketiganya bersigap. Lalu, seorang gadis pembawa bendera yang berdiri di tengah memberi aba-aba kepada kedua kawan yang lain.

Siap, grak!

Lencang kanan-kiri, grak!

Luruskan!

Kedua laki-laki yang berdiri di samping gadis tadi menengok ke kanan dan kiri sesuai aba-aba.

Lurus!” Jawab keduanya nyaris bersamaan. Setelah kembali pada posisi semula.

Melihat persiapan dirasa cukup, si gadis pun, memberi aba-aba untuk berjalan,

Maju jalan, GRAKK..!!

Mendengar aba-aba yang sedikit asing, sontak para siswa sebuah SMU di Ngawi itu tertawa cekikikan. :D

- – -

Sedikit berbeda dengan kejadian di atas. Seorang kawan saya yang lain menjadi saksi kejadian janggal pada upacara pagi si SMP-nya.

Saat itu, seorang kawan dari kawan saya [ga bingung kan?!] bertugas menjadi komandan upacara.

Tibalah saatnya komandan upacara maju memberikan laporan kepada pembina upacara,

Lapur..! Upacara bendera siap dimulai.” Kata komandan upacara dengan logat jawanya yang kental.

Jangan ‘lapur’ dong. Mestinya ‘lapor’. Ulangi!” Kata pembina upacara.

Entah karena alasan apa, bukannya mengulangi sesuai permintaan pembina upacara, sang komandan upacara justru berteriak lantang:

LAPAAAR..!

Pagi itu, seisi lapangan tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Pesan saya, hiburlah kawan Anda tapi jangan lakukan itu ketika sedang upacara di lapangan. ;)

Bahasa lokal

Menguasai bahasa adalah keahlian penting. Dengannya kita bisa berkomunikasi dengan baik.

Mampu menguasainya bahasa lokal suatu daerah adalah sebuah kelebihan. Gagal menguasainya akan menimbulkan persoalan tersendiri. Seperti kejadian yang dialami seorang kawan.

Dia adalah seorang guru muda yang berasal dari Jawa Barat yang mencari nafkah di daerah dekat tempat saya tinggal.

Suatu hari ia hendak membeli sesuatu di pasar. Ia memilih untuk berangkat sendirian karena letak pasar tidak begitu jauh dari tempatnya tinggal. Sekalian re-freshing, pikirnya.

Setelah berjalan selama 1 menit, sampailah ia di pasar. Kemudian, ia bergegas mendatangi seorang penjual. Sejenak ia terdiam. Bingung. Mau ngomong apa? Bahasa apa yang akan dia gunakan. Jawa atau bahasa Indonesia.

Akhirnya, bahasa jawa jadi pilihan. Meski belum begitu faham betul tapi keinginan untuk bisa menggunakan bahasa ini menggoda hatinya. Kalo tidak dicoba maka tidak akan pernah tahu, begitu kira-kira, alasannya. Bermodal vocabulary yang seadanya ia memberanikan diri membuka percakapan.

Kawan: “Niki harganya pinten, Bu?”

Penjual: “Karo tengah, Mas.”

Kawan: “Mboten kurang, Bu?”

Penjual: “Mboten saged, Mas. Pun pas.

Karena merasa belum cocok kawan saya memutuskan untuk mencari penjual ke tempat lain Siapa tahu, ada yang menjual lebih murah. Ia pun berjalan lagi ke arah yang lain.

Sejurus kemudian, bertemulah ia dengan penjual yang lain. Hal yang sama segera ia tanyakan ke penjual yang baru saja ia temui itu.

Kawan: “Niki harganya pinten, Bu?”

Penjual: “Dua ribu, Mas.”

Kawan: “Saya minta satu, Bu.”

Saat mendengar cerita ini, saya pun senyum-senyum. Hihiihi.. :)

Tahukah Anda dimana letak kelucuan kisah kawan saya tadi? Bagi yang sudah faham bahasa jawa mungkin langsung bisa mengetahui.

Nah, bagi yang belum memahami bahasa jawa saya akan menerangkan sedikit. Penjual pertama memberi harga karo tengah. Ini senilai dengan Rp. 1.500,- Sedangkan penjual kedua memberi harga Rp. 2.000,-. Ternyata kawan saya salah memahami. Yang dia ingat, karo tengah itu Rp. 2.500,- :D

Bila Anda saat ini sedang berada di daerah dan ingin menggunakan bahasa lokal baiknya juga berhati-hati. Jangan ragu untuk bertanya. Karena, tidak faham bahasa lokal bisa mengakibatkan kerugian mendadak. :D

- – -

Sedikit berbeda dengan cerita dari seorang kawan yang lain. Saat itu ia sedang membeli baju batik di pasar Klewer Solo.

Kawan: “Yang ini harganya berapa, Bu?” [sambil menunjuk sepotong baju batik]

Penjual: “Selangkung, Pak.”

Kawan: “Selangkung?! Slawe ewu mawon, nggih?” tawar kawan saya dengan percaya diri yang luar biasa.

Penjual: “Oh, nggih!” jawab penjual sembari tersenyum manis.

Tahukah Anda dimana letak kelucuannya?

Sekali lagi, bagi Anda yang belum faham bahasa jawa saya akan menerangkannya. Selangkung dan slawe ewu itu nilainya sama: Rp. 25.000,-

Ternyata, tidak faham bahasa lokal juga berpotensi menyebabkan masalah yang lain: malu-maluin!

:D

Suatu Hari di Ruang Keluarga

Sepasang suami istri sedang duduk di ruang keluarga menyaksikan acara pencarian talenta di sebuah stasiun televisi.

Istri: “Suara si Putri Ayu bagus ya, Mas?”

Suami: “Iya.”

Istri: “Katanya, ada yang nyamakan dia dengan Gita Gutawa lho.”

Suami: “Masak sich?! Kalo menurutku sich, bagus Gita Gutawa. Suaranya lebih khas.”

Istri: “Ya iyalah, dia lebih jago nyanyi. Bapaknya kan kondektur, Mas.”

Suami: “Hah!? Bapaknya kondektur? Jangan-jangan ibunya kenek?! Heheehe.. Bukan kondektur. Konduktor kalee..”

Istri: “Heheehe.. Iya, maksudnya itu.”

Suami: “Heheehe..”

:D