Dokter + menyuntik..

Jadi dokter itu enak. Duitnya banyak. Kerjanya sederhana dan nggak perlu tenaga ekstra: nyuntik. Semoga Anda setuju dengan pendapat saya itu.

Nyuntik memang mudah (iya nggak sich?). Tapi adakalanya hal yang mudah itu bisa jadi masalah. Khususnya, di Jawa. Yang mana pasien di jawa (biasanya mbah-mbah) merasa mendapat sugesti yang luar biasa ketika mereka mendapat suntikan dari dokter yang ia kunjungi. Ia akan merasa sudah ke dokter bilamana ia sudah mendapat suntikan. Sayangnya, si pasien tidak mau tahu zat apa yang disuntikkan ke dalamm tubuhnya. Intinya, kalo ke dokter harus di suntik.

Berikut ini ada kejadian yang bisa menggambarkan keadaan yang saya maksud. Ini kisah nyata!

Alkisah, suatu hari seorang dokter didatangi pasien. Ia datang beserta keluhannya: tidak enah badan. Di ruangan itu hanya ada dokter. Tempat praktek memang baru saja buka karena memang hari masih pagi.

“Ini, Bu dokter, saya nggak enak badan.” Kata si pasien dengan nada mengkhawatirkan.

“Kenapa, Mbah?” selidik dokter itu.

“Rasanya pegal-pegal. Panas dingin.”

Sejurus kemudian, dokter itu segera melingkarkan sphigmomanometer di lengan si pasien. Dokter mencari tahu berapa tekanan darah si pasien.

“Berbaring ke dipan ya, Mbah.” Perintah dokter.

“Nggih…”

Pasien berbaring. Kali ini dokter memeriksa menggunakan stetoskop.

“Gapapa, mbah. Cuma perlu istirahat saja. Nanti saya kasih obat biar lekas hilang pegal-pegalnya.”

“Mbok, saya disuntik tho bu dokter.”

“Nggih…!” Jawab bu dokter sambil tersenyum.

* Beberapa menit kemudian

“Ini obatnya mbah. Diminum 3 kali sehari. Sekali minum satu saja. Yang ini juga.” Kata dokter menerangkan.

“Bayarnya berapa, bu dokter?”

“Sepuluh ribu, mbah.”

Si pasien menyodorkan uang dua-puluh-ribuan.

“Maaf mbah, belum ada kembaliannya.”

“Oh.. gitu. Gapapa, bu dokter. Ga usah pake kembalian saja. Tapi, saya suntik lagi ya. Biar cepet ilang pegal-pegalnya.”

Bu dokter terkaget-kaget dengan jawaban pasiennya. Sebenarnya ia pengen ketawa. Tapi, melihat pasiennya yang lugu itu, ia tidak sampai hati..

Kini, ia menghadapi persoalan yang belum sempat ia tanyakan ketika kuliah dulu. Baiknya, disuntik lagi atau tidak?

Penampilan itu penting

Ajining diri gumantung ono lathi, ajining rogo gumatung ono busono.” [pepatah jawa]

Penampilan itu penting. Sangat penting. Kali ini, Anda harus setuju dengan saya. Melalui penampilannya, seseorang mendeskripsikan dirinya. Contoh mudahnya, jika Anda melihat seseorang dengan pakaian seadanya. Celana ketat dan sepatu boot. Rambut bergaya mohawk. Telinganya di-piercing. Maka Anda akan mengatakan bahwa dia PUNK. Pun, jika Anda bertemu seseorang berjenggot lebat. Pakaiannya putih. Celananya cingkrang. Mengenakan kopiah. Mungkin, Anda akan mengira bahwa dia seorang ustadz. Ya, begitulah kira-kira. Sederhana bukan?!

Jagalah penampilan Anda atau masalah akan menimpa Anda. Hal ini patut direnungkan. Begini maksud saya, saat Anda tampil dengan pakaian yang tidak semestinya maka orang disekitar Anda akan menghakimi Anda sebagaimana mereka berjumpa dengan Anda. Kawan saya sudah membuktikannya.

Suatu hari, kawan saya itu, sebut saja Kumbang. Eh, jangan Kumbang ding! Nggak asik jadi temannya Kumbang. Kalo temannya kumbang kan kumbang juga berarti. :D Kita sebut Michael saja.

Suatu hari, Michael sedang mengecat rumahnya, berdua dengan kakaknya. Saat sedang sibuk mengecat Mama-nya minta tolong diantar ke pasar untuk membeli roti. Karena pakaiannya belepotan cat, Michael berinisiatif meminta tolong kepada kakaknya yang satu lagi yang kebetulan sedang sibuk di dalam rumah. Rupanya, ia sedang tak bisa diganggu. Percek-cokan ringan pun terjadi.

Michael mengalah. Ia keluar rumah dengan wajah menyiratkan sedang marah. Lalu, menghampiri mamanya.

Kakak, ngga bisa nganter, Mak. Nggak tahu tuh.. sudahlah, Michael anterin aja.”

Tanpa pikir panjang Michael pun meluncur. Berboncengan dengan mamanya. Dan, tanpa ganti baju terlebih dulu. Tak lama, sampailah mereka di pasar yang dimaksud.

Michael ikut masuk nggak?

Yang ditanya bingung. Sebenarnya kepingin ikut, tapi melihat pakaiannya yang amburadul ia mengurungkan niatnya.

Michael tunggu di luar aja ya, Mak.” Jawab Michael.

Si mama bergegas masuk. Michael menunggu. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Hingga menit ke 30 si mama belum keluar juga. Michael mulai tak tenang. Wajahnya mungkret [menyusut alias kusut].

Tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya.

Mas, minta gula jawanya 2 box. Gula pasirnya satu karung. Sekalian angkatin ke mobil ya!

Michael bengong. Masih belum faham. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang lain. Artinya, laki-laki tadi berbicara kepada Michael. Tidak terima dikira tukang angkut, Michael segera menyahut..

Pak, saya di sini juga pembeli. Enak aja maen perintah!

Oh, maaf mas. Saya kira…” Jawab si laki-laki dengan suara menggantung. Dia melengos setelah tersenyum kecil.

Sepulang dari pasar Michael menyempatkan diri untuk mengaca. Ia menatap dirinya. Hitam. Ia lihat bayangan rambutnya. Keriting. Ia mengamati pakaiannya. Amburadul. Ia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian di pasar.

Michael berkata lirih, “Pantes…

Pernah juga, suatu hari ketika ia sedang menjemput ayahnya di sebuah hotel, ia dikejutkan oleh seorang perempuan yang menghampirinya kemudian dengan serta merta menyodorkan selembar uang seribuan.

Michael menolaknya dengan diplomatis. “Maaf Mbak, saya sedang jemput ayah saya. Saya bukan tukang parkir. Maaf lho ya. Dibawa saja duit seribu-nya..

Maaf, ya Mas!” sahut perempuan itu.

Michael hanya tersenyum ketus. Lalu membiarkan si perempuan itu pergi. Ia tak menyalahkan si perempuan tadi. Ia sadar dengan penampilannya yang seadanya. Ia juga menyadari kalo salah posisi. Menunggu orang keluar hotel kok di parkiran.

Sepertinya Micael sudah bosan dengan kejadian yang sering menimpanya. Ia berniat memperbaiki diri. Pikiran itu terlintas begitu saja saat ia berada di kamar mandi.

Ya, saya harus mengubah penampilan.” Kata michael dalam hati.

Langkah pertama, Michael ingin mengurangi kehitaman di wajahnya. Ia menatap sekeliling. Gayung bersambut. Di dapatinya sebuah produk lulur: P*rbasari, Lulur Mandi Bengkoang: Whitening. Maka, segera saja ia buka tutupnya dan membalurkan produk lulur itu.

Tak berapa lama.. “Aduh!

Michael kaget merasakan panas di wajahnya. Ia berpikir betapa hebatnya produk ini. Luar biasa. Efeknya langsung terasa. Ia pun melanjutkannya dengan mengusap produk itu ke seluruh wajah. Rasa panas kian meningkat. Michael bertahan. Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Tak tahan dengan panasnya ia pun segera mengguyur wajahnya dengan air. Lalu, dari dalam kamar mandi ia bertanya kepada mama-nya.

Mak, kok lulur P*rbasari-nya kalo dipakai di wajah terasa panas ya?

Ha.. Apa?! Lulur P*rbasari yang di kamar mandi ya?

He em.

Ya pasti panas. Orang, lulur P*urbasari-nya udah habis, trus, Mak pake wadahnya buat nyimpen deterjen kok.

Apa…!!” Michael pun lemas..

* * *

Ini kisah nyata. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. :)

Bahasa Inggris

Kapankah Anda mengenal bahasa Inggris?

Kapan Anda berhasil menguasai bahasa Inggris?

Apakah Anda punya kunci Inggris di rumah? Eh, maap yang ini tidak ada hubungannya dengan pertanyaan sebelumnya. :)

Sebenarnya, saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman saya menimba ilmu bahasa Inggris. Tapi, sebelumnya saya ingin bertanya kepada Anda: Apakah Anda pernah mencicipi garam Inggris [halah!] Nggak penting! :D

OK. Cerita mulai…

Saya mengenal bahasa Inggris ketika kelas 1 SMP. Itu pun, saya belum bisa menerima seutuhnya kehadiran bahasa Inggris dalam kehidupan saya. Bahasa Inggris itu bahasa alien. Begitu kira-kira pikiran saya waktu itu. Pokoknya aneh dan ra mudengke [membingungkan].

Ketika pertama mendapat pelajaran bahasa Inggris, saya hanya diam. Karena belum faham maka saya selalu memperhatikan. Memperhatikan pelajarannya? Salah. Saya memperhatikan gurunya. Namanya ibu Ida. Eh, bener ngga ya?! Bener deh kayaknya. Iya, bener. Ibu Ida. Ibu guru muda yang cantik dan luar biasa. Saya benar-benar kagum dengan beliau. Bahasa Inggrisnya itu lho, pinter banget. Ya iyalah.. guru bahasa Inggris gitu loh.. :)

Sampai caturwulan pertama berakhir, saya belum bisa menguasai bahasa Inggris. Payah! :( Tapi mendinglah.. udah mulai familiar ngedengerin vocab-vocab Inggris githu.. Jadi, sudah punya modal buat speak in english. Not bad-lah. Lumayan.. *logat cinta laura*

Hal yang paling saya ingat saat belajar bahasa Inggris adalah ketika testing. Tes caturwulan. Di salah satu pertanyaan ada sebuah deskripsi binatang [ini saya ketahui setelah saya sedikit lebih faham bahasa Inggris]. Kemudian, siswa diminta untuk menuliskan nama binatang itu di lembar jawaban. Dulu itu, gimana ya deskripsinya? Kalo tidak salah begini,

It is kind of animal. It is grey. It is big. It is have a long nose. And, eat grass. What it is?

Saya waktu itu bener-bener ngga mudeng . Blank. Apa maksud pertanyaan ini? Apa yang ditanyakan?

Beruntung, waktu itu saya duduk bersebelahan dengan siswa kelas II [Kalo sekarang kelas 8]. Sebut saja Kumbang. [Kok, kesannya jadi kayak berita kriminal ya? Gapapa lah…] Saya segera melakukan diplomasi tingkat tinggi. Dengan wajah memelas dan tampang pasrah saya memberanikan diri untuk meminta bantuan. Dan, berhasil. Dia mau membantu. Cihuii… Sip! ;)

Kertas soal saya geser bagian bawahnya sehingga Kumbang bisa membaca pertanyaannya. Dia manggut-manggut. Saya senang. Saya yakin dia tahu jawabannya. Saat jawaban itu hendak disampaikan, mendadak guru yang berjaga mendekat ke meja kami. Lalu, kami mematung. Saya menggerutu: Please deh Pak, go to hell aja! Eh, bukan. Maksud saya, ayolah Pak, jangan berdiri di sini dong…

Beberapa menit kemudian, guru penjaga bergerak menjauh. Kumbang segera menyampaikan secara lisan. Itupun dengan mulut yang tertutup jemari tangan agar tidak ketahuan. Maklum, meja kami berada paling depan. Jadi, kalo berbuat curang kudu kreatif. Catat!

Samar-samar suaranya saya tangkap. Cenderung tidak jelas. Mungkin, karena saya tidak memakai antenna eksternal. Eh, ngga ding. Memangnya saya henpon. Waktu itu suasana begitu senyap. Kami khawatir suara bisikan itu terdengar orang lain. Khususnya guru penjaga. Tapi karena volume suara lumayan pelan dan daya listening saya cukup buruk [waktu itu] maka jadi tidak jelas. Kumbang mengulangi lagi. Tapi, tetep saja sama: nggak jelas. Saya mikir, ini suara Kumbang yang ngga jelas atau saya yang mengalami ke-budek-an dini ya?! Saya mendengar dia mengucapkan,

[berbisik] KACA.

Saya mencoba meyakinkan diri saya dengan bertanya sekali lagi,

[berbisik juga] Hah, apa?!

Kumbang pun mengulanginya. Dipenggal pula,

[tetep berbisik]KACA. KA… CA…

Ohh.. berarti sudah bener. Tapi, kok hati saya ragu. Maka saya baca ulang pertanyaanya,

It is kind of animal. It is grey. It is big. It is have a long nose. And, eat grass. What it is?

Animal itu kan artinya hewan. Kok, KACA. Saya ragu. Tapi, saya tulis dilembar jawaban: K A C A. Dan, saya baru menyadari kebodohan saya ini ketika ada pembahasan soal. Ternyata, waktu itu Kumbang mengatakan G A J A H bukan K A C A . Duh…

Jujur, kalo ingat kisah ini saya malu. Tapi, karena saya baik hati. Saya share kisah ini di sini biar teman-teman bisa mengambil pelajaran. Bahwa, pendengaran yang baik itu diperlukan saat menjalani tes. Eh, bukan. Maksud saya, percaya pada diri sendiri itu penting..