Rasa ini..

Kali ini saya pengen berbagi tentang sebuah rasa. Bukan rasa sayang. Juga bukan rasa rindu. Tapi, rasa aneh di perut ini. Engga tahu kenapa begitu salurannya beres (baca: diarenya sembuh) kini, yang terasa perut saya kok penuh. Sesak. Rasanya kemacetan ibukota pindah ke perut saya. Kembung. Sepertinya macetnya sudah cukup lama sehingga asap kendaraan memenuhi perut ini. Saya enggak tahu apa lampu lalu lintas di usus saya lagi padam atau gimana ini. Mudah-mudahan aja tidak ada yang salah..

Karena nggak tahu, saya nggak mau sok tahu. Maka gugling-lah saya. Ada banyak temuan tapi kok nggak ada yang persis 100%. Ya minimal, 99,9% gitu lah.. Ada yang aneh malah. Gejalanya sih mirip.

Perut laper. Tapi makan sedikit aja rasanya penuh banget. Apa aku hamil ya, Bun?

What’s?! Oh no. Ini jelas sekali jikalau saya kesasar.

Hari ini saya sedang memesan kepada juragan Herbal di dekat kantor tempat saya bermain bekerja. Dulu, kakak ipar saya pernah mengonsumsinya setelah sembuh dari disentri. Hasilnya -biidznillah- sembuh. Doi malah mengalami kemajuan yang luar biasa. Perut sehat. Dan, yang tadinya nggak nahan kalo dikasih pedas, sekarang oke-oke aja tuh.

Hhhhhh….! Jadi nggak nahan pengen segera menelan kapsul itu. :D Ya Alloh, sesungguhnya jika kami sakit Engkau-lah yang menyembuhkannya..

Ssssttt…! Ini rahasia

Barusan kesasar ke sebuah blog. Pemilik blog itu seorang penulis. Saya tahu itu karena saya adalah salah satu korban tulisannya. Kocak habis.

Saya sih beli bukunya udah 2 tahun yang lalu. Eh, kemarin saya baca-baca lagi masih sama: lucu. Sampe-sampe istri yang lagi sibuk nyetrika beristirahat sejenak hanya untuk bertanya, “Lagi ngapain, Mas?!” “Mbaca buku.” Jawab saya singkat. Acara setrika-menyetrika pun dilanjutkan kembali setelah istri yakin bahwa suaminya tidak sedang kumat. Aman. Terkendali.

Kembali ke kesasar tadi. Di dalam blog itu saya menemukan tulisan yang tidak asing lagi. Tapi, saya ngerasa ada yang beda. Aha.. saya ingat! Sepertinya, tulisan itu mirip-mirip seperti yang ada di buku yang saya baca semalam. Sangat mirip. Saya baca-baca lagi tulisan yang lainnya. Bener. Tapi… kok rada beda ya?!

Saya coba bandingkan tulisan itu dengan yang di buku. Beda. Memang beda. Tulisan di blog biasa-biasa saja. Yang di buku terasa lebih renyah. Saya coba cari tahu lebih dalam. Dan, ternyata sodara, ada Mr. Nurhadiansyah yang membuat tulisan jadi berbeda. Saya nggak tahu siapa dia. Tapi, dialah aktor intelektual (editor) dibalik layar di dua buku humor yang saya punya.

Kesimpulannya, tulisan yang dijual pastilah udah diedit. (Ya iyalah…)

Ini cover buku yang saya baca;

diary-dodol-istri1

Anak Kecil & Masjid

Mengajak anak kecil ke masjid adalah sebuah tindakan fifty-fifty. Bisa jadi, ia akan mendapat banyak pelajaran. Atau, justru malah memberi “pelajaran”. Seperti pengalaman seseorang yang pernah saya baca di dalam sebuah forum.

Dikisahkan, suatu hari si A (sebut saja begitu.) mengajak keponakannya ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Sebagaimana biasanya, ia datang sebelum adzan dikumandangkan. Lalu, ia mencari tempat yang masih kosong. Sembari berjalan ia menggandeng tangan keponakan-nya. Beberapa saat kemudian duduklah mereka berdua dalam barisan shof.

Khotib mengucapkan salam. Adzan dikumandangkan. Lalu, khotib menyampaikan khutbah. Singkat. Kira-kira 15-an menit khutbah itu selesai. Giliran iqomat dikumandangkan.

Jama’ah yang hadir terlihat sibuk mengatur shof agar lurus. Sebagian ada menggelar sajadah. Merapikan kain sarung. Ada juga yang mengusap-usap muka karena baru saja bangun dari tidur. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Begitu pun si A. Ia mewanti-wanti keponakannya agar tertib dalam mengikuti shalat Jum’at. Si keponakan mengangguk kecil. Tapi, terlihat ogah-ogahan menanggapi wanti-wanti pamannya itu.

Allahu Akbar!

Jama’ah segera ikut ber-takbiratul ihram, tanda dimulainya shalat jum’at. Kemudian, terdengar imam membaca surat Al-Fatihah. Bacaannya merdu. Juga jelas. Hingga, sampailah pada bacaan..

“..ghairil maghdu bi a’alaihim waladdhollin..”

Jama’ah bersiap mengucapkan “Amin.” Namun, diluar-dugaan terjadi peristiwa yang mengejutkan. Sesaat sebelum jama’ah mengucapkannya, keponakan si A dengan lantang berucap..

Semua bilang apa..?

Jama’ah yang sejatinya sudah mengambil nafas dan bersiap mengucap “amin” justru tertawa. Meski tidak semuanya. Si A menjadi orang yang sungguh kurang beruntung siang itu. Ia tak dapat berbuat apa-apa. Malu, sudah pasti. Ia bahkan tidak tahu pasti si keponakan mendapat kata-kata itu dari mana. Nasib.

Nah, dari kisah ini mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah. Memang, mengenalkan anak kecil terhadap perkara ibadah (shalat) adalah tindakan yang baik. Tetapi, hendaknya kita lebih berhati-hati.

Lalu, bolehkah mengajak anak kecil ke masjid? Untuk mengetahui pembahasan mengenai hal itu silakan klik di sini.

Pertunjukkan Komedi..

Seberapa sering Anda nonton acara komedi? Tiap hari? Tiap pekan? Sering? Kadang-kadang aja? Atau, bahkan sangat jarang? Kalo saya termasuk orang yang lumayan sering nonton. Paling tidak, mbaca tulisan yang berbau-bau komedi-lah…

Ada sesuatu yang beda menurut saya ketika menikmati acara / tulisan komedi. Saya bisa all-out (bener ga nich tulisannya!) terlibat dalam suasana. Sepertinya memang ketertarikan dalam hal itulah yang membuat Saya lebih flow (Weisss.. bahasanya men!). Mengalir begitu saja. Tahu-tahu sudah malam. Eh, tengah malam malah. :D

Ada hal yang menurut ane menarik yang pengen Saya share di sini. Sebuah cerita tentunya. Ini tentang dengan sejauh mana seseorang dikenal orang lain dan kira-kira akibat apa yang ditimbulkannya ketika berada pada suatu keadaan tertentu.

Jadi gini, suatu hari presiden Indonesia melakukan sebuah kunjungan. Nah, pada kunjungan kali ini presiden tidak mendatangi tempat yang mewah. Bukan, pula tempat yang indah panoramanya. Bukan. Lalu, tempat apakah itu?

Mau tahu jawabannya…? Mau tahu??? Hemmm…..??? Mau tahu jawabannya!? *ngelirik-ngelirik gaya ust Nur Maulana* ;)

Baiklah… Hari itu, Presiden mengunjungi rumah sakit jiwa. *jrengg… jrengg!!*

Te… ta… pi, hari itu adalah hari pertama masuk setelah libur le… ba… ran. Sebagaimana lazimnya kondisi perkantoran di Indo.. ne… sia, beberapa pegawai be.. lum masuk!! Apakah yang menyebabkan ini terjadi? Benarkah pegawai-pegawai itu mangkir karena masih capek setelah mu.. dik..? Semuanya akan kita bahas di ins*rt investigasi! Loh! Oke.. back to laptop..!! (halah!) :D

Kepala rumah sakit rupanya kaget mendapat kunjungan mendadak dari presiden. Ia tidak ingin presiden kecewa karena hanya disambut oleh segelintir orang. Akhirnya, kepala rumah sakit jiwa mengajak beberapa pasien yang sudah hampir sembuh untuk ikut menyambut kedatangan presiden.

Hari itu, berjajar pegawai rumah sakit jiwa. Mulai dari kepala rumah sakit lalu diikuti oleh pegawai dengan pangkat dibawahnya. Lalu, tentu saja: pasien yang sudah hampir sembuh (selanjutnya kita tulis PYSHS).

Kepala rumah sakit menyambut presiden dengan antusias. Ia tersenyum dengan tulus sambil sedikit membungkukkan badan badan tanda menghormati tamu. Begitu pun pegawai setelahnya. Dan, setelahnya. Kemudian, tibalah giliran PYSHS yang menyambut.

Tidak ada senyuman. Tatapan mata sayu. Wajahnya pun kaku. Tanpa ekspresi. Melihat hal itu, presiden tersenyum lalu mencoba mengajak komunikasi.

Presiden : “Saya SBY, Pak.”

PYSHS : “Ohh.. tidak apa-apa, Pak.”

Presiden kaget mendapati respon tersebut. Ia pun bertanya kepada PYSHS.

Presiden : “Tidak apa-apa? Maksudnya, Pak?” *senyum*

PYSHS : “Iya, Pak. tidak apa-apa. Dokter dan perawat di sini baik-baik semua kok. Bapak pasti sembuh. Percayalah sama Saya.” *menepuk perlahan pundak Presiden*

Presiden yang masih bingung pun kembali bertanya.

Presiden : “Maksud, Bapak?!”

PYSHS : *berbisik* “Saya kasih tahu ya.. Pertama kali datang ke sini saya mengaku Soeharto.” *senyum*

:D

Kisah ini saya dengar dan sudah saya modifikasi sedemikian rupa. Tidak ada niatan untuk menyakiti. Tidak ada tujuan apa-apa kecuali agar lebih sedap untuk dinikmati. Semoga bermanfaat..

:D

Jalan-jalan…

Barusan, saya mbaca-mbaca blog lagi. Dari sebuah blog kemudian menjulur ke blog lain yang bertautan di situ. Sekadar untuk melepas penat karena beberapa pekerjaan.

Seru. Juga bikin saya ngiri. Bener! Isinya tentang rekaman (baca: catatan) perjalanan sang pemilik blog. Mereka seperti burung yang bebas terbang ke sana ke mari. Menikmati (sepertinya sich..) indahnya tempat-tempat di penjuru Indonesia.

Saya juga seorang petualang. Petualang yang sangat menikmati detil setiap tempat yang menjadi tujuan wisata. Dengan cara saya sendiri: berpisah dari kerumunan. Ini sangat mengasyikkan. Satu lagi, menyalurkan egoisme. Hahaaha… Saya pengen menikmatinya sendirian. Itulah sebabnya mengapa saat piknik saya selalu “menghilang”. :) Karena hal itu pula, saya tidak pernah bosan berkunjung ke tempat wisata yang sama lebih dari sekali. Selalu ada yang menarik perhatian saya setiap kali berkunjung.

Wah, jadi kepengen liburan nich…