Imaginer. Begitu komentar seorang ustadz kepada saya.
Memang benar apa yang dikatakan ustadz itu tentang saya. Imajinasi saya ini, kalo boleh dikategorikan, termasuk ke dalam aliran sesat. Maksudnya, aneh. Tidak wajar. Nyempal. Pokoknya nyeleneh.
Entah dari mana saya mendapatkan kebiasaan ini. Mungkin, karena saya senang menonton film kartun. Tom & Jerry. Donald Duck. Goofy. Atau, mungkin film animasi lain yang mengundang tawa karena memang ceritanya aneh. Saya tidak tahu..
Yang saya tahu kebiasaan saya ini adalah hal yang tidak baik. Menyesatkan. Dan, yang lebih parah, ternyata sifat ini bisa menular. Bener. Ini terbukti pada kawan-kawan yang sering berada di dekat saya ikut-ikutan [berimajinasi nyeleneh]. Atau, jangan-jangan saya yang ketularan ya?! Efek domino kah?!
Kembali ke imaginer. Komentar ustadz tadi sebenarnya bukan tanpa sebab. Beliau berkata demikian karena mendapati saya senyum-senyum seorang diri, ketika dalam pengajian. [Waktu itu beliau menceritakan bagaimana seorang ulama memanfaatkan waktunya.] Padahal jama’ah yang diam. Entah, mereka ngantuk atau karena mereka masih “normal”.
Jadi begini, dikisahkan oleh ustadz, “Bahwa para ulama terdahulu itu sangat berhati-hati dalam memanfaatkan waktunya. Sampai-sampai ketika dalam perjalanan pun mereka memanfaatkan waktunya dengan baik. Imam Tirmidzi, contohnya. Beliau memanfaatkan waktunya untuk menulis. Jadi, beliau ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika safar [bepergian].”
*saya mulai senyum-senyum*
Ustadz itu memandang ke arah saya. Lalu, saya pun menunduk karena malu.
Lalu dimana nyelenehnya???
Nah, begini.. Saat ustadz itu berkata, “Jadi, beliau ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika safar”, oleh otak saya informasi ini diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sesuatu di luar dugaan.
Otak kiri saya mengatakan, menulis di atas kertas berarti menulisi kertas. Menulis di atas kendaraan berarti menulisi kendaraan.
Bayangan saya, kendaraan para ulama dulu kan onta. Terbayang dalam imajinasi saya bagaimana kondisi onta beliau ini. Pasti tubuhnya penuh dengan tulisan. Di badannya ada tulisannya. Dikuping ada tulisannya.Di kakinya ada tulisannya. Di kepalanya ada tulisannya. Di ekornya juga. Semacam tatto-lah. Wong, beliau [Imam Tirmidzi] ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika bepergian. Dan, beliau ini sering bepergian. Ulama gitu loh..!
Otak saya melengkapi imajinasi yang aneh itu dengan pertanyaan: Trus, kira-kira bagaimana ya caranya menulis di atas kendaraan [onta] itu? Sambil berjalan pula.
Ah, sudahlah, tidak perlu dibahas.. nanti malah Anda semua ikut-ikutan tersesat dalam imajinasi saya.
Dan, ketika imajinasi ini saya ceritakan ke ustadz tadi, sebagai pertanggungjawaban saya karena senyum-senyum sendiri di majelis beliau, hasilnya: Ente itu imaginer.