Cara saya..

Saya punya cara memahami sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan orang. Sering. Terlalu sering malah. Sehingga tak jarang saya ketawa-ketiwi sendiri.

Ada banyak hal yang menurut orang kebanyakan itu biasa-biasa saja. Tapi, bagi saya itu hal yang luar biasa.

Seperti gambar berikut ini:

Foto002

Gambar ini saya ambil ketika saya berada di kamar mandi sebuah instansi. Biasa kan?! Ga ada yang lucu memang. Begitulah…

Tapi, saya ketawa-ketiwi. Setelah sebelumnya mengalami ketakutan. Kok bisa?! Ya bisa lah. Saya gitu lohhh…. Okelah saya jelaskan sedikit. Sedikit aja yach..

Saya yakin, yang membuat dan memasang tulisan itu berharap agar apabila ada orang yang kencing di kamar mandi itu membersihkan air seni dengan cara menyiramnya. Sampai bersih. Tetapi, saat tulisan itu saya yang baca: saya shock!

Soalnya saya membacanya saat kencing. Andai saja sebelumnya mungkin kejadiannya akan lain. Bisa jadi, saya mencari kamar mandi yang lain. Lho kok? Ya iyalah, saya merasa terancam. Siapa yang mau coba, kalo sehabis kencing tahu-tahu disiram. Ngga ada yang mau kan?!

HABIS KENCING DISIRAM

Serem kan?! Atau, jangan-jangan tulisan itu memang dibuat agar tidak ada orang yang kencing di situ ya?! Kalo nekad, disiram. Gitu. Anehnya, siang itu tidak ada orang yang berjaga di situ untuk menyiram orang yang kencing di kamar mandi itu. Hmmm…

Ah, entah lah…

*kerja lagi..

Imajinasi..

“Imajinasi itu lebih penting daripada ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan sifatnya terbatas sementara imajinasi melingkupi seluruh dunia.”

Tahu kan, siapa yang menyampaikan ucapan itu? Hah, gak ngerti?! Waduh, gimana ini.. Udah 2011 lho! (Trus, apa hubungannya coba?!) :

Adalah Albert Einsten, orang yang mengucapkannya. Tentang maksud dari perkataannya saya yakin Bro n Sist udah faham. Intinya, bahwa imajinasi itu luar biasa! Imajinasi telah mendahului pengetahuan beberapa langkah. Dan, sepertinya imajinasi menjadi inspirasi bagi para ilmuwan dalam menciptakan sesuatu. Misalnya, robot.

Ngomong-ngomong tentang imajinasi sebenarnya saya juga punya. Tapi… Imajinasi saya termasuk aliran sesat. Saya berdoa semoga hal ini tidak menular. Hmm.. begini maksud saya. Saya sering kali berbeda dalam memahami persoalan. Sebetulnya untuk hal-hal yang sifatnya ambigu saja. Contohnya, ada di tulisan saya yang ini.

Dan, kali ini saya akan bercerita tentang kesesatan saya yang lain. Bersiaplah..!! (halah!)

Menurut Bro n Sist, lomba apakah yang paling aneh? Mancing? Mendaki? Lomba makan? Lomba masak? Lomba adu kuat? Atau…. apa?

Kalo saya? Lomba yang paling aneh adalah lomba mewarnai anak. Lho? Kok bisa?! Nah, itu dia. Dalam bayangan kebanyakan orang, ini adalah lomba memberi warna pada gambar yang diikuti seorang anak. Biasanya dengan batas usia tertentu. Tetapi beda dalam imajinasi saya. Menurut saya yang menjadi peserta adalah orangtua si anak. Hah?! Iya. Jadi begini. Ini adalah lomba mewarnai anak. Jadi, di situ ada orangtua-orangtua berkumpul sambil membawa peralatan lomba mewarnai. Objek yang diwarnai adalah anak mereka sendiri-sendiri. Jadi, di akhir lomba akan didapati anak-anak kecil penuh warna berdiri di depan podium menunggu penilaian dewan juri. Saya membayangkan akan ada anak usia 5 tahun tubuhnya berwarna pelangi. Atau, ya minimal seperti yang di film Avatar lah. Apa? Belum nonton?! Capek deh…

Dan tahukah Bro n Sist, saat tadi saya iseng-iseng googling ternyata ada lomba yang setingkat lebih aneh. Ini dia:

lomba mewarnai2

No comment dech! peace

Gambar diambil dari sini.

Kenapa coba?

Saya ingin bertanya, mohon dibantu dengan menjawab..

Sebenarnya, berapa usia google?

Apakah hal ini penting? Bagi saya, iya. Beberapa orang menyebut di halaman blog-nya atau di dalam sms-nya sebagai mbah. Mbah Gugel. Atau, jangan-jangan ada kriteria lain selain usia sehingga seseorang atau sesuatu disebut mbah.

Tolong dibantu ya… (logat pak Tarno)

Potong Rambut

Kemarin sore saya potong rambut. Hal ini terpaksa saya lakukan karena saya berniat tidak akan memanjangkan rambut seperti dulu lagi. Kapok. Gara-gara memanjangkan rambut saya dituduh sebagai istri orang. Gara-gara rambut gondrong juga saya mendapat sebutan baru: Mbak. Hadoh… Sejak itulah, saya membulatkan tekad untuk tidak gondrong lagi. Makanya, sore ini saya mendatangi tempat potong rambut. Madura, coy

Kenapa ke Potong Rambut Madura [PRM]? Karena mereka terkenal. Sebenarnya sich, sesekali saya pengen potong rambut di POTONG RAMBUT JAWA, tapi sayangnya saya tidak menemukannya.

Kenapa Jawa? Pertanyaan yang bagus. ;)

Begini, saya cukup sering memotong rambut di PRM. Di PRM rata-rata ada 2 sampai 5 tukang potong rambut. Yang berasal dari Madura, tentunya. Saat memotong rambut mereka sering sekali mengobrol dengan sesama tukang potong yang lain. Pake bahasa Madura pula! Ini membuat saya tidak nyaman. Saya seperti tidak sedang di Bumi. Saya tidak faham apa yang mereka omongkan. Bisa jadi mereka sedang menggunjing saya. Atau, sedang mentertawakan gaya rambut saya yang minimalis. Ya kan?! Meski begitu, saya memilih untuk berpikir positif. Karena dengan begitu saya tidak merasa sedang menjadi tikus percobaan. Dan, bila sedang berpikir positif saya suka senyum-senyum sendiri.

Mau tahu cara saya berpikir positif? Check it out! ;)

Percakapan antara 2 orang tukang potong rambut di PRM.

Madura 1 : &$^$(@$^ $*@^*^$@*^$@^%#&$^$?

Madura 2 : &^%(%7 (&%* ….

Madura 1 : &(*$^$%(&^@%%!! &5697?

Madura 2 : &*%%*^%^^&%#)^*& *%@(* ^%&%^ …. &68?

Madura 1 : &%(@&8? (%^(^$%@&^) % ^&%^%@$@%)*…

Madura 2 : &^(%(@$^(*%&^^.. &$^$(@$^ $ ^$@^%#&$^

Madura 1 : &%)%&^% ^^ @$%&$*…??

Madura 2 : *&%)7!!

Madura 1 & 2 : [tertawa]

Terjemahannya [versi saya]

Madura 1 : Siapa yang sedang kau potong rambutnya itu?

Madura 2 : Gag tahu….

Madura 1 : Sepertinya sering ke sini ya?

Madura 2 : Iya sich. Kayaknya 2 bulan yang lalu juga ke sini.…. kenapa?

Madura 1 : Kayak artis ya? Udah gitu orangnya ramah. Pasti banyak yang naksir..

Madura 2 : Masak iya sich.. Tapi menurut dia saya gag ganteng.

Madura 1 : Gag ganteng. Trus menurut loh…??

Madura 2 : Ganteng banget!!

Madura 1 & 2 : [tertawa]

Pembaca dimohon untuk tidak mengajukan protes. Ini sekadar usaha menghibur diri sambil nunggu pemotongan rambut selesai. Biasanya sich cepet. Karena saya suka memotong rambut dengan gaya rata. Biar adil. Jadi, setiap rambut disisain 1 senti. :)

Imaginer

Imaginer. Begitu komentar seorang ustadz kepada saya.

Memang benar apa yang dikatakan ustadz itu tentang saya. Imajinasi saya ini, kalo boleh dikategorikan, termasuk ke dalam aliran sesat. Maksudnya, aneh. Tidak wajar. Nyempal. Pokoknya nyeleneh.

Entah dari mana saya mendapatkan kebiasaan ini. Mungkin, karena saya senang menonton film kartun. Tom & Jerry. Donald Duck. Goofy. Atau, mungkin film animasi lain yang mengundang tawa karena memang ceritanya aneh. Saya tidak tahu..

Yang saya tahu kebiasaan saya ini adalah hal yang tidak baik. Menyesatkan. Dan, yang lebih parah, ternyata sifat ini bisa menular. Bener. Ini terbukti pada kawan-kawan yang sering berada di dekat saya ikut-ikutan [berimajinasi nyeleneh]. Atau, jangan-jangan saya yang ketularan ya?! Efek domino kah?!

Kembali ke imaginer. Komentar ustadz tadi sebenarnya bukan tanpa sebab. Beliau berkata demikian karena mendapati saya senyum-senyum seorang diri, ketika dalam pengajian. [Waktu itu beliau menceritakan bagaimana seorang ulama memanfaatkan waktunya.] Padahal jama’ah yang diam. Entah, mereka ngantuk atau karena mereka masih “normal”.

Jadi begini, dikisahkan oleh ustadz, “Bahwa para ulama terdahulu itu sangat berhati-hati dalam memanfaatkan waktunya. Sampai-sampai ketika dalam perjalanan pun mereka memanfaatkan waktunya dengan baik. Imam Tirmidzi, contohnya. Beliau memanfaatkan waktunya untuk menulis. Jadi, beliau ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika safar [bepergian].”

*saya mulai senyum-senyum*

Ustadz itu memandang ke arah saya. Lalu, saya pun menunduk karena malu.

Lalu dimana nyelenehnya???

Nah, begini.. Saat ustadz itu berkata, “Jadi, beliau ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika safar”, oleh otak saya informasi ini diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sesuatu di luar dugaan.

Otak kiri saya mengatakan, menulis di atas kertas berarti menulisi kertas. Menulis di atas kendaraan berarti menulisi kendaraan.

Bayangan saya, kendaraan para ulama dulu kan onta. Terbayang dalam imajinasi saya bagaimana kondisi onta beliau ini. Pasti tubuhnya penuh dengan tulisan. Di badannya ada tulisannya. Dikuping ada tulisannya.Di kakinya ada tulisannya. Di kepalanya ada tulisannya. Di ekornya juga. Semacam tatto-lah. Wong, beliau [Imam Tirmidzi] ini sudah biasa menulis di atas kendaraan ketika bepergian. Dan, beliau ini sering bepergian. Ulama gitu loh..!

Otak saya melengkapi imajinasi yang aneh itu dengan pertanyaan: Trus, kira-kira bagaimana ya caranya menulis di atas kendaraan [onta] itu? Sambil berjalan pula.

Ah, sudahlah, tidak perlu dibahas.. nanti malah Anda semua ikut-ikutan tersesat dalam imajinasi saya. :D

Dan, ketika imajinasi ini saya ceritakan ke ustadz tadi, sebagai pertanggungjawaban saya karena senyum-senyum sendiri di majelis beliau, hasilnya: Ente itu imaginer.