Bojonegoro. Nama kota itu masih saja menyisakan pertanyan di benak saya. Apa iya Bojonegoro berasal dari “Bojo” (jawa; pasangan suami/istri) dan “Negoro” (jawa; negara)? Meski berhasil membuat penasaran tapi bukan hal itu yang membuat saya mengingat kota ini. Ada sesuatu yang lebih dahsyat. Ia menebar ancaman kepada siapa saja yang lalai. Serem. Mematikan (kayaknya sih..). Datang tak diundang, pulang tak ada yang tahu. Ia tak mengenal ampun. Orang-orang menyebutnya Jingklonk.
Anda sudah mengenalnya? Jika belum, Anda harus mengenalnya. Bukan apa-apa. Untuk jaga-jaga saja. Siapa tahu suatu saat nanti Anda ketemu. Ya kan?!
Sebenarnya makhluk ini tak seberapa besar. Tapi klo menggigit rasa gatalnya ga hilang-hilang. Penasaran? Jingklonk itu nyamuk. Iya, nyamuk. Mungkin masih kerabat dekat dengan nyamuk yang biasa berkeliaran di rumah kita. Hanya saja dia punya nilai lebih. Lebih gedhe. Lebih gatal. Lebih nekat. Bagaimana tidak, wong teman satu rombongan saya yang sudah bersedia, siap, grak!, untuk menangkis datangnya serangan masih tetep juga jadi korban.
Begini ceritanya. Sebagaimana kita hendak beranjak tidur maka kita mempersiapkan selimut dan aksesoris lainnya. Begitu pun ia. Dengan sarung ia menutup kakinya rapat-rapat. Tangannya juga rapet. Berharap, klo si Jingklonk datang maka jingklonk itu akan hilang mood trus ngacir pergi… Merasa sudah dilengkapi keamanan tingkat tinggi teman satu rombongan saya itu pun bergegas tidur. Memang terlihat nyenyak sekali. Strateginya berhasil. Pikir saya.
Ternyata, apa yang saya lihat tadi malam keliru. Paginya ia bercerita klo wajahnya terasa menebal. Saya tersenyum mendengar seritanya. Rupanya, semalam si Jingklonk menyerang wajahnya dengan membabi buta. Duh!
Tak dapat kaki, wajah disikat.
antum ga kena? ga dpt oleh2 dong (dari jingklonk, hehe)?
@ arifromdhoni
Kena sih (kayaknya..). Tapi sengaja ga dimuat di cerita.