Feeds:
Posts
Comments

Islamic Book Fair

Lagi crowded. Siap-siap untuk acara Islamic Book Fair besok pagi di Jogja. Sambil nunggu ceck list ng-Blog dulu..

Oh iya, acaranya di Gedung Wanitatama. Dari tanggal 12 – 18 November 2009. Dateng ya! ;) Kalo Anda beruntung, bisa ketemu saya si Stand WAFA Press.

Huuffhh..

Menyelenggarakan dua event sekaligus di waktu yang sama lumayan menguras tenaga. Yang satu bisnis oriented, yang satu dakwah oriented. Dua-duanya memerlukan perhatian yang sama. Konsekuensi logisnya, saya harus meluangkan lebih banyak waktu. Termasuk untuk ng-Blog. Yang lebih parah, saya jadi sering telat ngantor. Pak Boss, maap ya… :D

Peristiwa pagi

Pagi itu udara terasa sejuk. Matahari belum tinggi. Burung-burung kecil terbang berkejaran menuju ke arah timur. Orang-orang mulai terlihat sibuk dengan aktifitas paginya. Pun begitu, aku.

Setelah mengantri di POM bensin aku segera memacu motor. Mengambil arah ke utara. Ke rumah seorang sahabat. Akh Kelik. Pagi ini aku dan Akh Candra berjanji bertemu di rumahnya jam 6.

Meski sudah memacu motor aku tak bisa sampai tepat jam 6. Antrian di POM bensin terpaksa jadi kambing hitam. Kira-kira, 23 menit aku terlambat. Senyum yang nampak di wajah tuan rumah menjadi tanda bahwa keterlambatanku tidak jadi masalah.

Segera, seorang laki-laki mengajakku masuk. Lalu aku dibawa ke sebuah meja yang berisi teh hangat dan makanan ringan yang tertata rapi dalam tak-takan dari kertas. Kuambil satu. Tak lupa segelas teh manis ku bawa serta. Lalu aku bergabung bersama Akh Candra yang datang lebih awal. Lalu, bisa ditebak, kami bercanda sambil menikmati makanan yang kami bawa.

Belum habis makanan ringan kami disodori sarapan. Yah, resiko datang terlambat, harus berhadapan dengan beberapa menu bersamaan. Tak apa lah.. itung-itung, tadi juga belum sempat sarapan.

Selesai sarapan aku, Akh Candra dan beberapa tetangga dan kerabat dikumpulkan. Tuan rumah memberikan sambutan pendek. Isi sambutan itu diantaranya: aku dan Akh Candra akan menemani Akh Kelik menuju ke Solo mengendarai mobil sedan warna putih. Pak Lurah, sang pemilik mobil menjadi pengemudi. Dan ada istri beliau di sampingnya.

Kami berlima membelah jalan Jatinom – Karanganom saat matahari mulai beranjak tinggi. Di kursi belakang Akh Kelik mengingatkan bahwa rombongan diminta sampai ke tujuan pukul 8. Tak jadi soal, kita masih punya waktu 45 menit untuk sampai tujuan. Cukup, insyaAllah! Aku dan Akh Candra mencoba meredam ketegangan yang dirasakan Akh Kelik. Lagi-lagi kami bercanda.

Tak butuh waktu lama kami sudah berada di jalan Solo – Jogja. Kira-kira 20 menit berselang kami sudah berada di bangjo Kartosuro. Kami berbelok ke kanan. Alhamdulillah, setengah perjalanan sudah kami tempuh. Tinggal setengah lagi. Dari guratan wajahnya akh Kelik terlihat semakin tegang saja. Kami terus meluncur…

Kesal dan sedikit kecewa terlihat di wajah pak Lurah ketika kami sampai di jalan Veteran. Rombongan sepeda santai yang disponsori sebuah produk obat jamur kulit  itu membuat jalanan macet. Tanpa pikir panjang pak lurah mengambil keputusan. Memutar: cari jalan lain.

Di tengah kemacetan bukanlah hal yang mudah membalikkan arah mobil. Namun, hal itu tidak berlaku bagi pak Lurah. Beliau nampak mahir. Sesekali beliau menekan klakson agak lama. Berharap kendaraan dari jalur yang berlawanan memberi ruang. Huffhh… akhirnya: Sukses! 5 menit kemudian kami sudah menyusuri daerah Tipes. MAKRO terlihat di sisi kiri kami. Tujuan semakin dekat. Sedekat satu degup jantung akh Kelik dengan degup jantung yang kemudian. Ia merasa perjalanan kali ini lebih cepat dari biasanya. Maklum, grogi!

Kami berbelok kiri pada gang pertama setelah pertigaan yang ada patung pejuangnya. Alhamdulillah, kami sampai ke tujuan. Senyuman menghiasi wajah orang-orang yang menyambut kedatangan kami.

Kami beristirahat sejenak. Kira-kira pukul 08.30 acara dimulai. Seserahan. Dilanjutkan acara pokok: Ijab – Qabul.

Selembar kertas diterima akh Kelik sebagai contekan. Ini gambarnya:

qobiltu

Setelah semua selesai aku menjabatnya. Memberi pelukan persahabatan lalu aku ucapkan: Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair!

Keluarlah.
Tengoklah dari depan rumahmu.
Lampu di rumahku masih menyala.
Aku menunggu keputusanmu.

Keluarlah.
Jangan berlama kau di situ.
Aku tahu kau juga menunggu.
Keputusan di tanganmu.

Keluarlah.
Biarkan aku beri kau mantra-mantra.
Agar tak ada lagi duka kau rasa.
Agar sedih itu tak bersisa.

Keluarlah.
Sebentar lagi lampu di rumahku mati.
Artinya kesempatan untukmu tak akan ada lagi.
Sebentar setelahnya masing-masing kita akan mati.

Keluarlah.
Aku menunggu keputusanmu!

‘Dokter’ berkata..

‘Dokter’ berkata,

“Kamu kecapekan mas. Harus banyak istirahat. Kurangi kegiatannya. Jangan keluar malam dulu. Hati-hati, jangan telat makan ya..”

Kejatuhan cicak adalah kejadian yang ditakuti oleh orang (jawa khususnya) kebanyakan. Ada sebuah keyakinan bahwa barang siapa kejatuhan cicak maka ia akan mendapati kesialan. Duh..!

Ada juga keyakinan kalau ada ayam berkokok di tengah malam maka itu pertanda bahwa ada orang yang hamil di luar. Apa iya begitu?!

Ada lagi yang cukup membuat saya terkejut, yakni adanya sebuah keyakinan bahwa ada orang yang sakit-sakitan dikarenakan tidak kuat menyandang nama. Aneh.

Agaknya beberapa keyakinan di atas sudah terlanjur menjadi “keyakinan bersama” di masyarakat kita. Tabu, begitu kira-kira pendapat masyarakat kalau ada orang yang mencoba membahasnya. Sehingga untuk mencari kebenaran dari hal-hal itu adalah sesuatu yang cukup rumit. Tetapi, saya termasuk orang yang beruntung. Saya menemukan sebuah buku yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tentang cicak. Tentang ayam. Tentang nama. Bahkan, buku ini memberi jawaban tentang permasalahan yang makin sering kita temui baru-baru di beberapa media kita, yakni tentang ajaran nabi melalui mimpi. Bagaimana keterangan tentang hal itu? Anda bisa temukan jawabannya di buku BID’AH & KHURAFAT DI INDONESIA. Sebuah buku terbitan WAFA Press setebal 196 halaman, yang ditulis oleh Ustadz Abu Umar Abdillah ini akan menjawab penasaran Anda tentang hal-hal yang tadi saya sebutkan. Tidak hanya itu, buku ini membahas banyak hal ganjil yang terlajur berkembang di masyarakat kita. Jika Anda berminat silakan hubungi ke nomor 081.329.399.179 (pemasaran penerbit WAFA Press). Ini dia cover depan bukunya:

Bid'ah.&.Khurafat

Berbagi Tips

smartApakah Anda pengguna handphone D1200P, C700 atau ZTE C261, sebagai modem? Jika ya, saya ingin berbagi tips.

Sinyal smart tidak merata satu tempat dengan tempat yang lain. Itulah sebabnya hasil koneksi internet ada yang cepat ada yang lambat. Anda yang terlanjur beli dan ternyata koneksi internet di tempat Anda kurang bagus tidak perlu panik. Apalagi buru-buru mengumumkan untuk menjual handphone itu dengan harga yang lebih murah dari harga Anda beli. Sabar! Ada beberapa hal yang bisa kita coba.

Pertama, kita otak-atik dulu OS Windows (bagi pengguna Windows).

Klik start menu > run lalu ketik gpedit.msc

Pada bagian computer configuration > administrative template > pilih Network.

Pada Qos packet scheduler > Double Klik pada Limit Reservable Bandwith. Klik Enabled reservable bandwith. Ubah settingannya ke 0 (nol)% lalu Apply dan OK.

Begitu saran mas Ikrar.

Yang kedua, kita ubah settingan Connections Smart. (Kalo yang ini saya belum nyoba!)

Settingan Connections Smart Bukan cuma menggunakan user dan password : smart dial up ke *777 tapi bisa juga menggunakan :
user dan password : wap – dial up : 222
user dan password : cdma – dial up : *777#
dial up juga bisa ke : *99# atau *31*11111#
coba-coba aja mana yang lebih cepat dikombinasiin antara user/password dengan dial up mana aja juga bisa kok.

Masih saran mas Ikrar.

Yang ketiga, kita coba menggunakan hardware tambahan. Wajanholic. Apa itu?! Bagaimana menggunakannya? Penasaran?! Baca selengkapnya di sini.

Semoga bermanfaat. ;)

Wong Fei Hung

Wong Fei HungAnda mungkin sudah sering mendengar nama Wong Fei Hung. Ya, ia adalah tokoh sentral dalam film Once upon time in china yang diperankan oleh Jet Li. Tetapi, tahukah Anda bahwa Wong Fei Hung adalah kisah nyata? Ini saya kutipkan sebuah tulisan tentang Wong Fei Hung.

- – -

- – -

Wong Fei Hung (Faisal Hussein Wong) Adalah Muslim (Ulama)

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Sumber: kaskus.us

Kutipan ini saya ambil dari sini.

Ng-review buku..

“…Isinya? Wah, yang ini saya belum tahu. Sabar yach?! Nanti saya ceritain. (insyaAlloh..).”

Begitu kutipan tulisan saya yang dulu. Janji tetaplah janji. Saya akan mengulas sedikit buku tersebut. OK, kita mulai!

Pertama, dari tampilannya, buku ini biasa saja. Sama seperti kebanyakan buku ‘dodol’ lainnya. Standard. Hal yang membuat buku ini terlihat menarik adalah sinopsisnya. Saya termasuk orang yang memutuskan beli buku ini setelah membaca sinopsisnya. Berarti memang ampuh tuh yang membuat sinopsis. Eh, bukan sinopsis ding! Testimoni. Eh, bener ngga ya testimoni namanya? Pokoknya  komentar seseorang di cover belakang itu lho. Yang kira-kira bunyinya “Novel ini…” “Baca buku ini….” Trus, di akhir tulisan dikasih keterangan nama yang komentar. gitu..

Lanjut…!!

Yang kedua tentang penulis. Saya tanya si-mbah (begitu beberapa blogger menyebutnya), beliau juga ngga tahu. Yang ketemu cuma katalog buku. Duh! :( Si Mbah aja ngga tahu, apalagi saya..

Trus, tentang isi. Nah, ini yang bikin saya sedikit kecewa beli buku ini. Sebagai sebuah buku (novel) humor, buku ini terlalu bertele-tele. Ga to the point lucunya. Mungkin, karena tuntutan dari penerbit kali ya.. :D (nebak sich!). Dari beberapa “buku dodol” yang pernah saya baca, buku ini yang paling lambat membuat saya tertawa. Ngga tahu, apa saya yang lemah imajinasinya atau buku ini emang kurang nggigit. (Tapi kalo beneran nggigit akan saya masukin kandang.. Hahahaa.. :D Kidding!)

Nah sodara-sodara, dari kejadian ini semoga kita bisa mengambil hikmah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita ketabahan. Jadikanlah ini renungan bagi kita. Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar. (Lho?! ) Maksud saya, mari belajar dari kejadian ini. Jangan membeli buku hanya karena testimoni(cover)nya.. (Jauh di negeri sana, ada orang ngomong: Don’t judge a book by it’s cover!) Manstab…!! ;)

NB: baca juga yang ini.

Jadual olah raga

Pagi ini jadualnya olah raga. Biar badan segar dan bugar. Bakalan tambah semangat karena hari ini ada tantangan: mengalahkan sang juara bertahan.

“Mens sana in corpore sano.”

Older Posts »